? ??????????????????? ????Easy Install Instructions:???1. Copy the Code??2. Log in to your Blogger account
and go to "Manage Layout" from the Blogger Dashboard??3. Click on the "Edit HTML" tab.??4. Delete the code already in the "Edit Template" box and paste the new code in.??5. Click BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS ?

Thursday, September 4, 2008

DALAM MIHRAB CINTA

Dalam
Mihrab
Cinta
HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY


eBook by MR.
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Dalam Mihrab Cinta/ Habiburrahman EI Shirazy
Jakarta, Penerbit Republika
halaman 20,5 x 13,5 cm
Dalam Mihrab Cinta 813
ISBN :

Diterbitkan oleh:
Penerbit:
1. Penerbit Republika
Jl. Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan
Telp. (021) 7892845. Fax. (021) 7892842
Anggota IKAPI DKI Jakarta
2. Pesantren Basmala Indonesia
Jl. Raya Patemon No. 18.A Gunungpati,
Semarang, Jawa Tengah. Telp.: (024) 703.41.703
Email: basmala_indo@yahoo.com
Hak Cipta © Habiburrahman El Shirazy (Hak Cipta dilindungi Undang-
Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2002 Pasal 72)
Cetakan ke-1, Juni 2007
Cetakan ke-2, Juni 2007
Cetakan ke-3, Juni 2007
Cetakan ke-4, Juli 2007

Penulis
Editor
Proof Reader
Desain Sampul dan 1st
Percetakan
Habiburrahman El Shirazy
Anif Sirsaeba, MBQ.
Lord Ahmad, Muhammad Kasmijan
Abdul Basith El Qudsy
Tamaprinter Indonesia

OPTIMALISASI DAN EFEKTIVITAS MEMBACA
Jenis huruf/fontase, ukuran, lebar kolom, dan spasi
baris yang dipakai dalam buku ini telah melalui
serangkaian penelitian panjang, dan terbukti paling
efektif untuk kecepatan/optimalisasi membaca dan
memahami, dan efektif bagi semua usia: tua-muda.
Tentang Penulis
HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY adalah sarjana
Al Azhar University Cairo. Founder dan Pengasuh Utama
Pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDONESIA,
yang berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah.
la dikenal secara nasional sebagai dai, novelis, dan
penyair. Beberapa penghargaan bergengsi berhasil
diraihnya, antara lain, Pena Award 2005, The Most
Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 2006. Tak
jarang ia diundang untuk berbicara di forum-forum
nasional maupun internasional, baik dalam kapasitasnya
sebagai dai, novelis, maupun penyair. Seperti di Cairo,
Kuala Lumpur, Hongkong, dan Iain-lain. Karya-karyanya
selalu dinanti khalayak karena dinilai membangun jiwa
dan menumbuhkan semangat berprestasi.
Di antara karya-karyanya yang telah beredar di
pasar adalah Ayat Ayat Cinta (novel fenomenal yang akan
dilayarlebarkan, 2004), Pudarnya Pesona Cleopatra
(novelet, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (kumpulan kisah
teladan yang telah disinetronkan di Trans TV, 2004),
Ketika Cinta Berbuah Surga (kumpulan kisah teladan,
2005), Ketika Cinta Bertasbih (novel fenomenal yang
belum genap sebulan beredar telah terjual 30.000
eksemplar, 2007). Karyanya yang siap dirampungkan:
Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata
Bening dan Bulan Madu di Yerusalem.


Sekapur Sirih

dari Penulis
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bismillaah, alhamdulillaah, wash shalaatu wassalaamu
'ala rasuulillaah!
Dalam hidup ini tak ada yang lebih saya cintai dari
Allah dan Rasul-Nya. Lakal hamdu wasy syukru ya
Rabb. Duhai Tuhanku, kepada-Mu hamba bersimpuh,
hamba sangat bersyukur telah Engkau anugerahi rasa
cinta yang indah ini.
Rasa cinta yang indah inilah yang membuat saya
merasa hidup ini—dengan segala suka dan dukanya—
terasa indah.
Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan
mencintai saya dengan segala nikmat yang telah diberikan
kepada saya. Nikmat yang saya sadari maupun yang
tidak saya sadari. Selain nikmat rasa cinta kepada Allah
dan Rasul-Nya, nikmat yang rasakan sangat agung
adalah nikmat indahnya mengenal Islam. Islam, yang
ruhnya adalah ruh cinta kepada semesta alam.

Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan
mencintai saya dengan segala anugerah yang telah
diberikan kepada saya. Di antara anugerah yang
membuat saya merasa begitu disayang Allah adalah
anugerah suka membaca dan menulis. Dengan banyak
membaca saya semakin mengenal Allah, semakin
mengenal Rasul-Nya, semakin mengenal sifat dan jati
diri orang-orang besar yang saleh dan mulia.
Dengan membaca saya merasakan bisa melipat
ruang dan waktu. Saya bisa merasakan hidup di pelbagai
tempat dan saat. Saya bisa menghayati pelbagai macam
perasaan jiwa. Saya bisa merasakan ketulusan Abu Bakar
saat menemani hijrah Baginda Rasul. Saya bisa
merasakan dahsyatnya doa Baginda Nabi saat berdoa
sambil menangis menjelang Perang Badar. Saya bisa
merasakan kesedihan kota Madinah saat Rasulullah
wafat. Saya bisa merasakan rasa pilu tiada tara saat
Sayyidina Husein, cucu Rasulullah Saw. dibantai di
Karbala. Saya bisa merasakan semangat Imam Bukhari
saat bertahun-tahun mengembara mengumpulkan hadishadis
sahih. Saya bisa merasakan kobaran keberanian
tiada tara saat mendengarkan pidato Thariq bin Ziyad
saat membakar kapal-kapal tentaranya begitu menginjak
tanah Andalusia.
Dengan membaca saya bisa merasakan indahnya
musim semi di Istana Al Hamra. Saya bisa merasakan
dahsyatnya rasa rindu Majnun pada Laela. Saya bisa
mencium aroma darah yang menggenang di Kota
Baghdad karena pembantaian yang dilakukan oleh
Tentara Tartar. Saya juga merasakan aroma yang sama

ketika Amerika melakukan pembantaian yang sama di
Baghdad. Saya bisa merasakan perasaan hancur seorang
ayah di Palestina yang anak kesayangannya ditembak
mati di pangkuannya oleh Tentara Israel, seperti yang
dialami ayah Muhammad Al Dorrah. Saya bisa merasakan
ketegangan hidup bergelut dengan laut dan ikan hiu
sendirian berhari-hari dan bermalam-malam seperti yang
dialami Pak Tua dalam The Old Man and The Sea. Saya
bisa merasakan rasa patriot tiada tara yang dirasakan
oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamirkan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca.
Masih ada ribuan perasaan dan pengalaman dari
membaca yang tidak mungkin saya ceritakan di sini.
Inilah satu anugerah yang saya rasakan sangat indah,
saya rasakan betapa Tuhan sangat mencintai saya.
Dan dengan menulis saya merasakan kenikmatan
yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. Dengan
menulis saya bisa menciptakan perasaan saya sendiri.
Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih,
haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya bisa
mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan.
Dengan menulis saya bisa mengajak jiwa saya semangat
ketika sedang melemah. Saya bisa mengajak jiwa saya
optimis memandang terang cahaya ketika sedang merasa
sedih dan redup. Dengan menulis saya seolah bisa
mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit. Dan
dengan menulis saya merasa lebih berdaya. Saya merasa
menemukan ruang yang pas untuk mengajak diri sendiri
dan orang lain berusaha menjadi lebih baik dan berdaya.

Dan dengan menulis saya merasakan betapa Tuhan begitu
mencintai saya. Allahu akbar!
Kali ini saya menulis tiga novelet yang terkodifikasi
dalam tajuk Dalam Mihrab Cinta ini. Perlu sidang
pembaca ketahui bahwa sesungguhnya novelet Dalam
Mihrab Cinta ini ingin saya luncurkan bersamaan dengan
dwilogi Ketika Cinta Bertasbih 1. Namun karena alasan
marketing, akhirnya Penerbit Republika baru bisa
meluncurkannya sekarang. Tentu, setelah dwilogi Ketika
Cinta Bertasbih 1 menggelinding ke pasar. Padahal
sejatinya novelet Dalam Mihrab Cinta ini telah siap terbit
jauh sebelum dwilogi Ketika Cinta Bertasbih 1 tersebut.
Begitulah. Saya hanya bisa merencanakan, tapi hasilnya,
Allah jualah yang menentukan. Baiklah! Tiga novelet
yang saya maksud adalah sebagai berikut:
Novelet pertama berjudul "Takbir Cinta Zahrana".
Dalam novelet yang sebagian isinya saya angkat dari kisah
nyata ini saya mencoba menulis tentang indahnya
ketegaran dan ketulusan di jalan Allah. Saya juga mencoba
me-muhasabah-i tindakan orang seperti Zahrana yang
lebih lebih mementingkan karier akademik daripada karier
membangun rumah tangga dan membina generasi.
Akademik dan karier bagi siapa pun, memang penting,
tapi membangun rumah tangga dan membina generasi
juga tak kalah pentingnya. Alangkah baiknya jika keduaduanya
berjalan seiring seirama. Itulah yang saya
harapkan dari hasil me-muhasabah-i "Takbir Cinta
Zahrana", dengan menyajikan "kasus" Zahrana.
Novelet kedua berjudul "Dalam Mihrab Cinta".
Novelet ini adalah ringkasan atau petikan dari roman

"Dalam Mihrab Cinta" yang sedang saya siapkan.
Sengaja saya kenalkan setengah dari alurnya kepada
pembaca agar nanti lebih familiar dan lebih mantap
dalam membaca roman "Dalam Mihrab Cinta."
Meskipun berbentuk petikan atau ringkasan, namun
roman "Dalam Mihrab Cinta" ini insya Allah sudah
menyuguhkan jalinan cerita yang utuh. Dengan novelet
ini saya mencoba menguraikan pepatah yang sangat
terkenal di tanah Jawa yaitu, "Becik ketitik olo kethoro"
(kebaikan akan tampak dan kejahatan akan kelihatan).
Saya juga mencoba mengajak para generasi muda untuk
optimis menatap masa depan. Memang belum detil
dalam novelet ini. Karena sekali lagi, ini adalah
ringkasannya. Lebih detilnya insya Allah ada dalam novel
sesungguhnya yang masih dalam proses pematangan.
Novelet ketiga berjudul "Mahkota Cinta". Sesungguhnya,
novelet ketiga ini merupakan hasil riset kecil
saya terhadap beberapa kehidupan mahasiswa pascasarjana
Indonesia yang tengah menempuh studi di negeri
Jiran Malaysia, terutama di universitas tertuanya, yaitu
Universiti Malaya. Saya terketuk menyajikannya dalam
bentuk novelet karena banyak kisah menarik dari
perjalanan mereka yang bisa kita ambil hikmahnya.
Subhanallah!
Akhirnya, lazimnya sebuah "Sekapur Sirih", rasanya
tidak bijak kalau saya tidak mengucapkan terima kasih
kepada mereka yang berjasa bagi lahimya karya saya ini.
Pertama dengan rasa cinta mendalam saya sampaikan
rasa terima kasih kepada Ummi, ibu yang melahirkan,
merawat, mendidik dan mendoakan diriku setiap

saat. Juga kepada Bapak, yang selama ini memberikan
keteladanan untuk hidup bersahaja dan ikhlas berjuang
dijalan Allah.
Juga kepada isteriku tercinta Muyasarotun Sa'idah
yang sedemikian tulus menemani hidup ini dalam suka
dan duka. Terima kasih juga kepada buah hatiku:
Muhammad Neil Author, yang celoteh dan tawanya
sangat mengkayakan jiwa dan menyalakan api semangat
berkarya. Tak lupa kepada adik-adikku tercinta; Anif
Sirsaeba, Ahmad Mujib, Ali Imron, Faridarul Ulya dan
M. Ulinnuha. Mereka semua selalu menyemangati
kakaknya untuk terus menulis karya terbaik.
Juga terima kasih kepada Pak Ahmadun Y. Herfanda
yang sangat tulus memberikan masukan-masukan yang
sangat berguna bagi kemajuan saya menulis. Kepada Pak
Tommy, Pak Awod, Mbak Hanik, Mas Arif dan temanteman
di Republika. Kepada A. Basith El Qudsy, Sa'dullah,
Kasmijan dan santri-santri Basmala semuanya. Tak lupa
kepada Mbak Helvi, Mbak Asma, Mbak Intan, Mas Irfan,
Mas Gola Gong, Mas Ekky Mbak Dee, Mas Haekal, dan
segenap teman-teman seperjuangan di FLP Pusat.
Juga kepada siapa saja, yang dengan tulus telah
mendoakan saya dan mengapresiasi karya-karya saya.
Kepada mereka semua saya sampaikan jazakumullah
khairal jaza'. Wassalamu'alaikum.
Pesantren Basmala Semarang,
15 Januari-20 Mei 2007
Habiburrahman El Shirazy



Takbir Cinta Zahrana(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)

Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan
iman dalam dada ia mungkin telah memilih sirna dari
dunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan
orang-orang seusianya. Banyak yang memandangnya
sukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang
terhormat dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia
mampu meraih gelar master teknik dari sebuah institut
teknologi paling bergengsi di negeri ini. Dan kini ia
dipercaya duduk dalam jajaran pengajar tetap di
universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa
Tengah: Semarang.
Satu

Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan
penghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di
kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan
dicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh
keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan
seusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya.
Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang
kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa
sejatinya ia sangat menderita.
Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali
bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia
menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir
sebagai perawan tua yang belum juga menemukan
jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria.
Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan
sikap tenangnya.
Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa
tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa
tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian
mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu
mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh
Gugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe
lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi
pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya
banyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga
punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali
bertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka.
Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung
menikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB
Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si
Yuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kios
pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa
ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah
pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknya
Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu yang
lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah dengan
seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak.
Dan sekarang telah membuka SDIT di Sleman. Apa
sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga
cepat dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses.
Ia meneteskan airmata.
Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya ia
tolak tanpa pertimbangan. Dan kini mutiara itu tidak
lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagi
tersedia untuknya. Hanya bebatuan dan sampah yang
kini banyak datang dan membuatnya menderita batin
yang cukup dalam.
Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendah
hati. Ketika ia sadar prestasi sejati tidaklah semata-mata
prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencari
pendamping hidup yang baik. Baik bagi dirinya dan juga
bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan ingin
menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari,
semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal yang panjang
yang menguji kesabarannya.
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat
tahun. Teman-teman seusianya sudah ada yang memiliki
anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adik
tingkatnya, bahkan mahasiswi yang ia bimbing
skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidak
terhitung berapa kali ia menghadiri pernikahan
mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri
menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo
agamanya.

Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang.
Datang kepada orangtuanya untuk meminangnya. Ia
masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah
sangat tahu siapa yang akan datang. Dan sebenarnya ia
juga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun
pahit ia merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal
dan panjang sampai ia menemukan mutiara yang ia
harapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan
pemahaman kepada ayah-ibunya yang sudah mulai
renta?
Hand phone-nya berdering. Dengan berat ia angkat,
"Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu
Merlin, atasannya di kampus. Bu Merlin, atau lengkapnya
Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I.
Ia orang kepercayaan Pak Karman. Sejak SMA ia di
Semarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa
Jawanya bisa dibilang halus.
"Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes
di pipinya.
"Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai
Pedurungan. Dua puluh menit lagi sampai."
"Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara
serak.
"Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana,
bukalah hatimu kali ini. Pak Karman memiliki apa yang
diinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenan
menginginkanmu."
"Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaik
nanti bisa saya berikan."
"Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya jangan
lupa dandan yang cantik."
Klik. Tanpa salam.
Kali ini yang datang melamarnya bukan orang
sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc., Dekan Fakultas
Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat dia
mengajar. Duda berumur lima puluh lima tahun. Status
dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji.
Kredibilitas intelektualnya tidak diragukan. Materi tak
usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom
bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana
untuk memaafkannya. Repotnya, jika ia menolak ia
sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkata
bagaimana.
Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabat
karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-buku Islami di
Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah
Tlogosari Kulon. Lina berpendapat untuk tidak mengambil
risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak
Karman itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalah
nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari seseorang,
ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.
Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya
ia tidak melangit. Mencari manusia setengah malaikat
itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat
dan puasa ya terima saja. Apalagi ia orang terpandang.
Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang.
Terakhir Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah
denganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia
sepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan.
Bukankah itu bagian dari dakwah yang agung pahalanya?"
Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati
selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia nyaris
memutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman.
Namun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman
pada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam,
ia tak mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tibatiba
wajah keriput kedua orangtuanya muncul dengan
sebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk? Kowe
ngenteni opo? Dadine kapan kowe kawin, Nduk?"

Lima menit sebelum rombongan Pak Karman
datang, Zahrana berbicara kepada kedua orangtuanya.
Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nanti
mengambil keputusan yang mungkin tidak melegakan
mereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya
menangkap apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali
pasrah dalam kekecewaan. Namun mereka tetap
berharap akan terjadi hal yang membahagiakan. Mereka
berdoa, kali ini semoga keputusan putri semata wayang
mereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga hatinya
terbuka. Segera menikah. Dan segera lahir cucu yang
jadi penerus keturunan.
1 Kamu mikir apa, Anakku? Kamu menunggu apa? Kapan kamu menikah,
Anakku?
la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga memprediksi
gaya bahasa yang akan disampaikan pihak Pak
Karman. Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuk
menjawab. la juga tidak lupa menyiapkan hidangan yang
pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia
rapikan. Bunga-bunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti
dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa menjaga
kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya
dalam menghadapi siapapun: harus tenang, bicara yang
tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata para
pemenang. Dan ia harus menang. Ia teringat perkataan
Napoleon Hill,
"Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampak
melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap."
Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental
yang ia siapkan adalah mental seorang dosen pembimbing
yang siap maju sidang membela mahasiswanya
mempertahankan skripsinya. Ia sangat yakin akan
kekuatannya.
Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijau
muda kesayangannya. Sangat serasi dengan gamis
bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil.
Hanya dirinya dan kedua orangtuanya yang akan
menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang para
kerabat. Sebab seperti yang telah lalu, jika terjadi hal
yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjingan
panjang tak berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi.
Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang
sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang
kecuali kebaikan. Kali ini yang ia undang justru dua
orang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganya
selama ini.

Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengah
lima sore. Tidak main-main. Empat mobil. la harus
mengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua.
Juga keberhasilan Bu Merlin memprovokasi Pak Karman
untuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak
menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius
ini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya cukup luas.
Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk.
Terpaksa duduk di beranda.
la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin
tidak tahu visi hidupnya saat ini. Bukan sekadar materi
dan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya.
la mencari calon suami yang bisa dijadikan imam. Imam
yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya
kala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya
benar-benar sulit kali ini. Bu Merlinlah yang selama ini
banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu
memberi bocoran adanya lowongan dosen di kampusnya.
Rombongan telah duduk tenang. Pak Karman
menyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia tampak
lebih muda dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam
membuatnya tampak alim. Seorang lelaki setengah baya,
mengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak
Darmanto mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh
dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam. Tak
bicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya
memang cerewet yang banyak mengimbangi bicara.
Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkan
suasana. Makanan dan minuman dikeluarkan oleh dua
orang ibu-ibu yang rapi berkerudung.
"Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana ini
dengan penuh cinta. Siapa yang memakannya insya
Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakan
tamu-tamunya menikmati hidangan seadanya. Mendengar
hal itu spontan Pak Karman berkomentar dengan
gaya lucu,
"Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harus
mencicipi. Agar awet muda dan bisa menyunting
bidadari."
Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yang
hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa perkataan itu
menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampah
yang hendak dijejalkan ke telinganya. Bagaimana
mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya saja
tidak mau ia dengar.
Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto,
juru bicara Pak Karman, masuk pada inti kedatangan,
"...dan maksud kedatangan kami adalah untuk
menyambung persaudaraan dan kekeluargaan dengan
keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyunting
putri Bapak Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk saudara
kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah bahagianya
jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."
Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yang
terbata-bata,
"Pertama....tama, ka...kami sekeluarga menyampaikan
rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami juga
bahagia. Bagi ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk
penghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya
dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun
masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur. Putri kami
sudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada
kami berdua. Dia bisa memutuskan sendiri mana yang
baik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan."
Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat ke
arahnya. la tahu bola sekarang ada di tangannya. Dialah
sekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha
untuk tenang. Setenang ketika ia membantu argumen
mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi,
"Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad
Saw., pernah bersabda, 'Al 'ajalatu minasy syaithan.
Tergesa-gega itu datangnya dari setanl' Saya tidak mau
tergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun.
Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya
untuk menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan
langsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya
hormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab
sekarang."
Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Darmanto
dan Pak Karman. Namun keduanya tidak bisa
bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum
tanda setuju. Yang lain bisa memahami dan memaklumi.
Hanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata
mendengar jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana
arah perkataan putrinya itu.
Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana
langsung ke kamarnya mengatur kata yang tepat untuk
disampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, dengan
senyum yang susah diartikan.



"Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk?
Pak Karman memang agak tua, tapi ia berpendidikan
dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya
yang sudah tahu keputusannya.
"Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimana
Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang pas di hati saya.
Itu saja." Jawab Zahrana.
"Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia
sudah haji. Sudah menyempurnakan rukun Islam. Kita
saja belum." Bantah ibunya.
Ia merasa, memang agak susah memahamkan
ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari sudah haji atau
belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak.
Tidak bisa dilihat dari pakai peci putih atau peci yang
lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yang
bertitel haji. Setiap tahun haji justru untuk menutupi
kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan
kejahatan di musim haji. Ibunya tidak akan nyambung
dia ajak dialog masalah itu.
"Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang.
Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya satu kampus
dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti saya
menikah Bu."
Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan
"pokoknya", sang ibu langsung diam dengan raut muka
sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya.
Tapi ia tidak mau asal menikah. Menikah adalah ibadah,
tidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat
rukunnya. Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua
yang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau
gegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya
kelak.
Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban
untuk Pak Karman dengan komputernya. Bahasanya
tegas dan lugas:

Kepada
Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c
Di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Bapak senantiasa sehat dan berada dalam
naungan hidayah-Nya.
To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya
kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya
belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak
mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum
dan mohon maaf jika tidak berkenan.
Wassalam,
Dewi Zahrana

la lalu menge-print surat itu dan memasukkannya
ke dalam amplop putih. Ia akan minta bantuan seorang
mahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada Pak
Karman besok pagi. Dan ia sudah berketetapan akan
mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pasti
tidak diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangat
mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga hal yang
tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dan
kembali masuk jika suasana kembali seperti sediakala.
Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia
prediksi terjadi.
Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Pak
Karman:
"Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa
jawabanmu sangat mengecewakan aku!"
Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak.
Entah kenapa ia merasakan ada aroma jahat dalam setiap
huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya.
Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin:
"Hari ini saya dicacimaki Pak Karman gara-gara
jawabanmu. Saya sungguh kecewa dengan kamu!"
Airmatanya meleleh.
"Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih.
Ia merasakan dunia ini begitu sempit. Dinding-dinding
kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamarnya
seakan mau rubuh menimpanya. Ia hanya bisa
pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap
kuat dan tegar di jalan-Nya.


Dua
Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirim
jawaban itu, Bu Merlin datang ke rumahnya. Saat itu ia
masih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimik
serius. Mimik yang ditakuti oleh para bawahannya,
apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampusnya
itu berkata,
"Zahrana, kamu memang bebas menentukan
pilihanmu. Namun terus terang saya tidak mengerti apa
maumu. Saya tak perlu berdusta padamu, saya sangat
kecewa padamu. Padahal saya telah berusaha melakukan
yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman.
Namun agaknya ini semua berantakan karena keangkuhanmu."
"Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah
berusaha menata hati dan jiwa untuk menerima Pak
Karman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat
menikah, lantas saya menikah untuk seolah-olah bahagia.
Saya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya
benar-benar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya
tidak mau, setelah menikah sosok Pak Karman justru jadi
monster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama
sekali tidak bisa mencintainya Bu. Meskipun sebutir
zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon
ibu bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar
dengan mengajak bicara dari hati ke hati.
"Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di
muka bumi ini yang bisa memaksa. Meskipun saya kecewa
saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak
mengenalmu aku tahu kau orang baik. Begini Zahrana,
saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu
dengan satu tuduhan serius yang akan sangat mempermalukanmu.
Ia mengisyaratkan hal itu kemarin setelah
membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kau
mundur dengan terhormat daripada dipecat! Jika marah
Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak."
"Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada
kaget.
"Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri
saja. Itu saranku sebagai orang yang sangat paham peta
politik di kampus."
"Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawan
sampai titik darah penghabisan!"
"Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta
politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak Karman. Jika
kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekat
untuk dipukul sampai mati. Mundurlah dulu. Bertiaraplah
sementara waktu. Ini yang kulihat baik
untukmu. Saya berjanji suatu saat nanti jika saya ada
kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kali
ini percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik kamu
jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan yang sudah
saya cium dari sekarang."
Zahrana akhirnya paham dengan apa yang disampaikan
Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata yang
disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan.
Namun ia belum bisa mengambil sikap dengan cepat.
Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah,
"Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkan
matang-matang saran Ibu. Saya sangat berterima kasih."
"Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu.
Masih ada urusan yang harus saya kerjakan." Kata Bu
Merlin.


Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan
rasa sayang padanya, meskipun ia telah mengecewakannya.
Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya:
Memaksimalkan manfaat meminimalisir konflik. Jika
masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulah
yang harus ditempuh.
Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengendarai
sepeda motornya ke rumah Lina, temannya paling
akrab sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu
orang yang bisa diajak bicara memutuskan masalahnya.
"Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada
Zahrana.
"Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang
jelas apa yang sebaiknya kulakukan setelah mendengar
saran Bu Merlin."
"Yang paling penting menurutku adalah, apa
kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu Merlin?"
Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat
teman karibnya itu,
"Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu
Merlin. Saya percaya padanya."
"Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu
sedang sangat tersinggung dan marah besar karena kamu
tolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap
denganmu di kampus. Dan Bu Merlin melihat dia akan
membuat perhitungan denganmu."
"Jadi?"
"Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan
diri dengan baik-baik, daripada dipecat dengan
membawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat
posisinya daripada kamu. Ingat dia orang nomor satu di
Fakultas tempat kamu mengajar."
"Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apa
yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?"
"Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru.
Dengan begitu kau bisa berdalih degan seribu alasan
yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidak
kerasan lagi di kampus. Cari pengalaman baru dan lain
sebagainya."
Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan diri.
"Kau benar Lin. Besok aku akan mengundurkan
diri."
"Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."
"Kau memang sahabatku yang baik Lin."



Pagi itu Zahrana datang ke kampus dengan
membawa dua pucuk surat pengunduran dirinya. Satu
untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang
rapat dengan rektor. Itu kesempatan baginya untuk
mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya
sesama dosen banyak yang kaget.
"Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolak
lamaran Pak Karman. Apa karena itu terus kamu juga
harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosen
mata kuliah struktur beton yang meja kerjanya paling
dekat dengannya.
"Saya hanya ingin cari suasana baru dan pengalaman
baru. Mungkin saya akan mencoba kerja di sebuah
perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil merapikan
berkas-berkasnya.
"Apa ini benar-benar sudah keputusan final?"
"Ya. Final."
"Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami
sangat kehilangan kamu jika kamu keluar. Tidak banyak
pengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin
kembali ke kampus ini jangan segan-segan. Kami para
dosen akan men-support-mu."
"Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama
ini banyak berbuat salah."
"Sama-sama."
Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat
pengunduran dirinya di meja kerja Pak Karman. Lalu
mencari mahasiswi yang bisa membantunya mengangkat
barang. Di koridor ia bertemu dengan mahasiswi
berjilbab hitam.
"Nina!"
"Ya Bu Rana."
"Bisa bantu saya sebentar?"
"Bisa Bu."
"Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang
kerja saya. Saya minta bantuannya sedikit."
"Baik Bu."
Ia lalu balik ke ruang kerjanya.
"Pak Didik?"
"Ya Bu Rana."
"Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampaikan
ke Pak Rektor begitu saya pergi. Data-data saya di
komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus saya minta
tolong dicarikan taksi."
"O bisa Bu."
Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi berjilbab,
dan dua orang mahasiswa datang. Kepada mereka
Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan
diri dari kampus itu.
"Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif
di Lembaga Pers Kampus.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja."
"Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya
mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.
"Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yang
berani menekan Ibu tho San." Jawab Zahrana pada
mahasiswa bernama Hasan.
"Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?"
tanya mahasiswa itu lagi.
"O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu
Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan membantumu,
insya Allah."
"Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipun
ibu tidak di kampus ini lagi?"
"Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke
rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana sambil memandang
wajah mahasiswanya satu per satu.
Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barangbarangnya
ke luar gedung. Tak lama taksi datang.
Zahrana pun meninggalkan kampus itu dengan
membawa seluruh barang-barangnya.
Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruang
kerjanya. Keputusannya sudah mantap yaitu memecat
Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya:
tidak disiplin. "Perawan tua itu harus diberi pelajaran!"
Geramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia
menangkap sepucuk surat tergeletak di atas meja
kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika
meluap, "Kurang ajar!"
Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tibatiba
malah dipukul KO. Ia sama sekali tidak memperhitungkan
Zahrana akan membuat keputusan nekat itu.
Namun ia tetap akan membuat perhitungan dengan satusatunya
dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu.



Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk mendapatkan
pekerjaan baru. Dari seorang teman ia
mendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen,
Demak, sedang membutuhkan seorang guru baru yang
profesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah
berada di payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren
besar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan
lamaran dan hari itu juga ia diterima.
Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri
Pesantren Al Fatah sangat senang. Pengalaman mengajar
Zahrana ketika mengajar di FT universitas swasta
terkemuka di Semarang adalah jaminan kualitas.
Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang
sebagian besar adalah santri. Ia berusaha mendalami
kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belum
pernah menjadi santri sama sekali. Ia merasakan nuansa
yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar
mahasiswa. Ada tantangan tersendiri mengajar santri
yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidak
penting, yang menganggap "ilmu umum" lainnya juga
tidak penting.
Dianggap tidak penting, karena para santri berpikiran
bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum", kelak tidak
akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpenting
adalah "ilmu agama", karena ilmu itulah yang akan
dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu diluruskan.
Dan Zahrana tertantang untuk meluruskannya.
la merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih
menenteramkan. Entah kenapa? Apa karena dekat
dengan banyak ulama? Atau karena memang di
pesantren tempat ia mengajar tidak ada manusia seperti
Pak Karman yang dalam pandangannya sangat-sangat
durjana. Hari-harinya ia lalui dengan lebih tenang dan
tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benar-benar hilang
tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultan
sebuah perusahaan properti. Ia juga masih sering
didatangi mahasiswanya.
Yang masih sering datang adalah mahasiswanya
yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan memang di
bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugas
pembimbingan diambil alih oleh Bu Merlin. Hasan dan
teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi
dan meminjam referensi. Ia merasa senang dengan kedatangan
mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya sendiri.
Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia meninggalkan
kampus dan memilih mengajar di STM Al
Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab,
"Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan
para santri."
Ayahnya hanya mendesah tanda tidak setuju.
Namun ia kemudian berusaha menghibur,
"Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di
lingkungan pesantren jadi jalan bagi Zahrana menemukan
jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh
yang Zahrana harap tidak juga datang."
Wajah ayahnya itu sedikit cerah,
"Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu
harus berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu
beliau bisa membantu menemukan jodohmu."
"Iya Yah. Mohon doanya terus."
"Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu
siang dan malam, Anakku."
"Terima kasih Ayah."



Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak
didiknya Zahrana membuka komputer. Ia hendak
berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat
apakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang
menarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan
membuat blog ia bisa menemukan jodohnya.
Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering
beberapa kali. Ada tiga SMS yang masuk. Ia membukanya:
"Sedang apa perawan tua?"
"Ternyata jadi perawan tua itu indah."
"Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi
daging tuamu yang sudah busuk di kerubung lalat!"
Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror
paling primitif, dengan kata-kata yang merendahkan dan
menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak
ia kenal. la nyaris membalas SMS itu dengan kata-kata
yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisa
menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnya
ia memilih diam. Diam tanpa pernah menganggap SMS
itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh.
Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila.
Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu.
Internetnya sudah konek. Lima email dari temantemannya
sesama dosen. Semuanya menyayangkan
keputusannya meninggalkan kampus. Dan semuanya
mendoakan semoga sukses dengan pilihannya.
Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka,
"Apa kabar Perawan Tua?"
"Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya.
Banggalah jadi perawan tua!"
Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinya
sakit. Tapi ia harus menang. Diam adalah senjata
pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladeni
kata-kata yang tidak mencerminkan datang dari orang
terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih
asyik berselancar di dunia maya.
Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email.
Yang satu dari sebuah komunitas milis, memanggilnya
untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi
bertanya ada apa dengan Pak Didik. Baru kali ini Pak
Didik mengirim email kepadanya. la buka email itu:
Subjeknya: SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN.
Baru dikirim beberapa jam yang lalu.
la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran.
Tawaran apa yang dimaksud Pak Didik, yang celananya
selalu di atas mata kaki itu?
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu.
Amin. Sebelumnya mohon maaf jika email saya ini
mengganggu. Sebenarnya sudah lama saya ingin
mengirim email ini tapi terhambat karena beberapa
sebab. Hari ini saya merasa hari yang tepat saya
mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran
kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa saya sampaikan
lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara
lisan takut terjadi salah paham. Karena bahasa tulisan
bisa diedit sementara bahasa lisan tidak.
Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang
Ibu. Juga apa yang Ibu cari selama ini saya memberanikan
diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk
menjadi suami ibu. Maaf, to the point saja Bu. Saya
menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap
lancang, untuk menjadi isteri kedua saya. Saya yakin
isteri saya bisa menerimanya nanti.
Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang
sebenarnya yang saya harapkan adalah seorang isteri
yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan
yang bisanya cuma arisan seperti isteri saya saat ini.
Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya
meninggalkan dia.
Saya yakin dengan kita membina rumah tangga
bersama, kita bisa bersinergi. Kita bisa saling memberi
dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga
ibu berkenan dengan harapan ini.
Saya kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salah
kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak diartikan
sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud
seperti itu. Saya bermaksud kita saling memberi
manfaat. Itu saja. Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Hormat saya,
Didik Hamdani, M.T.
Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar,
mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa yang ia rasakan.
Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah
menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah
menjadi wanita.
Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah
duda sekalipun, tawaran itu mungkin akan sedikit
menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus
dijadikan yang kedua. Ia tidak tega. Ia tidak tega pada
perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga
tidak tega pada perasaan kedua orangtuanya. Mereka
semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia
sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap"
menjadi isteri kedua. Sakit rasanya. Bagaimanapun ia
adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada
umumnya, yang benar-benar "tidak siap", atau lebih
tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidak
mau" dimadu.
la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya,
bila ia menerima tawaran Pak Didik itu, ternyata isterinya
tidak setuju. Isterinya itu lantas melabraknya dan
mengatakan kepadanya,
"Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudah
tidak ada lelaki sehingga kamu tega merampas suami
orang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayu
orang saja!"
Ia tidak tahu akan menjawab apa.
Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ia
lakukan adalah men-delete-nya tanpa me-reply sama
sekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada.
Matanya masih berkaca-kaca.



Tiga
Bumi terus berputar pada porosnya. Detik berkumpul
menjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jam
berkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadi
bulan. Ternyata sudah enam bulan Zahrana mengajar
di STM. Namun masalah utamanya belum juga selesai.
la belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah mendapat
tawaran dari Pak Didik, sudah ada dua orang yang maju.
Tapi entah kenapa ia tidak sreg. Hatinya belum cocok.
Yang pertama dibawa oleh teman ayahnya. Seorang
satpam di sebuah Bank BUMN. Ia tidak lagi melihat
eBook by MR.
status. Satpam atau apapun tak jadi masalah. la tidak
sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran
sama sekali. Sekali lagi, tidak bisa membaca Al-Quran
sama sekali. Shalat juga dengan jujur diakuinya tidak
pernah lengkap. la hanya membayangkan akan jadi apa
anak-anaknya kelak jika ayahnya sama sekali tidak
mengenal Al-Quran. Dalam bahasa dia, buta Al-Quran.
Dan alangkah beratnya mengajari ngaji suaminya dari
nol. Juga mendisiplinkan shalatnya dari nol. Akhirnya
tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menunggu yang
lain.
Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa
oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel
sepeda motor. Duda beranak tiga. Status duda dengan
berapa anak juga sebenarnya tidak masalah baginya. Ia
tidak mungkin cocok dengan duda itu, karena ia telah
kawin cerai sebanyak tiga kali dalam waktu tiga tahun.
Tiga anak itu adalah hasil kawin cerainya dengan tiga
perempuan berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang
keempat. Meskipun Wati mengatakan bahwa lelaki itu
telah insyaf. Ia ingin menikahi Zahrana sebagai isteri
yang terakhir. Karena ia tidak juga bisa menenangkan
batinya. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu.
Datangnya lamaran silih berganti yang semuanya
ditolak oleh Zahrana itu membuat ibunya sempat marah.
"Kamu itu masih tinggi hati Rana! Perempuan tinggi
hati tak akan mendapatkan jodohnya!"
Ia menangis dimarahi ibunya begitu. Ia merasa
penolakannya itu ada landasan logika dan syariatnya
yang kuat. Ia menangis di pangkuan ibunya, dan minta
maaf jika belum bisa menjadi anak yang membahagiakan
orangtua. Ibunya, akhirnya luluh dalam tangis. Ayahnya
yang melihat hal itu juga menangis. Sang ayah berkata
sambil terisak,
"Saat pindah ke STM Al Fatah kamu bilang siapa
tahu jodohmu di pesantren. Coba datanglah ke Pak Kiai.
Coba kamu minta pada Pak Kiai untuk membantu
mencarikan. Mungkin kamu akan ditemukan dengan
santrinya!"
"Baiklah ayah, tak kurang ikhtiar saya. Untuk
menemukan yang saya idamkan baiklah saya akan
sowan ke tempat Bu Nyai dan Pak Kiai secepatnya."
Jawab Zahrana sambil mengusap airmatanya.
Esoknya ia nekat mengajak Lina, menghadap Bu
Nyai dan Pak Kiai. Ia mengajak Lina sahabatnya itu,
karena Lina dulu pernah nyatri di Pesantren ARIS
Kaliwungu selama satu bulan saja, yaitu selama bulan
Ramadhan. Lina tentu lebih tahu berdiplomasi dengan
Bu Nyai daripada dirinya yang sama sekali tidak pernah
nyantri.
Kedatangannya diterima Bu Nyai dengan wajah
menyejukkan. Bu Nyai Sa'adah Al Hafidhah adalah isteri
K.H. Amir Arselan, pengasuh utama Pesantren Al Fatah.
Bu Nyai ini umurnya lima puluhan tahun. Dulu
menghafal Al-Quran di Kudus. Dan di tangannya kini
telah lahir ratusan santriwati yang hafal Al-Quran. Saat
itu kebetulan Pak Kiai sedang pergi ke Rembang. Hanya
Bu Nyai yang menemui.
'Apa yang bisa Ummi bantu, Anakku? Oh ya siapa
namamu, Anakku?" tanya Bu Nyai.
"Nama saya Rana, Ummi. Lengkapnya Dewi
Zahrana. Kedatangan saya ke sini pertama untuk
silaturrahmi. Kedua untuk mohon tambahan doa dari
Ummi. Kebetulan saya ikut mengajar di STM Al Fatah.
Baru enam bulan ini Ummi." Terang Zahrana dengan
kepala menunduk.
"O begitu. Ya. Jadi kau guru baru di STM Al Fatah?"
"Iya, Ummi."
"Dulu nyantri di mana?"
Belum sempat Zahrana menjawab, Lina memotong,
"Zahrana ini belum pernah nyantri, Ummi. Tapi dia
hariannya seperti santri. Zahrana ini dari SMA. Terus
kuliah S.l di UGM dan S.2 di ITB Bandung, Ummi."
"Kalau begitu kamu hebat ya Zahrana. Bisa S.2 di
ITB. Jurusan apa?"
"Teknik Sipil, Ummi."
Bu Nyai hanya manggut-manggut.
Lina tahu bahwa Zahrana tidak berani mengungkapkan
maksud sebenarnya. Maka dengan tanpa
diminta ia lalu menjelaskan dengan sehalus mungkin
maksud utama kedatangan Zahrana ke pesantren. Bu
Nyai menjawab,
"Saya yakin tidak mudah mencari yang selevel
denganmu, Anakku. Jujur saja kalau misalnya ada
yang selesai S.2 umurnya sama denganmu dia akan
memilih yang lebih muda darimu. Lelaki itu umumnya
punya ego, tidak mau isterinya lebih pinter dan lebih
tua darinya. Tapi ya tidak semua lelaki lho. Sekali lagi
tidak mudah mencarikan jodoh yang pendidikannya
harus tinggi seperti kamu juga saleh. Kalau boleh tahu,
kalau strata pendidikannya tidak setinggi kamu
bagaimana?"
Zahrana mengerti maksud Bu Nyai. Segera ia
menjawab,
"Saat ini status, strata, kedudukan sosial, pendidikan
dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan saya Bu
Nyai. Saya hanya ingin suami yang baik agamanya. Baik
imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak.
Itu saja."
"Oo, baiklah kalau begitu. Besok kautelpon aku ya.
Nanti malam aku akan rembugan dengan Pak Kiai.
Semoga ada pandangan."
"Baik Bu Nyai."
Keduanya lalu pamitan setelah dipaksa Bu Nyai
menghabiskan minuman yang ada di gelas.
"Harus dihabiskan. Kalau tidak habis itu namanya
mubazir. Dan orang yang suka mubazir itu teman
akrabnya setan." Kata Bu Nyai serius.
Rana dan Lina hanya bisa manut saja. Mereka pulang
dengan hati diliputi rasa gembira. Bu Nyai Dah, atau
Ummi Dah, begitu para santri memanggilnya, ternyata
sangat halus tuturbahasanya, begitu perhatian dan begitu
menyenangkan. Wajar jika banyak santri yang mencintainya.
Pak Kiai pasti bahagia punya isteri sebaik dia.



Zahrana baru saja masuk kelas, ketika kepala
sekolah memanggilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati,
"Ada apa sepagi ini kepala sekolah memanggilnya." Ia
bergegas ke ruang kepala sekolah dengan kepala berisi
tanda tanya.
"Bu Rana, saya baru saja ditelpon sama Bu Nyai Dah.
Beliau minta kau menghadap beliau sekarang juga."
Begitu kata kepala sekolah begitu ia sampai di ruang kerja
beliau. Zahrana langsung tahu kenapa Bu Nyai memanggilnya.
Ia langsung bergegas ke ndalem Bu Nyai Dah.
Bu Nyai Dah ternyata sudah menunggunya sambil
membaca Al-Quran. Begitu Zahrana sampai beliau
menghentikan bacaannya.
"Duduklah, Anakku."
Ia duduk dengan kepala menunduk.
"Begini, Anakku. Pak Kiai punya seorang santri yang
sudah tiga tahun ini meninggalkan pesantren. Dia santri
yang dulu sangat diandalkan Pak Kiai. Namanya Rahmad.
Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madrasah
Aliyah. Tidak kuliah. Karena setelah itu dia mengabdi
di pesantren ini. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan.
Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang
jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya
meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah.
Itulah informasi yang bisa aku berikan. Musyawarahkanlah
dengan kedua orangtuamu dan kerjakanlah shalat
Istikharah. Jika kamu ingin dan tertarik, beritahukan
Ummi. Nanti kita carikan jalan terbaik."
"Baiklah, Ummi. Terima kasih. Saya akan musyawarah
dan Istikharah dulu. Saya pamit dulu Ummi,
karena tadi kelas saya tinggalkan." Jawab Zahrana.
"Ya. Semoga barakah, Anakku!"
Zahrana berjalan ke kelas dengan telinga yang
mendengungkan apa yang disampaikan Bu Nyai:
"...Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh
bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk
keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu
tahun yang lalu karena demam berdarah...!"
Sambil berjalan ia menirukan ucapan Bu Nyai,
"Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia
duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun!"
"Hmm penjual kerupuk keliling. Apakah memang
takdirku jadi isteri seorang penjual kerupuk keliling?"
gumamnya sendiri.
Ada dialog yang cukup serius dalam dirinya.
"Tapi meskipun penjual kerupuk keliling. Ia adalah
orang yang baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Toh aku sudah bilang pada
Bu Nyai bahwa status, strata, kedudukan sosial,
pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan
lagi. Yang aku inginkan adalah suami yang baik
agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk
anak-anak kelak. Apakah aku harus mempersoalkan
pekerjaannya yang cuma penjual kerupuk keliling?"
Sampai di kelas ia tidak konsentrasi mengajar.
Akhirnya ia memberi pekerjaan kepada para siswa. Jam
ketiga ia ijin pulang ke rumah dengan alasan ada
kepentingan yang sangat penting berkaitan dengan
permintaan Bu Nyai. Jika alasannya Bu Nyai, tidak ada
yang berani membantah.
Sampai di rumah ia mengajak musyawarah ayah dan
ibunya. Keduanya mendorongnya untuk maju.
"Kemuliaan hidup seseorang itu tidak karena
pendidikannya atau pekerjaannya. Seseorang jika
dimuliakan oleh Allah akan juga mulia di mata manusia."
Demikian kata ibunya.
Ia mulai man tap.
Namun merasa masih belum cukup. Ia lalu menelpon
Lina. Dari jauh Lina menjawab,
"Dia kan lulusan aliyah. Nanti jika kalian sudah
menikah dan hidup mapan. Minta saja dia kuliah.
Dengan begitu dia akan selesai S.l dan jarak pendidikan
tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya dengan dia mengabdi
di Pesantren bertahun-tahun dia telah mendapatkan
pelajaran hidup yang lebih matang dari mata kuliah di
Program Pascasarjana sekalipun. Sudah mantaplah Ran.
Pak Kiai dan Bu Nyai pasti berusaha mengarahkan yang
terbaik."
Mantap sudah hatinya. Niatnya sudah bulat. Untuk
semakin memantapkan ia pun Istikharah. Setelah
Istikharah rasa mantapnya semakin besar. Hari itu juga
ia menelpon Bu Nyai dan menjelaskan kemantapannya.
Bu Nyai menjawab,
"Baiklah coba jelaskan alamat rumahmu!"
"Saya tinggal di Perumahan Klipang Asri. Jalan
Madukara B-15."
"Besok satu hari penuh jangan ke mana-mana. Pak
Kiai akan meminta si Rahmad itu berjualan ke perumahan
di mana kau tinggal. Kau belilah kerupuk darinya,
dan kau boleh bertanya apa saja padanya. Biasa saja. Dia
tidak tahu apa-apa masalah ini. Dengan begitu kau bisa
tahu dengan jelas calon suamimu itu. Jika kau masih juga
mantap, maka bisa diteruskan. Jika tidak ya tidak apaapa."
"Baik Bu Nyai." Jawabnya.
Dari situ ia tahu betapa demokratisnya Bu Nyai.
Betapa bijaksananya Bu Nyai. Betapa Bu Nyai memang
tidak mau memaksa. Ia kemudian jadi takut. Janganjangan
ia yang nanti mau, tapi si penjual kerupuk itu
justru yang tidak mau dengan alasan minder dan lain
sebagainya. Ia mendesah nafas panjang. Biarlah waktu
yang menjawabnya, desahnya.



Hari berikutnya Zahrana benar-benar tidak ke manamana
sejak pagi. Hari itu ia ijin tidak mengajar demi
mengejar takdir. Ia menunggu di ruang tamu. Terkadang
juga di beranda. Sesekali ke jalan. Penjual kerupuk itu
tidak juga datang.
Jam sebelas siang seorang penjual kerupuk datang.
"Puk Kerupuk! Puk Kerupuk!" Suara penjual
kerupuk itu membahana. Hari Zahrana sedikit lega. Ia
menunggu. Suara itu semakin mendekat. Semakin
mendekat. Ia keluar ke beranda. Begitu penjual kerupuk
sampai di depannya, ia berteriak,
"Kerupuk Pak!"
Penjual kerupuk itu menghentikan langkah. Tempat
kerupuk yang dipikulnya ia turunkan. Zahrana
terperanjat. Sudah tua. Ia memperkirakan umurnya
mendekati lima puluh tahun. Kulitnya hitam legam
tersengat matahari. la hampir menangis.
"Iya Bu, beli berapa?"
"Tiga ribu Pak."
"Baik Bu."
Penjual kerupuk itu mengambil kerupuk dan
memasukkan ke dalam plastik lalu menyerahkan
kepada Zahrana. Zahrana mengeluarkan uang dua
puluh ribu.
"Ada yang kecilBu?"
"Aduh tak ada Pak."
"Aduh gimana ya Bu. Saya tak ada kembalian. Udah
ibu bawa dulu saja kerupuknya. Kapan-kapan kalau saya
lewat ibu bayar."
"E jangan Pak. Udah bapak bawa saja. Itu sedekah
saya untuk Bapak."
"Baik Bu kalau begitu. Matur nuwun ya Bu. Semoga
keinginan ibu dikabulkan Allah."
"Amin." Dalam hati Zahrana berdoa ingin suami
yang saleh dan pantas bagi dirinya.
Begitu penjual kerupuk itu pergi, Zahrana langsung
menghubungi Lina sambil menangis. la menceritakan
penjual kerupuk yang baru ditemuinya.
"Apakah dalam pandangan Pak Kiai dan Bu Nyai
saya memang pantasnya untuk penjual kerupuk yang
tua itu?" Nada Zahrana terdengar sedih.
"Tenanglah Rana. Kau sudah tanya sama Pak Tua
itu siapa namanya?"
"Tidak terpikir Lin. Sama sekali tidak terpikir bertanya
namanya tadi. Aku sudah shock duluan tahu penjual itu
sudah tua. Tidak seperti yang aku bayangkan."
"Ya sudah. Kalau begitu kau sabar saja. Yang jelas,
tidak mungkin Pak Kiai dan Bu Nyai tega menjerumuskanmu.
Ini kan masih siang. Kau tunggu saja. Aku yakin
yang dikirim Pak Kiai pasti baik. Pokoknya kamu jangan
ke mana-mana ya. Tunggu sampai malam datang. Mau
dapat suami saleh harus sabar ya." Lina berusaha
menenangkan dan menguatkan.
"Terima kasih Lin. Semoga yang kaukatakan benar."
Zahrana kembali menunggu. Nyaris satu hari penuh
Zahrana menunggu dengan perasaan sedih, jengkel,
marah juga berharap. Belum pernah ia sepegal itu. la
yang dulu pernah mendapatkan predikat mahasiswa
teladan UGM kini menunggu datangnya seorang penjual
kerupuk keliling. Begitu pentingnya penjual kerupuk itu.
Tapi inilah takdir hidupnya. Ia merasa ia harus sabar.
Sampai senja tiba, tukang kerupuk selain yang
pertama belum datang. Ia menangis. Jika benar, yang
dikirim Pak Kiai adalah Pak Tua tadi, maka ia merasa
menjadi perempuan paling menderita di dunia. Sampai
Pak Kiai dan Bu Nyai yang dia anggap orang yang
sangat arif pun, berpendapat bahwa ia pantasnya dengan
lelaki berkepala lima. Sudah sedemikian tidak berharganya
dirinya.
Ia masuk rumah. Lima belas menit lagi azan
Maghrib berkumandang. Ia cemas dan galau. Tak ada
penjual kerupuk yang datang kecuali Pak Tua tadi. Ia
bingung. Ia lemas. Ia keluar lagi. Berharap ada penjual
kerupuk lain yang datang. Penjual kerupuk seperti yang
ia bayangkan. Ia duduk di kursi beranda. Airmatanya
bercucuran,
"Ya Ilahi jika aku punya dosa, ampunilah dosaku.
Cukupkanlah ujian-Mu. Aku mohon mudahkanlah
jalanku menyempurnakan separo agamaku sesuai
syariat-Mu. Mudahkan diriku menyempurnakan ibadah
kepada-Mu."
Ia lalu bangkit masuk rumah lagi. Tak ada siapasiapa
di rumah. Ayah dan ibunya sedang ke rumah
sepupunya yang memiliki hajat sunatan di Pucang
Gading.
Baru saja masuk, ia mendengar suara nyaring,
"Kerupuk-kerupuk! Kerupuk Paak! Kerupuk Buu!"
Ia terperanjat dan bergegas keluar. Suaranya lebih
tegas dan lantang. Ia lari. Penjual kerupuk itu telah
melewati rumahnya. Ia melongok dari pagar. Penjual
kerupuk itu hanya tampak punggungnya. Ia naik sepeda
dan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang.
Zahrana jadi penasaran. Dengan cepat ia nyalakan
sepeda motornya yang berdiri di beranda. Lalu melesat
mengejar. Tak perlu waktu lama agar penjual kerupuk
itu terkejar. Apa susahnya bagi sepeda motor untuk
mengejar sepeda. Ketika sudah dekat ia berteriak,
"Kerupuk, Mas!"
Penjual kerupuk itu menepi menghentikan sepedanya.
Ia melakukan hal yang sama. Penjual kerupuk itu
membuka topi lebarnya dan mengipas-ngipaskannya ke
tubuhnya. Semarang memang panas, meskipun hari
telah senja. Zahrana terperanjat. Masih muda dan
ganteng. Keringat yang mengalir, lengan yang kekar
terbakar matahari menambah pesona tersendiri. Sesaat
lamanya ia memandangi penjual kerupuk itu.
"Iya Bu, beli berapa?"
Ia tersadar.
"E...lima ribu."
Penjual kerupuk itu mengambil plastik hitam besar
dan memenuhinya dengan kerupuk.
"Ini Bu"
Ia mengambil kerupuk dan mengulurkan uang lima
puluh ribu.
Penjual kerupuk itu menerima uang itu dan menghitung
uang kembalinya.
"Ini kembalinya Bu. Empat puluh lima ribu rupiah."
Zahrana menerima dengan tangan kanannya.
Sementara tangan kirinya memegang kantong plastik
berisi kerupuk. Penjual bersiap melanjutkan perjalanan.
"E, Sebentar, Mas." Zahrana menghentikan.
"Ya Bu, ada apa? Apa uang kembalinya kurang?"
"Tidak kok Mas. Mau tanya, sudah lama jualan
kerupuk ya Mas? Kok kayaknya baru ke daerah ini."
"Iya Bu. Sudah lama. Saya memang baru kali ini
ke daerah ini. Biasanya saya beroperasi di daerah
Mranggen, Plamongan Indah, Pucang Gading dan
Penggaron saja,"
"O. Ini cari langganan baru ya?"
"Bisa ya, bisa tidak."
"Kok begitu."
"Biasanya dagangan saya sudah laku di timur, tidak
perlu sampai ke kampung ini. Saya jualan ke sini hanya
karena sendiko dawuh saja sama Pak Kiai. Pak Kiai saya
itu aneh, tiba-tiba saya diminta jualan di daerah ini, di
perumahan ini. Dan anehnya Pak Kiai bilang hari ini saja.
Besok-besok terserah."
Jantung Zahrana berdegup kencang. Azan Maghrib
mengalun.
"Boleh tahu, siapa nama Mas?"
"Nama saya Rahmad Bu. Sudah ya Bu saya jalan
dulu. Sudah Maghrib, saya harus cari masjid."
Penjual kerupuk itu mengayuh sepedanya ke arah
suara azan berkumandang. Zahrana memandang
punggungnya sampai hilang di kejauhan.
"Diakah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku?"
tanyanya dalam hari.
Ia lalu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah ayah
ibunya sudah ad a di rumah.
"Dari mana Rana? Ini rumah ditinggal pergi tapi
pintu terbuka tak dikunci? Jangan sembrono kamu!"
tegur ibunya serius.
"Dari mengejar penjual kerupuk Bu. Wong cuma
sebentar kok." Jawab Zahrana tenang.
"Penjual kerupuk yang dikirim Bu Nyai itu?" tanya
ibunya dengan mata berbinar.
"Iya Bu."
"Bagaimana orangnya? Ganteng? Kau cocok?"
"Ah ibu itu lho semangat banget. Yang jelas orangnya
baik. Yang lain nanti kita musyawarahkan!"
"Iya. Iya. Baik."
Zahrana lalu masuk kamarnya untuk siap-siap shalat
Maghrib. Sebelum ia mengambil air wudhu hpnya
berdering. Sebuah SMS masuk. Ia buka,
"Ass wr wb. Bu ini Hasan. Alhmdulillah tadi sy sdh
wisuda. Dan alhmdulillah sy dinobatkan sbg mhsw
terbaik. Ini jg berkat doa dan bimbingan Ibu. Trm ksh
sdh mmnjami referensi dll. Mhn doanya. Wassalam."
Ia tersenyum. Ia bahagia membaca SMS itu.
Bagaimana tidak bahagia jika ada seorang murid yang
berhasil tidak lupa pada gurunya. Ia teringat saat dulu
diwisuda di UGM dan menjadi lulusan terbaik di
Fakultasnya. Saat itu ia sangat bahagia. Dan itu pula
yang saat ini sedang dirasakan mahasiswanya, Hasan.
Ia teringat Nina. Bagaimana dengan Nina? Nina
tak kalah hebatnya dengan Hasan. Tiba-tiba ia
tersenyum simpul. Hasan dan Nina itu cocok. Kalau
mereka menikah itu pas. Hasan ganteng, Nina cantik.
Sama-sama aktivis. Sama-sama cerdas dan bisa
diandalkan.
Setelah Zahrana melakukan kroscek pada Bu Nyai,
memang penjual kerupuk yang masih muda itulah yang
dimaksud Pak Kiai. Umurnya 29 tahun. Jadi lebih muda
empat tahun dari Zahrana. Setelah memikir dan
menimbang tiga hari lamanya Zahrana merasa cocok.
Ayah dan ibu Zahrana pun cocok.



Barulah setelah itu Pak Kiai dan Bu Nyai mempertemukan
dua keluarga. Mulanya si Rahmad merasa
minder. Tapi Pak Kiai berhasil meyakinkan Rahmad
untuk tidak minder. Pada Rahmad Pak Kiai berkata,
"Zahrana ini, meskipun berpendidikan tinggi tapi ia
rendah hati. Yang jadi pertimbangan Zahrana dalam
mencari suami bukan materi, status, strata, kedudukan
sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Yang jadi
pertimbangan Zahrana adalah agama, iman dan akhlak.
Insya Allah, ia gadis salehah yang mampu menghormati
suaminya. Jadi kamu jangan minder!"
Akhirnya Rahmad juga menyatakan cocok. Jadilah
dua keluarga itu cocok. Saat musyawarah dua keluarga
itu, Zahrana mengutarakan keinginannya untuk
mempercepat pernikahannya. Usul Zahrana diterima
dengan penuh semangat oleh dua keluarga.
"Semakin cepat semakin baik. Insya Allah semakin
cepat juga semakin barakah!" Demikian Pak Kiai
berkomentar.
Dan ditetapkanlah hari H pernikahan Rahmad
dengan Zahrana dua minggu setelah pertemuan itu. Dua
keluarga itu langsung didera kesibukan menyiapkan
pesta pernikahan itu. Karena Zahrana anak tunggal, Pak
Munajat ingin semua teman lama dan saudara diundang.
Dengan kerja keras, dalam waktu relatif singkat
undangan pernikahan tersebar. Zahrana mengundang
semua temannya. Yang tidak bisa dikirimi undangan
diberitahu lewat email dan SMS . Ia juga mengundang
mahasiswanya yang ia kenal. Mereka ia undang lewat
SMS. Para mahasiswanya mengirim balasan dengan
nada sangat gembira dan memastikan mereka datang.
Namun dua orang mahasiswa yang ia harapkan datang,
yaitu Nina dan Hasan malah tidak bisa datang.
Nina mengirim balasan:
"Trm ksh Bu atas undangannya. Smg prnikhnnya
barakah. Maaf sy tdak bisa datang sbb pada hari yang
sama saya jg akan melangsungkn akad nikah di Jkt.
Saling mendoakan ya Bu. Nina."
Ia bahagia, Nina langsung menikah begitu selesai S.l.
Tapi sedikit kecewa karena Nina tidak menikah dengan
Hasan. Seperti yang ia idealkan. Ia langsung sadar, ideal
di mata manusia itu berbeda dengan ideal di mata Allah
Swt.
Sementara Hasan mengirim balasan,
"Smg prnkhan Ibu pnh barakah. Maaf sy tdk bs
datang Bu. Sbb hari itu saya hams mengurus beasiswa
S.2 USM (Universiti Sains Malaysia). Motion doanya."
Kabar yang membuatnya bahagia. Mahasiswa
penuh dedikasi seperti Hasan memang pantas mendapatkan
beasiswa. Dalam hati ia berdoa semoga semua
mahasiswanya berhasil dan sukses.
Tak ketinggalan ia juga mengundang temantemannya
sesama dosen waktu mengajar di kampus
Fakultas Teknik. Semua ia undang termasuk Bu Merlin.
Hanya Pak Karman yang tidak. Ia tak ingin hari
bahagianya rusak dengan melihat bandot tua yang tidak
ia suka itu.
Namun mau tidak mau Pak Karman tahu juga kabar
itu. Dan ia juga tahu bahwa hanya ia seorang di kampus
yang tidak diundang. Hal itu membuatnya marah dan
geram.
"Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisa
memberi pelajaran pahit pada perempuan tengik itu!"
Geramnya sambil memukul meja di ruang kerjanya.
Empat Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana
telah memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin
Muslimah hijau muda yang sangat anggun. la memang
suka warna hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari
butik Muslimah terkemuka di Solo.
Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil
memandang wajahnya ke cermin ia berkata,
"Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan
punya suami. Aku akan hidup membina rumah tangga
layaknya yang lain."
Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh
meminta ia masih ingin meminta akad nikah dan
walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin segera
mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak hidup
wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga. Memiliki
suami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki anakanak
yang menjadi penyejuk jiwa.
Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk,
"Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun
pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan
memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan.
Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai
perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap
saat dilamar banyak orang dan bisa dengan semenamena
menolaknya. Kenapa kau tidak menikmatinya saja?
Kenapa tergesa-gesa? Demi kebaikanmu sendiri,
sebaiknya kaukembalikan saja gaun pengantinmu itu.
Jadilah perawan tua selamanya."
Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi.
Entah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu menghadapai
SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah. Rasanya
ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS kurang
ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas,
"Semoga laknat Allah mengenaimu hai iblis tua!
Semoga kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di
mata manusia!"


Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy
di rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara
pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai
dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main kejarkejaran.
Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas
pesta pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu dari
group kasidah Nasyida Ria berkumandang,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya.
Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin
membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala
sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja.
Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok ia
benar-benar fresh dan segar.
Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar
kamarnya kesibukan terus berjalan sebagaimana
mestinya. Anak-anak kecil tertawa-tertawa bahagia.
Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya.
Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. Lagu
yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyida
Ria,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam
setengah tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya
hilang. Ia kaget ada keributan. Ibunya menangis
menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekur
di kursi seperti patung. Linalah yang membangunkannya.
"Ada apa ini Lin?" tanyanya heran. Ada kecemasan
luar biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya.
Lina yang ia tanya malah menangis.
"Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!"
"Ada apa dengan Rahmad?"
Lina tidak menjawab malah semakin keras terisakisak.
Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab,
"Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal
dunia!"
"Apa!!?" Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu
volt.
"Rahmad mati tertabrak kereta api!" lanjut Paman
Rahmad.
"Oh tidak! Tidak! Tidaaak!" Zahrana menjerit
histeris. Jeritannya menyayat hati siapa saja yang
mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika.
Semua yang ada di rumah itu terpukul. Para
tetangga Zahrana yang mengetahui apa yang sesungguhnya
terjadi ikut sedih dan meneteskan airmata.
Para tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain,
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa
tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah,
bukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa
bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan
sebenarnya?"
Paman Rahmad menjelaskan,
"Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon
hpnya. Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar
Mranggen. Rahmad minta temannya itu datang ke
rumah saja. Tapi temannya itu mengatakan tidak bisa.
Temannya itu memaksa Rahmad pergi menemuinya.
Karena berkaitan dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan
Rahmad akan diajak sedikit mengetahui prospeknya.
Akhirnya Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru.
Sebenarnya keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa
pergi. Ia memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya
mau ikut bersamanya tapi dilarangnya dengan alasan
tenaga saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di
rumah.
Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga
pulang. Sebagian orang cemas, sebagian yang lain
marah, Rahmad tidak segera pulang malah begadang
dengan temannya yang tak dijelaskan siapa.
Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang.
Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api,
dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.
Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dan
benar mayat yang berlumuran darah itu memang
Rahmad."
Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu.
Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahrana
masih pingsan.



Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar
tapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu
bahagia. Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa.
Yang ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangis
dalam jiwa.
Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. la
masih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa
Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari
suasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus
dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap melangsungkan
akad nikah, namun tiba-tiba menciptakan trauma
baginya.
Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS.
Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa
beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana
siuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah
minum air putih tiga teguk Zahrana menangis.
"Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak
kuat!" katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak.
"Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah!
Ingatlah Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar
musibah ini diberi ganti yang lebih baik." Lina mencoba
menguatkan.
"Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock!
Daripada aku gila lebih baik aku mati saja!"
"Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja.
Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi
kekasih-Nya."
"Tak tahu aku harus bagaimana Lin."
"Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat
lemah. Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati
akan tenang!"
Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha
ia kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu.
"Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?" tanya
Zahrana.
"Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedang
bersama kakek dan neneknya di Ungaran."
Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.
"Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin.
Punya suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang
penuh kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak.
Suami saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi...."
Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langit
kamar rumah sakit.
"Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba
saatnya saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allah
akan memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki."
"Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasa
tidak bergairah hidup lagi."
"Tidak Rana. Kau tidak boleh pupus harapan.
Ingatlah Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Percayalah
ini cuma ujian kecil. Masih banyak hamba
Allah di muka bumi ini yang diuji dengan ujian yang
jauh lebih besar dari yang kaualami. Ayolah Rana,
kau harus tabah! Kau harus tegar! Kau harus kuat!
Kau harus terus maju! Kau tak boleh menyerah. Putus
asa berarti kau menyerahkan dirimu dalam perangkap
setan!"
"Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapi
bagiku ini sangat berat!"
"Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampu
menghadapinya Rana. Aku yakin."
"Aku beruntung punya teman sepertimu Lina.
Terima kasih ya Lin...Kau baik sekali!" Lirih Zahrana
dengan mata berlinang-linang.
"Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu
Rana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran justru
darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia."
Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk.
Dengan ramah dokter setengah baya itu memeriksa
kondisi Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan
dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu menghiburnya
dengan perkataan yang lembut dan menyejukkan.
Senyumnya mengalirkan kesembuhan.
"Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas
Teknik Universitas Mangunkarsa itu?"
Zahrana mengangguk.
"Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?"
"Siapa nama anak Bu Dokter?"
"Namanya Hasan. Hasan Baktinusa."
"O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas
diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salam
buat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar."
"Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali cerita
tentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak
membantu anak saya."
"Sama-sama, Bu."
Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata
ibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas.
Dokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan
sedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip
dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasa
dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah dalam
usia yang sangat terlambat.
"Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti
apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang dikejarkejar
tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa dikejar
datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan
Allah dalam keadaan susah dan bahagia. Senang dan
sedih."
Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar.
Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,
"Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi
seperti apapun tak akan kembali."
Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, "Ada nasihat
sangat bagus sekali dari Anton Chekov."
"Apa itu Bu?" tanya Zahrana pelan.
"Anton Chekov pernah menulis, 'Suatu saat kamu
perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan.
Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu!' ."
"Nasihat yang baik sekali Bu."
"Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa
kaubaca juga karya-karya sastra."
"Terima kasih Bu atas semuanya."



Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ.
Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibah
kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta
tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangan
jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit.
Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di perjalanan.
Hari itu ia meninggal menyusul calon menantunya.
Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan
kepada Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang
dari rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh.
Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun
tidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan
Zahrana.
Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin
lelakinya tertabrak kereta api itu dimuat koran
terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. Kematian
Rahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisi
menyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yang
menelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukan
dan masih dalam pencarian.
Beberapa hari setelah itu teman-temannya berdatangan
mengucapkan bela sungkawa. Juga temanteman
dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya datang.
Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangat
kaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan Zahrana
Pak Karman berkata pelan sekali,
"Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua
diterima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun
pengantinmu benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!"
Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagai
aliran listrik yang menyengatnya. Kata-kata itu
menguatkan keyakinannya bahwa yang menterornya
selama ini adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa Pak
Karman tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo.
Tiba-tiba firasatnya mengatakan kematian calon
suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Pak
Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman
yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror dahsyat
yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tiba-tiba
kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh terpancing.
Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus menang. Ia
harus tenang.
"Terima kasih berkenan datang Pak." Jawabnya
dengan pura-pura tidak memperhatikan perkataan Pak
Karman.
Lima
Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakan
bahwa Pak Karman ada di balik kematian calon
suaminya. la ingin lapor polisi, jangan-jangan orang
misterius yang menelpon calon suaminya sebelum
kecelakaan itu adalah Pak Karman, atau suruhannya.
Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa.
la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Lina
yang kini bisa diajaknya bicara.
"Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balik
kematian Mas Rahmad. Aku yakin!" kata Zahrana
berapi-api. Lantas ia menunjukkan data-data yang
menguatkan dugaannya itu. Lina menanggapinya
dengan kepala dingin,
"Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah. Jangan
merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti!
Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!"
"Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun
pengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela sungkawa.
Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin memecatku,
tidak bisa dianggap sebagai bukti?" seru Zahrana.
"Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau
fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang
ikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu
selalu disertai Allah." Sahut Lina pelan. Ia lalu mengambil
koran dari tasnya.
"Apalagi polisi sudah mengumumkan bahwa
kematian Rahmad murni karena kecelakaan. Coba
kaubaca ini baca!" lanjut Lina sambil menyodorkan
koran Suara Mahardika.
Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan
membaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas
panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina
menangkapnya. Lina berusaha menghibur,
"Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan imanmu.
Ini ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba-
Nya yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua
perkara bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat
bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga
musibah ini jadi pahala." Lanjut Lina.
"Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi."
Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana bertekad
untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Ia teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapan
bela sungkawa,
"Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada
Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Paling
berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt."
Sejak itu, Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan
shalat malam. Ia labuhkan segala keluhkesah
dan deritanya kepada Yang Maha Menciptakan.
Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam
keheningan malam ia berdoa,
"Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang
kepada-Mu hamba kembalikan semua
urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari
semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumi
ini. Ya Rabbi, aku memohon kepada-Mu segala
kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung
kepada-Mu dari segala hal buruk yang Engkau
ketahui."



Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati
ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkan
sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, Zahrana
membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan.
Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur.
Rumah itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana dan
ibunya yang duduk di meja makan itu.
"Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur
bersama ayahmu ya Nak."
"Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi."
"Apakah aku masih berkesampatan melihat kau
duduk di pelaminan ya Nak."
"Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah.
Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi."
Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara
ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang
mereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat
Subuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan
Kuliah Subuh yang diadakan selama Bulan Suci
Ramadhan.
Habis dari masjid Zahrana mengajak ibunya
berjalan-jalan menghirup udara pagi keliling komplek
perumahan. Mereka berdua masuk rumah ketika
matahari sudah terang bersinar di ufuk. Zahrana
langsung mandi dan bersiap-siap mengajar.
Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di
kantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum bel
berbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia penasaran
pada sebuah judul berita: KARENABERBUAT CABUL,
SEORANG DEKAN MATI DIBUNUH DI RUANG
KERJANYA.

"Semarang - Sepandai-pandai orang menyimpan
bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya
layak untuk S (55 tahun), Dekan Fakultas Teknik
Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya
kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya
akhirnya terkuak. Ia tewas mengenaskan di ruang
kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas
Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24
tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolan
universitas terkemuka dari Amerika Serikat itu. Dua
mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak
berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut...."
Zahrana berkata pelan dalam hati, "Becik ketitik olo
kethoro!"2 Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa doanya
dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya mendapatkan
balasannya sendiri.
Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat.
Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Ia
menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yang
berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannya
dengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,
"Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu.
Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaran
kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?"
Dengan tersenyum Zahrana menjawab,
"Justru itulah karena dalam menggambar teknik
listrik memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibu
ingin kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kita
masuk bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasa
dengan kesabaran. Dan hubungan puasa dengan
penghematan. Dan juga hubungan puasa dengan prestasi
umat Islam. Kita ke perpustakaan selama dua jam
pelajaran. Kalian membaca yang serius. Hasil bacaan
kalian, kalian presentasikan satu per satu minggu depan."
Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira.
Sebab diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang
2 Peribahasa Jawa, artinya: perbuatan baik akan diketahui, perbuatan buruk
juga akan tampak.
jarang mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana
mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain. Selalu
ada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar teknik
listrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang sangat
mengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa
kehilangan fokus utama pelajaran.
Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung
untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu.
la ingin membuat kolak untuk buka puasa. Juga
membuat mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah
menyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es
sejak siang.
Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil
sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa
yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang
ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan.
"Dari mana Bu Zahrana?" tanya Bu Zul.
"Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk
bikin kolak. Sendirian ya Bu?"
Iya.
"Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke
Malaysia beres semua?"
"Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam.
Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa."
"Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau
memang menyengaja ke sini?" tanya Zahrana santai.
"Menyengaja ke sini em..."
Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,
"Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluan
penting denganmu. Katanya ada hal serius yang ingin
beliau konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikin
kolak, kau bisa bincang-bincang dengan beliau."
Bu Zul langsung menimpal, "Maaf jika kedatangan
saya mengganggu."
"O nggak apa-apa Bu," sahut Ibunda Zahrana cepat,
"saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicara
dengan Zahrana," lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.
Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana hening
sesaat.
"Eh..konsultasi apa ya Bu?" Zahrana memecah
keheningan.
"Eh ini. Tentang Hasan, anak saya."
"Ada apa dengan Hasan, Bu?"
"Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud
menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu
termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan,
maka saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua
hari yang lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu
bagaimana? Padahal dia kan mau kuliah di Malaysia
Bu."
Zahrana mengerutkan dahi,
"Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya
Hasan menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinya
dibawa, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya
ditinggal di Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat.
Sekarang tiket pesawat juga murah."
"Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah?
Sudah layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab
menghidupi anak jika punya anak?"
"Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu.
Menurut saya Hasan sudah sangat layak menikah.
Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan
tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu
masih ragu dengan anak sendiri?"
"Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan.
Biar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru yang
penuh perjuangan dan aral melintang."
"Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti
Hasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini
dulu."
"Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri
Hasan, saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang
diajukan Hasan."
"Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu.
Dia kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?"
"Tidak Bu. Saya langsung saja ya Bu. Maaf
sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk
melamar Bu Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak
saya itu Ibu."
Zahrana kaget bagai disambar Halilintar.
"S...saya Bu?!"
"Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!"
"Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya
tidak pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu,
sungguh." Jawab Zahrana dengan nada takut dan kuatir.
la kuatir jika Bu Zul itu datang untuk membuat
perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggap
berhubungan dengan Hasan.
"Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangat
serius dalam hal ini."
"Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu."
Bu Zul malah tersenyum,
"Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?"
"Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punya
hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen dengan
muridnya Bu. Sungguh Bu!?"
Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala dan
tersenyum. Dia langsung paham maksud Zahrana.
"Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu.
Saya percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya.
Saya datang kemari untuk menunaikan janji saya pada
anak saya itu. Saya berjanji akan membantunya
menyunting gadis manapun yang ingin dinikahinya
selama akhlak dan agamanya bagus. Dan ketika Hasan
ingin menyunting Bu Zahrana, saya langsung setuju.
Sebab saya sudah tahu semuanya tentang ibu dari teman
ibu, yaitu Bu Lina. Saya berharap. Dan sangat berharap
Bu Zahrana tidak menolak pinangan ini. Ini pinangan
serius tapi belum resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya
akan meminang secara resmi dengan membawa Hasan
dan ayahnya juga beberapa anggota keluarga."
Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang
disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan sangat
jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.

"Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana
ibunda tadi?"
Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia
berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri.
"Ibu benar-benar serius?"
"Iya."
"Hasan juga benar-benar serius?"
"Iya."
"Kalian sudah tahu kekuranganku dan mau menerimaku?"
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna."
"Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawih
di masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid.
Maharnya seadanya saja."
Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak
menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.
"Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitri
saja."
"Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini.
Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi
nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Saya
hanya kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang
membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nanti
malam, atau tidak sama sekali."
Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat.
Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter.
"Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu."
"Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana.
Apa yang masih membuat Bu Zahrana ragu."
"Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila.
Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?"
"Harus bagaimana saya agar ibu percaya. Sumpah
demi Allah? Baiklah saya bersumpah demi Allah semua
yang saya sampaikan benar. Apa lagi? Hal gila? Tidak
Bu, tidak gila. Melangkah untuk mengikuti sunah Rasul
itu bukan ide gila. Itu ide baik. Dan mahasiswa meminang
dosen, apakah ada dalil yang mengharamkannya?"
"Saya tidak tahu harus bicara apa lagi."
"Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam
tanda menerima."
"Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi
adik saya."
"Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu
memang lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat
tahun. Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby
face. Bagi saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya
juga lebih muda dua tahun dari saya."
"Saya belum bisa menerima Bu?"
"Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah
dan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan
suatu cacat yang menurut ibu layak ditolak lamarannya?"
Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la
masih belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya?
Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa
yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam.
"Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan
sendiri. Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya
pamit dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon."
Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman
dengan Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang
sedan dokter itu hingga hilang di tikungan. Ada
kebahagiaan menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada
kecemasan. la memang lagi bahagia. Namun untuk
membentengi diri agar tidak kecewa lagi setelah
kebahagiaan di depan mata, ia menganggap dialognya
dengan Bu Zul tadi hanya main-main. Dialog latihan
orang bermain drama atau sandiwara.



Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu buka
puasa tiba. Zahrana meneguk kolak dan makan
mendoan. Ada kenikmatan luar biasa saat buka.
Kenikmatan yang susah diungkapkan dengan kata-kata.
Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa
merasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak
Zahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya
kecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi.
Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon
dari Bu Zul,
"Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu
Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara
Hasan ya.."
Suara di hand phone Zahrana lalu berubah,
"Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat
ibu. Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan
maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insya
Allah berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjid
dekat rumah Ibu."
"Kau serius Hasan?"
"Iya Bu."
"Kau bisa mencintaiku?"
"Iya Bu."
"Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu.
Panggil aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?"
Zahrana merasa tak perlu malu.
"Saya coba...Dik Zahrana, tunggu aku di masjid."
Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan
hamdalah menyesak dalam dada.
"Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insya
Allah."
Sambungan ditutup.
Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sang
ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. Dengan
terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi. Sang
ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur. Dalam
sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar akad
nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar angan-angan
dan mimpi.
Dan pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan
itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah
setelah shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang
membludak. Sebagian besar adalah tetangga Zahrana.
Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahrana
menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga menangis.
Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan juga
merasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasan
mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel
termewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel,
dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikan
ibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudah
lama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami.
Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manis
dengan jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketika
rambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apa
manisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi,
saling mencintai dan saling menghormati.
Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semua
derita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikan
naf asnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama orangorang
yang sabar dan ihsan. Malam itu, benar-benar
malam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid dan Takbir
Cinta yang didendangkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya.
Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaahaillallaahu
wallaahu akbar!
Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang,
Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51

Dalam Mihrab Cinta

(Sebuah "Petikan" Roman Pembangun Jiwa)
eBook by MR.

Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
Satu
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.



Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.
Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
hadapannya. Empat pengurus dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
"Nama yang sangat bagus. Benar kamu yang
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
uang. Saat itu kamar sepi, kami yang memang
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Keamanan
garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
"Hmm...Burhan ada?" tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.



Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semuanya.
Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri yang telah berlaku aniaya padanya diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan kedustaan mendatangkan petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengambilkan
uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan uangnya untuk beli baju dan
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan dapat hukuman atas kedustaanmu. Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, dan
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring dan
didudukkan di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi penggundulan itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan
dan di kakinya dilepas. Semua barang Syamsul telah
dikemas rapi dan diletakkan di gudang.
Jam sebelas malam orangtua Syamsul datang. Pak
Kiai menemui di ruang tamu pesantren. Syamsul berikut
barang-barangnya dihadirkan. Pak Kiai dan Lurah
Pondok menjelaskan semuanya.
"Maafkan kami, Pak. Inilah tata tertib yang telah kita
sepakati bersama. Syamsul terbukti mencuri maka harus
dikeluarkan." Kata Lurah Pondok santun.
"Kita mengenal wejangan orangtua kita dulu, jika
ada satu rayap di kapal maka harus segera dibuang. Kalau
tidak rayap itu bisa menjadi banyak, menggerogoti kapal
dan bisa menenggelamkan kapal serta membinasakan
seluruh penumpangnya. Itulah yang saat ini kami
lakukan. Rayap itu harus dibuang..." Ketua Bagian
Keamanan menimpal.
"Saya berharap, ini jadi pelajaran bagi Syamsul. Dan
setelah ini Syamsul berubah. Saya melihat Syamsul ini
punya potensi untuk baik dan maju." Kata Pak Kiai
bijaksana.
Ayah Syamsul, Pak Bambang, sangat malu dan
marah. Di ruang itu juga ia menampar anaknya berkalikali,
"Anak tak tahu diri! Apa masih kurang Papa
memberimu uang saku dan lain sebagainya. Kurang
uang tinggal minta, kenapa malah maling!"
Plak! Plak! Plak!
Syamsul meringis. Ia diam saja. Ia merasa tak ada
gunanya membela. Ia akan menjelaskan semuanya jika
sampai di rumah nanti. Namanya memang telah rusak.
Ia benar-benar hancur di pesantren itu. Tapi ia berharap
tidak hancur di tempat lain.
Sebelum ia meninggalkan ruangan itu ia tegakkan
kepala dan berkata setenang mungkin, "Pak Kiai,
Panjenengan sudah melakukan tindakan zalim dengan
memperlakukan saya seperti ini. Panjenengan belum
melakukan tabayun yang sesungguhnya. Dan kalian
para pengurus yang memutuskan hukuman untuk saya
dengan semena-mena, dengar baik-baik, kalian telah
melakukan dosa besar! Kesalahan besar! Ini hak adami.
Suatu saat kalian akan tahu siapa yang benar dan siapa
yang salah. Kalian akan tahu kelak siapa sebenarnya
rayap itu. Dan aku tidak akan memaafkan dosa kalian
semua kecuali kalian mencium telapak kakiku!"
Mendengar hal itu Ketua Bagian Keamanan hanya
geleng-geleng kepala. Pak Kiai tersentak, ada keraguan
berbalut kekuatiran menyusup dalam hatinya, namun
diam saja.



Sampai di rumah ia ternyata juga menemukan hal
yang sama. Ia menegaskan bahwa ia terfitnah. Ia tidak
pernah mencuri di pesantren. Namun penjelasannya itu
tidak bisa diterima oleh seluruh anggota keluarganya.
Kemarahan ayahnya juga tidak reda. Kedua kakak dan
ibunya lebih percaya pada keputusan pesantren.
"Sudah lebih baik kau mengakui dosamu itu dan
bertaubat. Sesali perbuatanmu itu dan jangan keras
kepala!" Kakak sulungnya yang sudah punya dua anak
itu marah.
Hanya adiknya, Nadia, yang tidak berkomentar.
Nadia lebih merasa iba pada kondisi kakaknya.
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke dokter untuk
diobatkan Ma. Kasihan Kak Syamsul." Kata Nadia.
Pak Bambang langsung menyahut garang, "Kita
tidak perlu kasihan sama maling. Biar dia rasakan akibat
kejahatannya!"
Tak ada yang berani membantah. Bu Bambang
masih tampak marah. Rasa marahnya saat itu mengalahkan
rasa kasihan pada anaknya itu.
Syamsul istirahat di kamarnya dengan mata
berkaca-kaca. Jika keluarga sudah tidak lagi percaya
padanya. Apalah arti hidup di dunia ini.
Nadia masuk ke kamarnya membawa peralatan
P3K. la bersihkan luka-luka kakaknya dengan air
mineral, lalu dengan rivanol. Setelah itu ia oleskan
Betadine.
"Apakah kau juga tidak percaya bahwa aku tidak
mencuri, Nadia?" Tanya Syamsul.
Nadia diam. Tidak menjawab.
"Jawab Nadia, aku butuh seseorang yang menguatkan
aku. Aku bisa gila!" Seru Syamsul serak.
"Sudahlah, Kak. Jangan bahas itu lagi. Yang penting
kakak sembuh dulu. Nadia akan rawat kakak. Kakak
jangan kecil hati, selama Allah bersama kakak, maka
kakak jangan takut bahwa semua manusia memusuhi
kakak."
"Jadi kau percaya bahwa bukan aku pencurinya?
Kau percaya penjelasanku, Nadia."
"Itu tidak penting, Kak. Saya ingin kakak berubah
lebih baik. Dan Nadia akan selalu menganggap Kak
Syamsul adalah kakak Nadia."
Syamsul kecewa. Nadia pun tidak juga mempercayainya.
Nadia membaca surat dari kakaknya itu dengan
airmata bercucuran. la langsung berteriak-teriak
memanggil Mamanya. Sang Mama datang tergopohgopoh,
begitu membaca surat itu rasa keibuannya terbit.
la pun menangis. Namun Sang Ayah dan kedua kakak
Nadia malah geram dan marah.
"Kita harus cari Syamsul, Pa. Kelihatannya dia
memang tidak bersalah. Kita harus berdiri bersama anak
kita, Pa." Kata Bu Bambang.
"Iya, Pa. Kita bisa minta polisi mengusut kasus di
pesantren itu. Kalau Kak Syamsul tidak bersalah kan
berarti dia dianiaya." Tambah Nadia.
"Kalian ini, dasar perempuan, baru membaca surat
gombal kayak gitu saja berubah. Itu hanya akting si
Syamsul. Aku sudah tidak percaya lagi sama anak
brengsek itu!" Jawab Pak Bambang marah.
"Kita lihat saja dulu perkembangannya. Paling dua
hari lagi Syamsul juga pulang." Sahut kakak pertama.
"Iya Syamsul telah memilih jalannya. Dia sudah
dewasa. Sudah lulus SMA. Biarkan ini semua jadi
pembelajaran baginya." Imbuh kakak kedua.
Jika sudah demikian Bu Bambang dan Nadia tidak
bisa berbuat apa-apa. Hanya saja dalam hati Bu
Bambang berdoa semoga Syamsul anaknya baik-baik
saja, dan mau pulang kembali.



Sudah satu minggu Syamsul pergi. la mengelana di
Kota Semarang. Tidur dari masjid ke masjid. Makan
seadanya. Dengan berbekal ijazah SMA ia melamar
pekerjaan dari kantor ke kantor, pabrik ke pabrik, tapi
belum juga diterima. Sebab semua pabrik mensyaratkan
ada keterangan surat kelakuan baik dari kelurahan.
Berarti ia harus pulang. Dan itu yang tidak mau ia
lakukan.
Ia sudah berusaha mencari kerja, tapi tak juga dapat.
Akhirnya timbul dalam pikirannya, mungkin jalannya
untuk makan adalah dengan mencuri, mencopet dan
menjambret. Ia masih maju mundur melakukan hal itu.
Akhirnya ia nekat. Ia naik bus mini warna kuning jurusan
Mangkang-Penggaron. Sampai di Jrakah ia melakukan
aksi perdananya. Mencopet.
Dan.. .naas!
Korbannya waspada. la ketahuan. la langsung
lompat dari bus. Bus berhenti. Semua orang berterikteriak,
"Copet, copet!" Orang yang mendengar hal itu
langsung berlarian mengejarnya. la lari ke arah Ngaliyan.
Terus berlari. Sampai dekatkampus dua IAIN Walisongo,
ia tertangkap. la babak belur dihakimi massa. Untung
ada patroli polisi. Nyawanya diselamatkan oleh polisi.
Berita tertangkapnya dirinya di Ngaliyan masuk
koran terkemuka di Jawa Tengah, Suara Mahardika. Juga
masuk berita televisi. Untung ia tidak bawa KTP. KTP
dan semua barangnya ia titipkan pada seorang takmir
masjid tua di dekat Pasar Bulu. Ia mengaku bernama
Burhan. Dari Jakarta.
Keluarganya di Pekalongan membaca isi koran dan
melihat berita itu. Mereka tersentak. Bu Bambang
menangis, "Ia benar-benar jadi pencuri!"
Pak Bambang dan kedua kakaknya mengatakan,
"Sudahlah ia kita ikhlaskan. Untung dia memakai nama
samaran, jadi tidak mencemarkan nama keluarga."
Hanya Nadia yang tidak percaya.
"Saya yakin copet itu bukan Kak Syamsul. Itu orang
lain yang mirip Kak Syamsul," kata Nadia.
"Kamu itu masih bau kencur. Tahu apa masalah
dunia kriminal, Nadia!" Sengit kakak kedua.
Nadia tidak bisa menjawab. Dalam hati ia ingin
membuktikan bahwa anggapannya benar.




Sejak itu ia mendekam di penjara Polsek Semarang
Tugu. Ia satu sel dengan dua orang narapida yang
tertangkap karena mencuri sepeda motor. Dua narapidana
itu mengajaknya untuk bergabung dalam
komplotannya. Ia pura-pura mengiyakan, sebab ia takut
jadi bulan-bulanan mereka. Ia diberi tahu trik-trik
mencuri sepeda motor yang canggih. Juga trik-trik
mencuri rumah orang kaya.
"Di daerah Papandayan dan Candi, Semarang atas,
banyak rumah mewah. Jika kita berhasil menggasak satu
Dua rumah saja. Kita bisa kaya mendadak." Kata napi
berkumis tebal.
Ia lalu diberi tahu peta daerah-daerah strategis untuk
beroperasi. Ia masihbimbangbagaimana meneruskan
hidup. Ia teringat cita-citanya. Ingin jadi mubaligh
ternama sekaligus pengusaha Muslim yang berhasil.
Maka setelah lulus SMA ia minta masuk pesantren sambil
kuliah. Ia memilih pesantren di Kediri. Waktu di SMA
memang ia agak nakal. Tapi dalam hati terkecil, citacitanya
adalah jadi mubaligh.
Dan kejadian di pesantren itu mengubah segalanya.
Ia teringat Burhan. Anak pengusaha dari Jakarta itulah
sumber petakanya. Ia dijebak Burhan, saat pesantren
sedang panas oleh kejadian beberapa pencurian. Uang
santri hilang. Ia jadi kambing hitam. Dan kini ia benarbenar
mendekam jadi pencuri.
Sudah satu minggu ia dipenjara. Ia mulai bosan.
Napi berkumis tebal berkata padanya,
"Kau tenang saja Bur. Minggu depan bos kami akan
datang. Dia akan menebus kami. Kau akan kami
usahakan ikut ditebus. Tapi konsekuensinya, kau harus
ikut memperkuat kami."
Ia mengangguk. Jika itu benar-benar terjadi, ia
memang benar-benar akan masuk di dunia hitam. Ia
berdoa semoga ada mukjizat yang mengeluarkannya
dari penjara. Tapi ia tidak bisa mengelak dari kejahatannya
mencopet. Ia diputuskan mendekam di sel selama
enam bulan. Satu bulan pertama ia akan menjalaninya
di Polsek Tugu. Dan ada kemungkinan dipindah ke
Penjara Kedungpane.
Siang itu ia baru saja menyantap jatahnya makan
siang. Seorang polisi datang dan membawanya keluar.
Di ruang tamu ia melihat seorang gadis berjilbab. Hatinya
berdesir. Nadia. Antara gembira dan sedih terbit dalam
hatinya. Gembira bertemu adiknya, sedih karena kini
adiknya tahu ia benar-benar seorang kriminil.
"Nadia!" Serunya pada adiknya.
Nadia menoleh ke arahnya. Kaget. Tidak percaya.
"Kau.. .kaubukanKakSs.. .s..." Nadia gagap tidak
percaya.
"Tenang. Aku kakakmu, Nadia."
Nadia menggeleng-gelengkan kepala dan menangis.
"Tidak.. .tidak.. .tidak, Kak!"
"Tenang Nadia, beri kesempatan aku bercerita. Mari
kitabicara dengan tenang."
Nadia duduk tenang. Airmatanya bercucuran.
"Kau sendirian, Nadia?"
Nadia mengangguk.
"Keluarga semua baik?"
Nadia kembali mengangguk.
"Apa mereka sudah tahu aku disel?"
"Begitu membaca koran Suara Mahardika dan
menonton berita di televisi mereka semua yakin yang
tertangkap adalah kakak, meskipun memakai nama
Burhan. Hanya aku yang tidak percaya, maka aku
kemari. Ternyata dugaanku salah. Kakak memang
seorang penjahat!"
Syamsul menangis.
"Maafkan aku Nadia. Demi Allah ini yang pertama
kali aku lakukan. Dan aku berharap yang terakhir
kalinya." Syamsul lalu menjelaskan perjalanan hidupnya
sejak pergi dari rumah sampai kehabisan uang. Dan
kejadian di Ngaliyan itu.
"Tolonglah aku, Adikku."
Nadia diam. Rasa kasihannya keluar setelah
mendengar cerita kakaknya.
"Hanya kau yang kuharapkan, Adikku.Tolonglah!"
"Bagaimana aku bisa menolongmu Kak?"
"Tebuslah aku biar aku bisa keluar dari sini."
"Berapa Kak?"
"Kau bawa kartu ATM?"
"Iya."
"Isinya berapa?"
"Tiga juta."
"Baik. Biar aku negosiasi dengan polisi dulu. Baru
kauambil uang di ATM ya."
"Baik Kak."
la lalu bernegosiasi dengan polisi. Karena ia sudah
belajar cara negosiasi dengan polisi, maka urusannya
mudah. Apalagi ia menyebut seorang nama yang ia
dapat dari kedua napi itu. Nama itu dikenal sebagai
beking para kriminal. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara
dengan menebus cuma duajuta lima ratus.
Ia berterima kasih kepada adiknya. Dan ketika
adiknya mengajaknya pulang, ia tidak mau.
"Mereka pasti sudah tidak sudi melihat mukaku."
"Tenang, Kak. Mereka akan Nadia yakinkan bahwa
yang dipenjara itu bukan kakak. Tapi Burhan. Orang
yang mirip kakak. Mereka kan tidak tahu kalau kakak
sudahbebas. Kakak bilang saja tidak pernah dipenjara.
Nadia tidak akan membocorkan hal ini pada mereka.
la tetap tidak mau. Nadia memberinya uang lima
ratus ribu, lalu kembali ke Pekalongan dengan perasaan
sedih. Syamsulberharap akan menemukan cahaya yang
terang dalam hidupnya.
Syamsul merasa tidak bisa bertahan di Semarang.
la ingin mengadu nasib yang lebih baik di tempat lain.
Maka dengan bus ekonomi ia nekat pergi ke Jakarta
setelah mengambil barang-barangnya di masjid dekat
PasarBulu.
Sampai di Jakarta ia tak tahu harus berbuat apa. Ia
tiba di Lebak Bulus pagi buta. Bingung mau ke mana.
Setelah shalat Subuh ia berjalan-jalan di terminal melihatlihat.
Ia merasa karena terlanjur nekat maka ia harus
nekat. Akhirnya ia nekat naik angkot jurusan Parung. Ia
ingin mencari masjid. Ia ingin tinggal di masjid.
Sampai di Parung ia turun, lalu berjalan kaki mencari
masjid. Bertemu dengan sebuah masjid ia utarakan
keinginannya untuk tinggal.
"Mungkin saya bisa bantu-bantu menjaga dan
membersihkan masjid. Kebetulan saya dulu dari
pesantren." Katanya pada orang yang ada di masjid.
"Maaf Dik, kebetulan sudah ada yang tinggal di sini.
Dua orang malah. Juga dari pesantren. Sekarang sedang
kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Maaf kami tidak
nambah orang."
la kecewa. Berkali-kali ia temukan masjid. la
utarakan niatnya. Dan jawabannya mirip: tidak
menerima tambahan orang. Di masjid yang terakhir, saat
itu menjelang Ashar, dan dia sangat kelelahan, takmir
masjid menyarankan agar dia mengontrak rumah saja.
"Adik kan bisa mencari kerja. Tidak harus tinggal di
masjid. Adik cari saja kontrakan di dekat masjid ini. Kalau
kami perlu bantuan, Adik, kami bisa panggil Adik. Kalau
tinggal di masjid tidak bisa. Kamarnya cuma satu dan
telah ditempati Pak Ali, imam masjid ini, bersama isteri
dan anaknya. Gimana Dik? Nanti saya bantu cari yang
murah. Oh ya siapa tadi nama Adik?"
Pada bapak yang halus budi itu, ia tidak berani
berdusta,
"Nama saya Syamsul Pak."
"Ya jadi begitu saran saya Dik Syamsul. Oh ya nama
saya Abbas. Panggil saja Pak Abbas. Kebetulan saya
Ketua RT 2 di perumahan ini."
Akhirnya ia ikut saran Bapak itu. Ia mendapatkan
rumah satu kamar. Sewa per tahunnya dua juta. Ia
menggigitbibir.
"Saya cuma punya empat ratus ribu, Pak."
"Baik. Pemilik rumah ini mengatakan katanya bisa
dicicil empat kali. Sekali cicil berarti lima ratus ribu. Kamu
ada empat ratus, bagaimana kalau yang seratus ribu saya
usahakan. Adik bisa bayar kapan saja adik ada. Tapi
cicilan selanjutnya adik usaha sendiri."
"Saya pinjam tiga ratus ya Pak. Biar saya ada
pegangan bulan ini."
"Oboleh."
Jadilah ia menyewa rumah. Sejak hari itu ia tinggal
di sebuah perumahan tak jauh dari Parung. Ia mulai kenal
dengan masyarakat. Namun sudah satu bulan ia belum
juga dapat kerjaan. Uang pegangannya tinggal lima kali
makan. Ia bingung. Ia hams berbuat apa. Cicilan rumah
bulan depan juga belum ada. Akhirnya ia berkata pada
diri sendiri, "Aku haras nekat. Minta belas kasihan orang
itu mental pecundang!"
Hari itu ia naik anggot ke Lebak Bulus. Lalu naik
Kopaja yang sesak penumpang. Ia nekat mengamalkan
'ilmu' yang didapat dari dua napi saat ia dipenjara.
Berhasil! Seorang cewekberambutkeriting jadi korban.
Ia lalu beroperasi di bus yang lain. Berhasil! Seorang ibuibu
setengah baya berpakaian modis jadi korban.
"Kalau mencopet jangan terlalu tamak. Sehari dapat
dua itu bagus. Yang ketiga dan keempat biasanya hilang
konsentrasi." Ia teringat kata-kata napi berkumis tebal.
Ia merasa harus pulang. Sampai di kontrakan ia Wrung
hasil jarahannya.
Dari dompet cewek keriting cuma lima puluh ribu.
Tapi ada kartu ATM-nya. Dari dompet ibu-ibu setengah
baya modis, lumayan, enam ratus ribu. Semuanya
serarus ribuan, enam. Ada KTP dan SIM-nya. Ia ambil
uang itu, ia masukkan ke dalam dompetnya. Sementara
dompet korbannya ia simpan di laci almari.
Meskipun diliputi rasa berdosa ia merasa lebih
tenang. Malam harinya ia pergi ke pemilik rumah nyicil
kontrakan. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama.
Dapat cuma satu korban. Ia pulang. Ia tak mau ambil
risiko. Korbannya kali ini seorang cewek berjilbab modis,
kelihatannya mahasiswi. Ya, mahasiswi setelah ia lihat
ada kartu mahasiswanya. Cantik juga, katanya dalam
hati ketika melihat fotonya. Ada foto yang lain. Foto
mahasiswi itu dengan seorang pria. Mungkin pacarnya,
gumamnya. Ia terkesiap.
"Tunggu, agaknya aku kenal dengan lelaki ini."
Katanya. Ia amati dengan seksama, "Benar. Ini si Bajingan
Burhan itu. 0 jadi ini pacar atau calon isterinya yang
lain." Ia semakin yakin ketika membaca tulisan di balik
foto berukuran 6x8 itu.
"Silvie bersama Mas Burhan di Sby."
Ia tersenyum. Ia penasaran. Ia lihat KTP cewek itu.
"Ini saatnya perhitunganku berlaku." Ia ingat Burhan
sudah serius dengan Dalmayanti, santriwati dari
Tulungagung. Putri seorang kepala KUA. "Burhan ini
benar-benar buaya! Tidak bisa dibiarkan!"
Setelah mengambil uang dan KTP dari dompet
korbannya ia melangkah keluar sambil menenteng tas
ranselnya. Sekalian shalat Ashar ia hendak pinjam
kendaraan pada Pak Abbas. Ia ingin mencari alamat yang
ada di KTP itu yang kelihatannya tidak jauh dari tempat
ia tinggal. Cewek itu ringgal di Villa Gratia, Parung bagian
timur. Sementara dirinya ada di Parung bagian barat.
Bakda Ashar ia meluncur dengan sepeda motor Pak
Abbas. Tak lama ia temukan Villa Gratia itu. Perumahan
elite. Pintu masuknya dijaga satpam. Ia tak jadi masuk.
Ia terus saja jalan. Ia harus berpenampilan yang tidak
mencurigakan. Ia teringat di ranselnya ada kopiah putih
yang biasa ia pakai kalau shalat. Ia pakai kopiah itu baru
pakai helm. Ia lihat alamat rumah cewek itu. Jl.
Flamboyan 19. Ia tersenyum. Ia sudah mantap menghadapi
satpam. Ia kembali ke Villa Gratia.
Ketika mau masuk satpam menghentikannya. Ia
lepas helmnya, sehingga tampak ia pakai kopiah.
Seketika satpam bersikap lebih ramah.
"Mau ke mana Pak Ustadz? Ke rumah siapa?" tanya
satpam itu.
Ia tersenyum dalam hati. "Baru pakai kopiah saja
langsung dipanggil ustadz. Wah boleh juga ini, aku
ternyata bakat jadi ustadz juga." Batinnya.
"Mm. Saya mau ke Flamboyan 17." Jawabnya
mantap. Sengaja ia tidak bilang Flamboyan 19. Ia teringat
pada nasihat napi berkumis tebal, "Jangan pernah
mengatakan sasaran kita sebenarnya kepada siapapun
saat observasi! Termasuk ketika bertanya atau menjawab
pertanyaan."
"O mau ke rumah Pak Broto ya. Jadi si Kecil Dela itu
sudah mau ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat
ustadz, padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Kata
satpam itu.
"Iya. Alhamdulillah. Nanti kalau dengar ada yang
mencari guru ngaji bisa bilang saya ya." Ia tersenyum.
"Ya, insya Allah, Ustadz, tapi komisinynya, Ustadz."
"Beres, Pak."
Ia lalu masuk dengan tenang. Rumah-rumah di
perumahan itu mewah semua. Seperti istana. Ia masuk
Jalan Flamboyan. Rumah bernomor 19, luar biasa besar.
Dalam hati ia berkata, "Si Burhan bajingan itu beruntung
punya mertua tajir begird." Ia lalu mencari masjid.
Ketemu masjidnya juga mewah dan bagus. Ia teringat
kata-kata satpam tadi, "Jadi si Kecil Dela itu sudah mau
ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat ustadz,
padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Ia tersenyum.
Ia berharap Pak Broto belum menemukan guru
ngaji. Ia merasa harus nekat. "Mau nyopet aja perlu
nekat, masak mau ngajar ngaji tidak nekat. Tak ada
salahnya tho copet ngajar ngaji biar dosanya terhapus
dikit-dikit." Batinnya dalam hati.
Lalu dengan mantap ia memarkir sepeda motornya
di depan rumah di Jalan Flamboyan no. 17. Ia pencetbel.
Seorang pembantu wanita agak tua membuka pintu.
"Oh, Pak Ustadz. Mau ketemu siapa?"
"Pak Broto ada, Bu?"
"Ada. Silakan masuk Pak Ustadz."
Dengan tenang ia masuk. Tak lama seorang lelaki
gemuk bersarung dan berbaju koko keluar.
"Oh Ustadz. Di mana kita pernah bertemu ya Pak
Ustadz?" Pak Broto merasa kenal.
"Mungkin di suatu masjid. Saya juga lupa Pak Broto.
Gini Pak Broto langsung saja, ada yang memberitahu
saya, katanya Pak Broto perlu guru pri vat ngaji untuk si
Kecil Delia. Apa betul?" Syamsul menjawab dengan
sangat tenang.
"Benar Pak Ustadz. Sudah ada seorang guru ngaji
yang datang tadi pagi tapi saya tidak cocok, sebab dia
tidak ada background pesantrennya. Saya ingin guru
ngaji yang pemah belajar di pesantren."
"Kebetulan saya dulu pernah nyantri di Kediri. Asli
saya dari Pekalongan Pak Broto. Sekarang saya tinggal
di perumahan di Parung bagian barat."
"O ya...ya...ya. Alhamdulillah kalau begitu.
Semoga si Delia mau. Sekarang tinggal Della-nya mi. Oh
ya nama Pak Ustadz siapa ya? Saya lupa?"
Syamsul ingin tertawa. Belum pernah bertemu tapi
merasa sudah kenal. Kadang orang kaya itu aneh.
"Nama saya Syamsul, Pak Broto."
"O ya..ya...ya. Saya panggilkan Delia dulu. Biar
segera clear urusannya."
Pak Broto lalu masuk memanggil-manggil anaknya.
Tak lama, ia kembali keluar bersama anak putri berumur
enam tahun.
"Ini Dik Delia ya?" sapa Syamsul dengan ramah.
"Iya." Jawab Delia acuh tak acuh.
"Kenalkan nama kakak Syamsul, panggil Kak
Syamsul."
"Kak Syamsul mau jadi ustadz Delia ngaji ya?"
"Iya. Itu jika Delia mau berteman dengan Kak
Syamsul."
"Kak Syamsul bisa nyanyi nggak. Soalnya Delia
inginnya tuh ustadz Delia juga yang pinter nyanyi."
"Uda Delia ingin, Kak Syamsul nyanyi apa?"
"Coba Kak Syamsul nyanyi lagu daerah dari
Kalimantan!"
"Wah kalau itu mah kecil. Nih dengerin baik-baik
ya Delia:
Ampar-ampar pisang pisangku belum masak.
Masak bigi dihubung bari-bari.
Mangga lepak mangga lepak
Patah kayu bengkok..
Syamsul lalu menyanyi dengan semangat. Delia lalu
ikut bernyanyi. Begitu lagu selesai, Delia langsung
berkata pada ayahnya,
"Saya mau ayah. Kak Syamsul pinter."
Pak Broto tersenyum, "Ya sudah kalau begitu. Ayah
mau bicara sama Kak Syamsul dulu ya. Kamu masuk
sana!"
Delia lalu masuk dengan berlari dan berteriak, "Hore
aku puny a ustadz pinter nyanyi...!"
"Alhamdulillah Pak Ustadz. Seperti yang Ustadz
dengar sendiri. Delia mau. Terus kontrak kita bagaimana?"
"Saya ikut aturan bapak saja. Saya tidak meragukan
profesionalitas Pak Broto."
Kening Pak Broto berkerut.
"Hmm baiklah. Saya samakan dengan privat
pianonya Delia saja ya Ustadz?"
"Saya ikut. Tolong dijelaskan detilnya."
"Satu minggu empat kali pertemuan. Satu pertemuan
satu setengah jam. Sehingga satu minggu ada enam jam.
Satu jamnya saya hargai seratus ribu. Jadi satu minggu
enam ratus ribu. Dan satu bulannya dua juta empat ratus
ribu. Kalau ada jam tambahan maka harga per jamnya
seratus ribu. Begitu Ustadz, bagaimana?"
"Sepakat."
"Terus pengaturan jamnya bagaimana, Ustadz?"
"Begini saja. Pak Broto saja yang bikin dengan
melihat jam kegiatan Delia. Insya Allah habis ini saya ke
masjid. Saya shalat Maghrib di masjid perumahan ini,
Insya Allah. Setelah shalat kita bicarakan di masjid
iadwalnya. Bagaimana Pak?"
"Baik Pak Ustadz. Baik."
"Kalau begitu saya pamit dulu."
Syamsul meninggalkan rumah itu dan pergi ke
masjid. Sambil menunggu ia berbincang-bincang dengan
penjaga masjid. Ia banyak mendapatkan info yang
berharga. Termasuk tentang penghuni rumah no.19 Jalan
Flamboyan. Silvie ternyata mahasiswi jurusan ekonomi
UI. Silvie anak tunggal. Ayahnya seorang pengusaha di
bidang travel dan pariwisata. Namanya Pak Heru.
"Pak Heru itu bisa dikatakan yang paling kaya di
perumahan ini. Ia punya travel yang sudah punya
cabang di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Cabang
travel-nya juga ada di Singapura, Malaysia dan Arab
Saudi." Begitulah penjaga masjid itu menerangkan.
"Hanya saja Pak Heru sedikit pelit. Kalau membantu
masjid sedikit. Masihbagusan Pak Broto yang tak pernah
hitungan kalau membantu."
Waktu Maghrib tiba. Jamaah berdatangan.
Penjaga itu yang azan dan iqamat. Saat shalat mau
didirikan penjaga masjid itu mempersilakan Syamsul
jadi imam. Syamsul ragu dan tidak mau. Tapi Pak Broto
yang sudah hadir memaksanya agar ia mau. Akhirnya
ia pun jadi imam. Dalam hati ia beristighfar sebelum
maju dan berkata, "Ya Rabbi apakah kau mau
menerima shalat hamba-hamba-Mu yang diimami
seorang pencopet?"
Ia shalat dengan membaca surat-surat pendek.
Bacaannya tartil. Satu tahun di pesantren cukup baginya
untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Usai
shalat ia berbincang-bincang dengan Pak Broto.
Kesepakatan-kesepakatan ten tang hari dan jam dengan
cepat tercapai. Di tengah asyiknya berbincang, Pak Heru
ikut nimbrung. Pak Heru bercerita tentang musibah yang
menimpa putrinya semata wayang,
"Sekali ini dia naik bus kota langsung kecopetan.
SIM, STNK, KTP, Kartu Mahasiswa hilang. Untung pas
tidak bawa ATM. Ia juga kehilangan empat ratus ribu."
Pak Broto diam mendengarkan. Demikian juga
Syamsul. Dalam hati Syamsul berkata, "Pak, si Copet
yang mencopet putri Bapak ada di depan Bapak."
Seorang jamaah yang mendengar dari kejauhan
mendekat sambil berkata, "Mungkin karena kurang
zakat kali, Pak."
"Masak? Kan tiap tahun harta saya sudah saya zakati
2,5 persen."
"Mungkin yang kurang infak shadaqahnya. Shadaqah
kan tolak balak. Bener nggak, Ustadz?"
Syamsul mengangguk.
Pak Heru terdiam. Syamsul harus minta diri pulang.
Sebab ia pinjam kendaraan Pak Abbas hanya sampai jam
delapan malam. Dalam perjalanan ia berniat untuk
taubat dan jadi manusia baik sungguhan.
Sejak itu Syamsul mulai menata hidupnya. la merasa
jika gaji privat ngajinya cukup, maka tidak perlu lagi
mencopet. Dan ia berjanji dalam hati akan mengembalikan
dompet korban-korbannya ke alamatnya
masing-masing.
Seminggu empat kali ia mengajar Delia. Dan agar
tidak mengecewakan kala mengajar, ia pergi ke toko buku
untuk membeli beberapa buku cerita anak Islami.
Dongeng-dongeng anak. Buku-buku permainan anak.
Juga psikologi anak. Syamsul berusaha sebisa mungkin
Tiga eBook by MR.
menjadikan Delia keranjingan mengaji. Tempat ngajinya
tidak melulu di ruang belajar Delia. Kadang di taman.
Kadang di masjid. Bahkan terkadang ia ajak jalan pakai
kendaraan dan mencari daerah yang enak untuk mengaji.
Pak Broto senang sekali dengan kemajuan putri
bungsunya itu.
Dari mulut Delia, Syamsul banyak tahu tentang
Silvie. Sebab Delia diajar matematika oleh Silvie. Dan
akhirnya Silvie pun kenal Syamsul. Selain mengajar
Delia, Syamsul mulai mendapat tawaran mengajar anak
yang lain. Ia merasa bisa hidup mandiri dari uang yang
halal. Saat ia merasa ada uang lebih ia langsung
menabung. Dan untuk menambah ilmu serta menguatkan
statusnya, Syamsul masuk kuliah di Institut Ilmu
Al-Quran (IIQ) Jakarta. Dengan begitu statusnya adalah
mahasiswa. Ia juga berani kredit kendaraan. Karena tanpa
kendaraan ia tidak bisa ke mana-mana.
Suatu ketika selesai mengajar Delia ia bertemu Pak
Heru di masjid. Ayah Silvie itu mengajaknya berbincangbincang.
"O jadi Ustadz Syamsul kenal dengan Burhan
Faishal yang sekarang masih di Pesantren Al Furqon?
Burhan itu calon menantu saya. Dia putra Pak Anwar
pemilik percetakan besar di Pasar Rebo lho nak."
"O ya Pak. Saya kenal sekali dengan dia. Kebetulan
saya dan dia satu pesantren. Tapi benar, Burhan itu calon
menantu Bapak?"
"Benar Ustadz. Malah Nak Burhan sendiri sudah
melamar Silvie."
"Sama keluarganya Pak?"
"Ya baru bicara bilateral dengan saya. Belum dengan
orangtuanya. Tapi dia sudah kasih cincin sama Silvie."
"Agak aneh, yang Bapak maksud Burhan yang ada
tahi lalatnya di jfdatnya?"
"Iya benar."
"Aneh."
"Aneh apa Ustadz?"
"Saya akan memberikan informasi penting. Tapi
Bapak mau bersumpah untuk tidak memberitahukan
jatidiri saya kepada Burhan Pak? Ini demi kebaikan
keluarga Bapak dan keluarga Burhan?"
"Info apa Ustadz?"
"Info penting. Kalau Bapak tidak mau bersumpah
tidak akan saya beritahu."
Pak Heru penasaran. Akhirnya ia mau bersumpah
menuruti syarat Syamsul.
"Baik Pak. Tolong dengar baik-baik. Burhan
memang santri yang cerdas. Tapi menurut saya tidak
cocok, maaf, jadi menantu Bapak. Kasihan Silvie
nantinya."
"Kenapa bisa begitu Ustadz? Ustadz jangan lancang
ya!"
"Sabar dulu Pak. Tunggu saya selesai berbicara.
Setahu saya Burhan Faishal itu sudah serius bertunangan
dengan seorang santriwati namanya Damayanti binti
Ustman. Santriwati asal Tulungagung. Saya tahu persis.
Sayang saya tidak punya foto mereka berdua."
"Ustadz jangan memfitnah dong. Ustadz jangan
main-main ya."
"Begini Pak Heru. Alamat tinggal saya saat ini jelas.
Pak Broto tahu siapa saya. Jadi kalau saya macammacam
Bapak bisa menindak saya. Saya sarankan Pak
Heru langsung membuktikan sendiri. Jangan beritahu
Silvie. Kalau Silvie diberitahu pasti akan telpon atau SMS
Burhan. Dan Burhan akan berusaha menutupi kebenaran.
Saya sarankan Bapak langsung ke Tulungagung.
Ke rumah tunangan Burhan. Saya punya alamatnya.
Baru setelah itu Bapak boleh mengambil keputusan."
"Baik Ustadz. Kata-kata Ustadz saya pegang. Mana
alamatnya."
Syamsul menulis alamat kantor di mana ayah
Damayanti kerja.
"Pak Utsman, ayah Damayanti itu kepala KUA, jadi
mudah mencarinya. Saya juga akan pegang sumpah
Bapak. Ini hanya Bapak yang tahu."
"Baik. Saya akan ke sana secepatnya. Kebetulan saya
harus melihat travel saya di Surabaya."
Dalam hati Syamsul berkata, "Saya tidak memfitnah
Burhan. Saya hanya ingin menyelamatkan Silvie dari
orang licik seperti Burhan. Ampuni saya jika ini salah
wahai Tuhan." Meskipun dia juga mengakui ia melakukan
ini juga karena didorong dendam.



Hari terus berjalan. Satu minggu kemudian, di suatu
Ahad pagi, Syamsul sedang bincang-bincang dengan Pak
Abbas mengenai kegiatan remaja masjid di dekat tempat
120
tinggalnya untuk menyambut Ramadhan. Pak Heru
datang. Syamsul kaget. Jangan-jangan terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan, hal-hal di luar yang ia perhitungkan.
Syamsul minta waktu pada Pak Abbas untuk
menemui Pak Heru.
"Assalamu'alaikum." Sapa Pak Heru.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Pak Heru?" Jawab
Syamsul.
Pak Heru malah menangis, "Terima kasih Ustadz.
Terima kasih. Kalau tidak karena info Ustadz mungkin
saya akan menanggung malu besar. Dan anak saya akan
tidak jelas masa depannya."
"Ada apa sebenarnya Pak Heru?"
"Saya sudah ke Tulungagung Ustadz. Saya sudah
bertemu dengan Pak Utsman. Apa yang Ustadz
sampaikan benar. Pak Utsman bercerita panjang lebar
tentang hubungan putrinya dengan Burhan. Sampai
akhirnya, di akhir cerita Pak Utsman menangis. Karena
pertunangan putrinya dengan Burhan itu harus dia putus
karena akhlak Burhan yang ternyata sangat buruk. Akhir
bulan kemarin Burhan dikeluarkan dari pesantren karena
terbukti mencuri. Burhan sekarang sedang disel di Polres
Kediri karena melukai pengurus pesantren dengan senjata
tajam. Saya benar-benar menyesal percaya pada anak
itu. Oleh anak itu saya dirugikan empat puluh juta. Dia
bilang pinjam buat modal usaha buka toko buku di Kediri.
Setelah saya cek toko itu fiktif."
"Saya tidak mengira sejauh itu Burhan tergelincir.
Terus Silvie gimana Pak? Apa dia sudah tahu?"
"Wa'alaikumussalam."
Begitu Pak Heru pergi, Syamsul langsung lari ke
wartel untuk memastikan kabar itu. la langsung
menelpon ke Kediri, ke kantor pengurus pesantren. Yang
menerima agaknya Lurah Pondok.
"Ini siapa ya?" tanya Lurah Pondok.
Syamsul malah gantian bertanya,
"Ini Lurah Pondok Pesantren Al Furqon Pagu ya?"
"Iya benar. Ini siapa?"
"Ini alumni pesantren tahun kemarin, Kang. Aku
dengar kabar ada sanrri yang disel di Polres apa benar?"
"Ya benar. Karena dia mencuri dan menyerang
pengurus yang akan meringkusnya."
"Dia itu yang namanya siapa itu, yang berambut
gondrong yang dicurigai banyak orang. Saya kok lupa?"
Syamsul menyelidik.
"O yang berambut gondrong itu namanya Syamsul.
Yang disel bukan dia. Aduh kalau teringat dia kami jadi
merasa sangat berdosa. Dia korban fitnah. Kami masih
ceroboh dulu. Yang dipenjara itu Burhan."
"O ya yang berambut gondrong itu Syamsul ya. Saya
kok lupa. Dia korban fitnah maksudnya bagaimana?"
"Dia korban fitnah perangkap si Burhan. Kami semua
berdosa padanya. Kami ingin minta maaf padanya. Tapi
tidak tahu dia di mana sekarang?"
"Sudah ke keluarganya?"
"Sudah. Kami minta maaf pada mereka. Keluarganya
sangat marah pada kami. Dan keluarganya
"Ya. Silvie sudah tahu semuanya. Sebab saya ke
Tulungagung langsung mengajak dia. Dia bersyukur tahu
semuanya. Dan Silvie ingin pura-pura tidak tahu. Tidak
usah berkata apa-apa pada Burhan. Dalam waktu cepat
Burhan pasti bebas dan pasti akan langsung datang.
Setelah keluarga Damayanti memutuskan hubungan,
jelas Burhan akan langsung mengejar Silvie. Saat Burhan
datang itulah Silvie ingin memberinya pelajaran atas
kedustaannya selama ini."
Syamsul hanya manggut-manggut. la merasa dalam
hal itu tidak berhak turut campur. Sekarang dia merasa
lega. la berharap berita yang dibawa Pak Heru benar.
Dengan demikian namanya yang telah hitam di mata
pesantren dan keluarganya kembali pulih.
"Meskipun Burhan itu temanku. Dalam masalah ini
saya tidak bisa ikut campur. Dan saya tidak berhak
berbicara apa-apa. Saya hanya berdoa semoga semuanya
jadi baik." Pelan Syamsul.
"Iya Ustadz benar. Oh ya Ustadz, sekali lagi kami
sekeluarga mengucapkan terima kasih atas informasinya.
Kalau Ustadz ada waktu kapan-kapan setelah mengajar
Delia, Ustadz bisa mampir ke rumah. Sebab ibunya Silvie
ingin memberikan sesuatu pada Ustadz sebagai tanda
terima kasih."
"Sama-sama Pak. Sudah menjadi kewajiban seorang
Muslim untuk saling menjaga dan mengingatkan."
"Saya pamit dulu Ustadz."
"Mari Pak Heru."
"Assalamu 'alaikum."
menyesal, karena Syamsul sudah lama minggat dari
rumah."
"Minggat dari rumah?"
"Ya. Aduh saya jadi ingin menangis. Betapa
kecerobohan kami telah menyengsarakannya."
"Masya Allah, betapa dahsyat ya dampak fitnah itu."
"Iya benar. Sangatbesar. Makanya fitnah lebih kejam
dari pembunuhan. Oh ya siapa namamu?"
"Namaku Adi, Kang. Gitu dulu Kang ya. Assalamu'alaikum.
Salam buat Pak Kiai."
la tidak bohong. Nama lengkapnya Syamsul Hadi.
Dan dia mengambil tiga huruf terakhir dari namanya,
yaitu Adi. Padahal ada banyak nama Adi di pesantrennya.
Lurah Pondok itu pasti tidak mengira kalau dia yang
nelpon. "Biarlah mereka mencariku. Dan akan aku
maafkan jika mau mencium telapak kakiku." Gumamnya
sambil matanya berkaca-kaca mengingat ketika ia
dipukul hingga berdarah-darah. Tangan dan kaki diikat.
Dicacimaki. Digunduli. Dan dikeluarkan dengan sangat
tidak hormat.
Ia juga ingat keluarganya. Nadia pasti sangat
bahagia mendengarnya. Ibu dan ayahnya juga. Tidak
tahu kedua kakaknya. Namun ia tidak akan menelpon
mereka. Ia akan pulang jika telah sukses dan jadi orang.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri. Dan
bisa berhasil. Namun tidak memungkiri ia sangat rindu
pada adiknya itu. Sore itu juga ia memberi kabar singkat
pada adiknya lewat telpon. Begitu adiknya mengangkat
hp ia bertanya,
"Ini Nadia ya?"
Adiknya itu menjawab "Ini siapa ya?"
"Nadia ini aku. Syamsul kakakmu. Kakak memberi
tahu bahwa kakak masih hidup. Kau belajar yang rajin
ya. Agar hidup mulia dan bahagia. Itu saja ya.
Wassalam."
Langsung ia tutup.



Jam lima sore usai mengajar Delia, Syamsul
menyempatkan diri bertandang ke rumah Pak Heru. Ia
ingin menghormati tawaran Pak Heru. Syamsul
disambut ramah oleh anggota keluarga itu. Bu Heru
menyampaikan banyak terima kasih. Dan banyak
bertanya kepada Syamsul. Di antaranya mengenai asalusul
Syamsul.
"Saya dari Pekalongan Bu. Dari keluarga yang biasabiasa
saja. Tidak ada yang istimewa dari saya dan
keluarga saya. Saya termasuk orang yang terlambat
kuliah. Baru tahun ini saya kuliah. Setelah lulus SMA
saya masuk pesantren." Terang Syamsul. Ia tidak mau
membuka lebih dari itu. Tidak juga bagaimana ia pernah
difitnah Burhan. Juga tidak tentang dompet Silvie yang
ia copet. Hanya dompet Silvie yang belum ia kembalikan.
Ia berniat secepatnya mengembalikan.
"Ini Ustadz sebagai tanda terima kasih. Saya ingin
memberikan hadiah untuk Ustadz. Karena bisnis kami
ini di bidang travel. Kami punyanya tiket. Kami ingin
memberikan hadiah tiket dan akomodasi umroh kepada
Ustadz, Ramadhan ini."
Syamsul senang sekali mendengarnya. Tapi ia
teringat dengan program Ramadhan untuk remaja masjid
yang telah ia rancang bersama Pak Abbas. Ia tidak mau
meninggalkannya. Dengan hati berat ia menjawab,
"Bukannya saya menolak, Bu. Sungguh saya ingin
umroh. Namun Ramadhan ini saya punya tanggung jawab
penuh mengorganisir kegiatan remaja masjid di perumahan
tempat saya tinggal. Jadi maaf saya tidak bisa."
Bu Heru kelihatan agak kecewa. Namun segera
tersenyum, "Sebenarnya kami ingin Ustadz berangkat
bersama kami. Kalau memang begitu ya tidak apa-apa.
Nanti kami ganti lain kali yang lebih baik, insya Allah."
"Ibu tidak usah memaksakan diri. Sudah menjadi
kewajiban kita saling menjaga. Sudah kewajiban saya
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan
semampu saya. Jadi ibu tidak usah repot-repot."
Pembicaraan berlanjut hingga azan Maghrib
berkumandang.
Bakda Maghrib ia pulang. Dan ia kembali teringat
adik dan ibunya di Pekalongan. Ia berdoa semoga mereka
semua dalam keadaan baik. Ia berusaha memaafkan apa
yang telah dilakukan keluarganya padanya. Termasuk
kedua kakaknya yang memperlihatkan rasa tidak
sukanya kepadanya. Ia berharap semuanya jadi baik dan
bahagia. Ia yakin ibunya sekarang pasti ingin bertemu
dengannya. Namun sekali lagi ia menegaskan dalam hati,
ia belum ingin pulang. Karenanya, agar ibunya tenang
ia akan kirim paket hadiah kejutan.




Empat
Keesokan harinya, ia ke Pasar Ciputat. Mencari dua
jilbab model terbaru. Satu untuk ibunya dan yang satu
untuk Nadia. Ia juga beli kertas kado. Ia bungkus dengan
rapi. Di dalam bungkusan itu ia sertakan sepucuk surat
yane isinya,
Ia merasa lega. Hutang-hutangnya terasa telah
terlunasi. Ia merasa siap memasuki Bulan Suci Ramadhan
dengan jiwa yang lebih mantap dan dada yang lapang.
Besok adalah hari terakhir bulan Sya'ban. Lusanya
sudah puasa.
Selesai mengirim hadiah itu ia kuliah. Dan pulang ke
kontrakan menjelang Ashar. Ia langsung merebahkan
tubuhnya ke kasur tipis yang ia gelar di atas karpet. Ia pasang
beker. Ia pejamkan mata sebentar. Beberapa detik sebelum
azan ia bangun dan ke masjid. Setelah shalat ia langsung
meluncur ke Flamboyan 17, mengajar ngaji Delia.
Selesai member! privat, ia ingin langsung pulang.
Tapi ia dicegat penjaga masjid di jalan.
"Ustadz Syamsul maaf mengganggu. Saya mau
minta tolong. Begini, nanti malam kan pengajian rutin.
Kebetulan temanya menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Lha sayangnya Ustadz Farid yang menjadi pembicara
tidak bisa hadir. Tolong Ustadz gantikan ya?" Jelas
penjaga masjid perumahan mewah itu.
"Aduh mendadak banget ya?"
"Tolonglah Ustadz. Kasihan jamaah jika tak ada yang
ngisi."
Ia mengerutkan dahi. Ia sebenarnya sangat capek
dan letih. Juga belum persiapan. Tapi ia teringat bahwa
copet untuk berbuat jahat saja berani nekat, masak untuk
berbuat baik tidak berani nekat. Akhirnya ia menjawab,
"Baiklah saya coba."
Ia tidak jadi pulang. Ia lebih baik langsung ke masjid
saja. Sampai di masjid ia dibuatkan teh hangat oleh
Lalu ia paketkan kilat tercatat di kantor pos. la
merasa bahagia bisa mengirim hadiah itu. Pada waktu
yang sama ia juga mengirim paket untuk Silvie. Isinya
adalah dompet Silvie, persis seperti saat ia copet dulu.
Tak kurang malah ia tambahi lima puluh ribu. Ia juga
tulis surat singkat,
"Yang menilai kan orang lain Ustadz. Ceramah
Ustadz bagus kok. Kita deal Ustadz ya. Jadwalnya besok
sayaberitahu sekaligus temanya. Bagaimana Ustadz?"
Ia kembali teringatbahwa copet untuk berbuat jahat
saja berani nekat masak untuk berbuat baik tidak berani
nekat. Akhirnya ia menjawab,
"Baiklah saya coba."
" Alhamdulillah."
"Nama saya Doddy Alfad. Ini kartu nama saya."
Syamsul menerima kartu nama itu.



Sore hari berikutnya, Syamsul kembali ke Perumahan
Villa Gracia. Untuk mengajar Delia dan untuk
menemui Pak Doddy berkenaan dengan ceramah pagi
di stasiun televisi swasta terkemuka. Seperti biasa
Syamsul menunggu di masjid. Sebab janji dengan Pak
Doddy adalah selepas shalat Isya.
Ketika Syamsul sedang berbincang dengan penjaga
masjid, Pak Heru datang. Wajahnya serius.
"Ustadz, keluarga Burhan mau datang ke rumah
setelah Maghrib. Apa Ustadz ikut menemui mereka?"
Pak Heru memberitahu. Mau tidak mau hati Syamsul
bergetar. Bagaimana tidak, ia diminta untuk menemui
orang yang pernah memfitnahnya.
"Tidak usah Pak. Ikut menemui dalam kapasitas saya
sebagai apa? Kan tidak jelas. Bapak dan keluarga yang
menemui kan sudah cukup." Jawab Syamsul berusaha
tenang.
penjaga masjid. Malam itu jadilah ia mengisi ceraman di
masjid yang dihadiri oleh empat ratus orang jamaah. Di
antara jamaah itu ada Pak Broto, Bu Broto, Pak Heru,
Bu Heru, Silvie dan orang-orang penting penghuni
perumahan mewah itu. Syamsul menjelaskan bagaimana
Rasulullah menyambut Ramadhan dengan persiapan
prima.
"Kita semua juga harus menyambut Ramadhan
dengan penuh rasa cinta, bahagia. Seperti rasanya
seorang kekasih menyambut datangnya kekasihnya."
Katanya memberi perumpamaan.
Para jamaah puas. Di antara jamaah itu ada
seorang Direktur Program Religius sebuah televisi
swasta terkemuka Jakarta. Isi ceramah yang ia
sampaikan agaknya mengetuk kalbunya. Bapak
Direktur itu mengajaknya berbincang-bincang setelah
ceramah.
"Gaya bahasa Ustadz enak. Diksinya enak. Timbrenya
pas. Bumbunya pas. Isinya mengena. Joke-joke-nya
berkualitas. Ustadz lulusan universitas mana?" tanya
Bapak Direktur.
"Saya masih kuliah Pak. Ini kan karena Ustadz Farid
tidak datang, maka saya dipaksa menggantikan."
"Tapi bagus kok."
Direktur itu lalu menawarkan kepada Syamsul untuk
jadi ustadz di acara ceramah pagi. "Saya lihat Ustadz
cocok. Ya satu dua kali saja selama Bulan Suci Ramadhan.
Gimana Ustadz?"
"Saya kuatir kalau saya belum pantas Pak."
"Oh ya Ustadz benar. Ya sudah itu saja Ustadz yang
ingin saya sampaikan." Pak Heru lalu kembali pulang.
Syamsul berkata,
"Lho Pak tidak shalat Maghrib berjamaah di
masjid?"
"Sebentar saya ganti baju dan ambil peci." Sahut Pak
Heru sambil tersenyum.
Syamsul memandang pemilik perusahaan travel itu
dengan tersenyum pula. Syamsul kembali ke ruang
takmir melanjutkan perbincangan dengan penjaga
masjid.
"Kenapa Pak Heru kok sekarang berubah sejak
bertemu dengan Ustadz?" kata penjaga masjid.
"Berubah bagaimana?"
"Berubah lebih rendah hati. Lebih sering ke masjid.
Dan sif at pelitnya sedikit berkurang."
"Itu bukan karena bertemu dengan saya Pak. Tapi
memang sudah saatnya berubah. Manusia kan berproses.
Umar bin Khattab saja untuk jadi baik kan juga
ada prosesnya."
Penjaga masjid itu manggut-manggut.
"Ustadz benar."
Azan Maghrib dikumandangkan dan Syamsul
kembali didaulat jadi imam. Ketika ia meluruskan
barisan ia kaget. Sepintas ia melihat Burhan masuk
masjid diikuti keluarganya. Ia tetap mengendalikan hati.
Setelah istighfar tiga kali untuk menyucikan dan
menyejukkan hati, barulah ia takbiratul ikhram.
Di rakaat pertama ia membaca Asy Syams dan di
rakaat kedua membaca Az Zilzalah. Ia meneteskan
airmata ketika membaca faman ya'mal mitsqala
dzarratin khairan yarah wa man ya'mal mitsqala
dzarratin syarran yarah.
Selesai shalat dan zikir, Syamsul memberikan
kultum. Ia mengulas dua ayat terakhir surat Az Zilzalah
yang baru saja ia baca. Burhan yang jadi makmum dan
jadi pendengar nyaris tidak percaya dengan yang ia
dengar. Dalam hati ia berkata, "Bagaimana mungkin si
Syamsul yang telah hancur itu bisa jadi penceramah?
Bagaimana ceritanya ia sampai di sini? Apakah dia sudah
tahu perkembangan terbaru yang terjadi di pesantren?"
Ada sedikit kekuatiran dan kecemasan yang menyusup
dalam hatinya. "Kalau ia sudah tahu bisa bikin masalah."
Tapi ia menghibur hatinya bahwa pasti Syamsul tidak
tahu. Dan Syamsul tidak mungkin bertindak bodoh,
sebab ia sedang jadi imam. Kalaupun Syamsul sudah tahu
apa yang terjadi di pesantren, anggapannya, Syamsul
pasti tidak tahu hubungan dirinya dengan Silvie. Putri
Pak Heru yang kaya raya itu.
Selesai kultum Syamsul langsung keluar masjid
dengan tenang. Ia melangkah di samping Burhan. Ia
pura-pura tidak tahu. Burhan berdiri mendekatinya dan
berjalan di sampingnya, membisikkan sesuatu untuk
memancing emosi Syamsul. Bisikan itu hanya Syamsul
yang dengar,
"Hai maling, gimana ceritanya kau bisa jadi imam
di sini? Apa sah shalatnya makmum yang diimami
seorang penjahat? Nanti kalau aku jadi orang sini
sebaiknya kauangkat kaki sebelum diusir dengan tidak
terhormat kedua kali!?"
Bergemuruh dada Syamsul mendengarnya. Amarahnya
membara. Emosinya sudah di ubun-ubun kepala. la
siap membalas dengan serangan yang lebih dahsyat.
Belum sempat ia bicara Delia memanggilnya,
"Ustadz Syamsul... Ustadz Syamsul?"
Suara Delia itu meluruhkan amarahnya. Menyejukkan
hatinya.
"Ada apa Delia?" Jawab Syamsul langsung menengok
ke arah Delia yang berjalan cepat ke arahnya. Ia
tidak memperhatikan Syamsul. Burhan yang masih di
samping Syamsul, ikut memandang Delia.
"Mau minta tanda tangan. Ini tugas dari Bu Guru
agama."
"Oyasini."
Syamsul menerima buku tugas dan pena dari Delia
dan menandatanganinya.
"Sudah?" tanya Syamsul.
"Masih ada satu lagi." Kata Delia. Burhan masih
belum beranjak. Masih memperhatikan.
"Apa?" tanya Syamsul.
"Ada pesan dari Mbak Silvie?"
Syamsul langsung merasa mendapat senjata unruk
menjawab bisikan Burhan yang sungguh menghina.
Untuk lebih menyerang Burhan yang ada di sampingnya
Syamsul pura-pura tanya pada Delia,
"Silvie yang mana?"
"Itu lho Ustadz, Mbak Silvie putrinya Pak Heru.
Yang biasa kasih privat matematika."
Lalu sambil berjongkok, seolah ingin memperhatikan
pesan dengan serius Syamsul melirihkan suara, dengan
bertanya,
"Mbak Silvie yang cantik itu?"
Delia mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Burhan yang mendengar hal itu hatinya terbakar luar
biasa.
"Pesannya apa?" tanya Syamsul sambil mendekatkan
ke telinganya. Burhan didera rasa penasaran
yang luar biasa.
Delia mendekatkan mulutnya dan membisikkan
beberapa kata ke telinga Syamsul. Seketika Syamsul
berkata, "Yang benar?"
"Benar. Delia berani sumpah mati!"
"Ya ya Ustadz percaya. Sampaikan pada Mbak
Silvie: Ustadz juga sama gitu ya?"
"Baik Ustadz. Cihui... Ustadz juga sama... Ustadz
juga sama!" Delia berlari ke arah jamaah putri.
Burhan tidak bisa menyembunyikan cemburunya.
la langsung bertanya pada Syamsul, "Kau kenal Silvie?"
"Maaf itu bukan urusanmu Sobat. Maaf saya tergesagesa.
Saya harus ngisi di tempat lain."
Syamsul langsung berjalan cepat ke arah sepeda
motornya. la pura-pura sibuk. la nyalakan sepeda
motornya. Sampai di jalan ia teringat janji dengan Pak
Doddy setelah Isya. Ia berpikir langsung saja ke rumah
Pak Doddy. Sementara Burhan masih dibakar amarah
dan cemburu. la ingin cepat-cepat sampai ke rumah Pak
Heru. Dan melampiaskan marahnya pada Silvie. la ingin
menanyakan apa yang disampaikan pada Syamsul itu.
"Awas kau Silvie!"



Burhan dan keluarganya sampai di rumah Silvie.
Rombongan dua mobil dari Pasar Rebo itu disambut dengan
ramah oleh Pak Heru, Bu Heru, Silvie, Pak Broto dan Mas
Budi, satpam penjaga pintu gerbang perumahan yang
sedang tidak tugas. Mas Budi memakai baju takwa, sebab
bakda shalat Maghrib langsung digandeng Pak Heru.
Silvie bersikap tenang dengan jilbab merah jambunya.
Dalam balutan jilbab mahasiswi ekonomi UI tampak
begitu anggun. Ibunda Burhan memuji kecantikan Silvie.
Dan Silvie hanya tersenyum saja. Dialog dua keluarga
terjadi. Di tengah dialog, Burhan minta waktu pada Silvie
untuk bicara berdua. Burhan ingin melampiaskan
kemarahannya. Tapi dengan halus Silvie menolak.
Burhan tampak kecewa. Pembicaraan terus berlanjut,
"Sebagaimana Pak Heru ketahui, Burhan dan Silvie
sudah lama saling mengenal. Burhan juga, katanya, telah
memberikan cincin pengikat kepada Silvie. Kedatangan
keluarga kami ini ingin menguatkan ikatan itu secara
resmi. Dalam bahasa transparannya kami ingin
meminang Silvie untuk Burhan." Jelas Ayah Burhan
dengan sangat tenang dan penuh keyakinan.
"Inilah yang kami tunggu-tunggu." Jawab Pak Heru
tenang. Burhan mendengar hal itu dengan kebahagiaan
yang sulit digambarkan.
Namun Pak Heru melanjutkan, "Sebenarnya saya
dan keluarga ingin ke rumah Pak Anwar. Hanya saja
ternyata kami didahului. Keluarga Pak Anwar lebih dulu
datang. Kami senang dengan kedatangan ini. Karena
Pak Anwar memakai bahasa transparan. Maka saya juga
akan menjawab dengan bahasa transparan. Dengan
segala kerendahan hati saya selaku ayah Silvie menyampaikan.
Saya tidak bisa menerima lamaran Pak Anwar
untuk Burhan. Karena satu dan lain hal yang semoga
kita sama-sama bisa memakluminya. Mohon maaf jika
keputusan ini kurang berkenan."
Burhan dan keluarganya tersentak kaget bukan
kepalang.
"Apa saya tidak salah dengar Pak?!" seru Burhan
spontan sambil berdiri. Karena yang berbicara Burhan,
Silvie langsung menukas, "Tidak!"
"Apa?!" Burhan mengulang dengan sedikit lebih
keras.
"Apa telingamu bermasalah, Bung. Ayahku cukup
berbicara satu kali. Tak perlu diulang. Ini cincin dustamu
itu saya kembalikan! Dasar santri bajingan!" Darah muda
Silvie bergolak. la yang biasanya berbicara lembut saat
itu amarahnya meledak.
Pak Anwar yang sebenarnya marah mencoba
meredakan suasana yang sama sekali jauh dari yang ia
bayangkan itu.
"Sebentar-sebentar, masalah sebenarnya apa?
Kenapa Pak Heru menolak. Tolong bisa dijelaskan. Mari
kita berdialog dengan kepala dingin. Mungkin ada salah
paham."
"Saya ingin Pak Anwar menerima dan menghargai
keputusan kami. Meskipun tanpa alasan sama sekali. Toh
sebenarnya antara Silvie dan Burhan tak ada ikatan apaapa
secara agama. Saya tidak perlu menjelaskan. Kiranya
Pak Anwar pasti sudah mengerti alasan kami. Kalau kami
menjelaskan nanti malah semakin tidak enak." Jawab
Pak Heru tenang.
"Tidak bisa Pak! Tidak bisa menolak tanpa alasan.
Tolong jelaskan! Atau jangan-jangan saya tidak diterima
karena Silvie sudah tidak layak bagi saya!" tukas Burhan.
"Burhan, kalau bicara yang sopan! Silvie sudah tidak
layak bagaimana? Apa maksudmu?" seru Pak Anwar,
ayah Burhan.
"Ya sekarang kan zaman edan. Bisa saja tho Silvie
sudah hamil dengan pria lain misalnya?"
Jawaban Burhan itu membuat emosi Silvie tak
tertahankan,
"Tutup mulutmu, Bajingan! Aku sudah tahu siapa
kamu? Kau tak lebih dari sampah busuk! Dikeluarkan
dari pesantren karena mencuri dan memfitnah orang!
Dipenjara karena melukai orang. Penipu ulung, mana
modal empat puluh juta yang kaupinjam untuk toko
bukumu itu. Toko buku fiktif. Terus bagaimana dengan
Dalmayanti? Setelah kau ditolak di Tulungagung kau
lari ke sini. Jika sampah itu telah dibuang dari pesantren
dan tidak diterima di mana-mana apa kami harus
menerima. Bukankah lebih baik sampah itu didaurulang
dulu agar berguna. Kalian ini ingin dihormati tapi tidak
bisa menghormati. Dan kau Pak Anwar, sudah tahu
anaknya sampah masih juga tidak tahu diri! Mungkin
kalian tidak percaya yang saya sampaikan! Masih ingin
bukti? Ini!"
Silvie melempar Koran. Koran itu mcnggeletak di
meja. Ada sebuah judul yang tertera jeas: DIPENJARA
KARENA KEJAHATAN DI PESANTREN. Dan terpampang
jelas foto Burhan yang gundul. Melihat hal itu
Pak Anwar dan isterinya langsung pucat pasi. Mereka
sangat malu.
"Hei, Maling, apa kaukira bisa menipu kami bahwa
gundulmu itu karena umroh, bukan karena digunduli di
pesantren!"
Kata-kata Silvie sangat mengguncang Burhan. la
tidak kuasa menahan amarahnya.
"Kurang ajar kau! Berani menghina aku ya!"
Dan., plak!
Dengan cepat Burhan menempeleng Silvie. Kejadian
itu sungguh tidak diduga. Burhan kembali Ingin
menghajar Silvie. Namun Mas Budi cepat bertindak. la
segera mengatasi Burhan. Burhan melawan, tapi Mas
Budi yang jago karate itu dengan mudah melumpuhkannya.
Mulut Silvie berdarah. Sambil meringis ia berkata,
"Saya tidak terima. Ini harus diproses hukum!"
Pak Anwar, dengan berlinang airmata berkata
terbata, "Nak Silvie, Pak Heru dan Bu Heru maafkan
kami. Sungguh kami sangat terpukul.Baru kali ini kami
tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak kami.
Selama ini kami percaya penuh padanya. Kami memang
kurang kontrol dan terlalu memanjakannya. Saya tidak
tahu dengan apa yang telah diperbuatnya sampai dia
dikeluarkan dari pesantren dan dipenjara. Saya juga tidak
tahu perihal penipuannya. Maafkan kami. Tapi tolong
jangan laporkan Burhan ke polisi. Saya minta..."
Silvie menggeleng.
"Tindak kejahatan harus diproses oleh hukum!"
Silvie lalu minta Mas Budi mengamankan Burhan.
Burhan langsung digelandang ke pos satpam. Di pos
satpam, Burhan diberi pelajaran tambahan oleh dua
orang satpam.
Keluarga Burhan pulang dengan membawa malu
luar biasa. Seorang lelaki berjas abu-abu berkata pada
Pak Anwar dengan kesal bercampur marah, "Saya
sangat malu pada Pak Heru. Pak Heru itu teman baik
saya di SMA. Saya jadi tahu kenapa tadi Pak Heru
pura-pura tidak kenal saya. Itu gara-gara ternyata saya
mengantar seorang penjahat ke rumahnya. Mengantar
seorang penjahat untuk melamar anaknya. Saya malu
Pak Anwar! Sejak sekarang hubungan bisnis kita
putus!"
Ketika polisi datang mengambil Burhan dari pos
satpam, di saat yang sama Syamsul mengambil
jadwalnya dari Pak Doddy dan ia meneken kontrak
tayang di televis. Tanda tangannya bersanding dengan
tanda tangan orang penting di stasiun televisi itu.
Angin yang bertiup spoi-spoi seolah mengalunkan
firman Allah, faman ya'mal mitsqala dzarratin khairan
yarah zva man ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah.
Ramadhan tiba. Kaum Muslimin menyambutnya
dengan penuh bahagia. Syamsul sibuk dengan jadwalnya:
mendampingi kegiatan remaja masjid, imam
tarawih, privat, kuliah, ceramah, dan shooting ceramah
di televisi.
Ia muncul di televisi dua kali selama Ramadhan.
Tanggal 9 Ramadhan dan tanggal 27 Ramadhan. Ia
mempersiapkan ceramahnya dengan sungguh-sungguh.
Ia ajak remaja masjid untuk menyertainya latihan.
Seolah-olah di studio. Mereka sebagai audiens nya. Ia
minta masukan dan kritikan. Sampai menemukan
bentuk dan performa terbaik.
Tanggal 8 Ramadhan ia menelpon Nadia adiknya.
Ia meminta untuk nonton ceramah pagidi stasiun televisi
Ajam D. "Jangan sampai tidak nonton. Kakak ikut dalam
pengajian itu. Ia tidak mengatakan sebagai pembicaranya.
Beritahu ayah, ibu dan kakak ya."
Ia juga menelpon pesantrennya. Kepada kurah
Pesantren ia bilang,
"Kang tolong besok seluruh santri nonton ceramah
pagi distasiun televisi A jam D. Pengisinya seorang Ustadz
muda alumnus pesantren kita. Jangan lupa sampaikan
pada Pak Kiai." Ia tidak bilang itu dirinya. la masih
mengaku sebagai Adi. Seperti di telpon sebelumnya.
Pada hari H, ia tampil dengan sangat prima di
televisi. Ceramahnya hidup. Direktur Program dan para
kru televisi memuji. Di Pekalongan, adiknya Nadia,
ibunya, ayahnya dan kedua kakaknya menangis.
Demikian juga di pesantrennya.
Di Flamboyan 19 Silvie menyaksikan dengan hati
penuh cinta. Tanpa sadar, ia berucap, "Orang seperti ini
yang kudamba. Sederhana. Rendah hati. Namun penuh
potensi!" Kata-kata Silvie itu didengar dengan baik oleh
Pak Heru dan Bu Heru.
"Baiklah kita datangi Ustadz Syamsul nanti sore
sebelum kita terlambat. Semoga dia belum punya calon."
Kata Pak Heru menukas.
Silvie terkesiap mendengarnya. Lalu hatinya
berbuhga-bunga. Ia mengamini doa ayahnya. Dalam
hati ia berharap di Bulan Suci Ramadhan ini ia
mendapatkan cinta sejatinya. Sejenak pikirannya
berkelebat, teringat pada pesan sebuah buku yang pernah
dibacanya, "Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan.
Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk
memberikannya kepada orang lain. Kamu selalu
memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada
orang lain." Silvie teringat pesan itu. Ia ingin memberikan
cintanya kepada Ustadz Syamsul. Karena ia yakin, ia
benar-benar memiliki cinta untuk diberikan kepada
Ustadz Syamsul, ustadz idaman yang kini memenuhi
ruang hatinya.



Sidang pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt.
Bagaimanakah kisah cinta Silvie dan Syamsul
selanjutnya? Akankah Syamsul menerima lamaran si
Silvie? Bagaimanakah kehidupan Syamsul selanjutnya?
Akankah ia makin sukses di kehidupannya mendatang?
Dan Bagaimanakah kelanjutan cerita Syamsul seleng-
kapnya? Bagaimana sikap keluarga dan pesantrennya
yang dulu mengusirnya? Temukan saja jawabannya di
edisi romannya: DALAM MIHRAB CINTA, yang semoga
bisa segera diluncurkan. Mudah-mudahan Allah
memberikan kekuatan kepada kita semua untuk beramal
kebaikan di dunia ini untuk bekal kelak di akhirat nanti:
faman ya'mal mitsqala dzarratin khairaii yarah wa man
ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah.
Candiwesi, Salatiga-Pesantren Basmala,
Semarang-Malaya University, Malaysia,
17 Agustus 2006 - 27 Desember 2006.





Mahkota Cinta
(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)
145
eBook by MR.
Satu
Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan
terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari
riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari
karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia
tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang
bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor
Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa-
siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.
la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang
melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani
berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang
lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin
jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak
menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,
Malaysia.
"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan
muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu
memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia
perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya
balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia
mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama
ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang
lebih baik.
"Kok malah bengong Dik."
"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk duaduanya.
Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di
mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."
"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak
kerja di mana?"
"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang
Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya
banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan
menjabat tangan perempuan muda itu.
"Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh temanteman
saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein."
"Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?"
"Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan
Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat
saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak
terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja
saya Zul Mbak."
"Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata
perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan
tangannya.
"Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"
Perempuan muda itu malah tertawa kecil.
"Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu
artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan
di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang
minyak. Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang
Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas."
"Obegituya."
"Rencananya nanti mau ke mana? Di Malaysia sudah
ada tempat yang dituju?"
"Tempat yang dituju secara pasti tidak ada. Saya
hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon.
Saya ingin sampai ke Kuala Lumpur dulu, baru setelah
itu saya akan telpon orang itu."
"Ya syukurlah. Saya pun nanti lewat Kuala Lumpur.
Kalau mau kita bisa jalan bersama."
la diam saja. Tidak menjawab apa-apa.
Lintas Samudera terus melaju. Tidak terlalu cepat.
Dan juga tidak terlalu lambat.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam,
Lintas Samudera merapat di pelabuhan Johor Bahru.
Begitu pintu feri dibuka, para penumpang berebutan
keluar. Zul keluar dengan membawa tas cangklong hi tarn
dan tas jinjing besar biru tua. la mengiringi Mari yang
berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas
cangklong putih dan koper kecil beroda warna hijau.
Mereka berjalan menuju gedung pelabuhan.
Petugas security pelabuhan sibuk memeriksa barang
bawaan para penumpang. Tas dan koper Mari
diperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Mari
dipersilakan langsung menuju imigrasi. Tas jinjing Zul
juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa
makanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil
pemberian Pak Hasan kala ia berpamitan, sebelum
berangkat. Petugas security itu memerintahkannya
untuk terus jalan. Zul bergegas menuju imigrasi. Mari
sedang serius mengisi formulir kedatangan untuk
imigrasi.
"Harus diisi semua ya Mbak?" tanya Zul.
"Ya. Kecuali kolom yang khusus diisi petugas
imigrasi," jawab Mari sambil tetap menulis. Sesekali ia
mencocokkan apa yang ia tulis dengan paspornya.
"Ini kolom alamat selama di Malaysia juga harus diisi
Mbak."
"Sebaiknya iya."
"Wah saya belum punya alamat Mbak."
"Pakai alamat saya juga tidak apa-apa."
"Di mana Mbak?"
"No. 8A, Jalan USJ 1/18, Taman Subang Permai,
Subang Jaya. Nanti kalau pihak imigrasi tanya untuk
apa datang ke Malaysia, bilang saja untuk melancong
dan mengunjungi saudara."
"Iya Mbak."
Keduanya lalu masuk konter imigrasi. Tak ada
masalah berarti. Petugas imigrasi sama sekali tidak
bertanya apapun kepada Mari. Sebab ia masih punya
visa multientry. Sedangkan Zul hanya ditanya untuk apa
datang ke Malaysia. Zul menjawab seperti yang
disarankan oleh Mari. Begitu keluar dari gedung, puluhan
sopir taksi menawarkan jasanya. Mari menjawab tegas
bahwa ia sudah ada yang menjemput. Zul agak bingung
menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya.
Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke
arah Mari yang melangkah dengan mantap. Mari
menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan agar ikut
dengannya. Zul merasa tidak ada salahnya pergi ke
Kuala Lumpur bersama Mari. Apalagi ia benar-benar
asing di negeri Jiran ini.
"Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Stesyen
Larkin. Dari Larkin kita naik bus ke Purduraya KL." Jelas
Mari.
Sepuluh menit kemudian bus datang. Mari, Zul dan
puluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar
mereka ke Stesyen Larkin. Dari Larkin Mari mengajak
Zul ke loketbus Trans Nasional.
"Biar saya yang bayar Dik."
"Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak."
"Anggap saja kita bersaudara. Jadi santai saja."
"Satu orangnya berapa Mbak?"
"Dua puluh empat ringgit. Kita pakai bus yang ada
toiletnya. Biar nyaman di perjalanan. Yuk kita segera
naik. Sepuluh menit lagi bus akan berangkat."
Mereka berdua naik bus Trans Nasional. Zul dan Mari
duduk di kursi yang berdekatan. Selain wajah Indonesia,
tampaklah wajah-wajah China, India dan Melayu
menjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah
Indonesia, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebab
sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah.
Bus berjalan keluar stesyen. Lalu melaju membelah
kota Johor Bahru dengan kecepatan sedang. Setengah
jam kemudian bus itu sudah meninggalkan Johor
Bahru, dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus
itu membelah perkebunan kelapa sawit. Zul memandang
ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah
rimbunan pohon kelapa sawit yang bagai berlarian ke
belakang.
"Dari logat adik bicara, sepertinya adik orang Jawa."
Mari membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting
jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia
tampaknya agak kedinginan.
"Iya Mbak benar. Saya asli Demak Mbak. Kalau
Mbak?"
"Saya juga Jawa Dik. Saya asli Sragen."
"Maaf, e... Mbak sudah berumah tangga?"
"Sudah."
"Sudah punya anak dong Mbak?"
"Belum. Bagaimana mau punya anak lha wong
rumah tangga saya hanya berumur dua minggu."
"Cuma dua minggu?"
"Iya bisa dikatakan demikian."
"Suami Mbak meninggal?"
"Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma dan
rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."
"Maafkan saya Mbak, jadi mengingatkan pada halhal
yang tidak Mbak sukai."
"Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian
itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya.
Memang menyakitkan jika diingat." Kata Mari sambil
mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang
menyesak dalam dadanya.
Zul diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la
kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana.
"Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk
sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan
daripada selama perjalan diam saja/' Mari kembali
membuka percakapan. "Tidak apa-apa kan? Kau mau
mendengarkan kan Dik?" lanjutnya sambil memandangi
Zul. Zul jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Zul mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus
ke depan. Mari mulai bercerita,
"Saat itu saya masih kuliah di UNS Solo. Saya
berkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya
itu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya W. Saya tidak
mau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah mengharamkan
diri saya untuk menyebut namanya. Saya
sangat membencinya hingga tujuh turunan.
"Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah
gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah
terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya W mengerti
benar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah
masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat
dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu
memakai mobil mengkilat. Orangtua W adalah saudagar
kaya di Klewer dan Tanah Abang Jakarta. Dia sering
datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya
dengan limpahan hadiahnya.
"Sampai akhirnya W mengatakan bahwa dia sangat
mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya
seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat
gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya.
Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan W,
karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak
Modin yang sedang kuliah di IAIN Walisongo Semarang.
Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu saya
itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang
membuat saya menderita dan menanggung nestapa.
"Ringkas cerita, kami pun menikah. Kami menikah
tahun 1998. Ia langsung memboyong saya ke Solo Baru.
Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana.
Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Seminggu
setelah menikah, W pamit untuk pergi ke Jakarta. Dia
bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapa
hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit seperti
runtuh menimpaku. W tertangkap polisi dalam keadaan
over dosis dengan seorang pelacur Jakarta. Ia masuk bui.
Keluarganya tidak peduli.
"Kakak perempuannya bahkan terang-terangan
mengatakan sangat membenci W. Dari kakak perempuannya
itulah saya tahu bahwa W sesungguhnya
lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripada
makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris
muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwa
dirinya pernah diperkosa oleh W saat W sedang sakau.
Ia tidak berdaya karena W mengancam akan membunuhnya.
W itu tega memperkosa kakak kandungnya
sendiri, apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui
batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung
mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benarbenar
jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak
akan menikah lagi!"
Ada nada amarah dalam kata-kata Mari. Ada
kebencian yang luar biasa di sana. Zul merasa ngeri
mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap
bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas
seratus kilometer per jam. Mari diam tidak melanjutkan
ceritanya. Pandangannya lurus ke depart. Jika diamati
lebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkacakaca.
Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam.
Akhirnya Zul memberanikan untuk membuka suara,
'Apa Mbak sampai sekarang masih jijik dengan
kaum lelaki. Termasuk saya?"
Mari mengambil nafas dalam-dalam,
"Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya
tidak boleh menimpakan dosa seorang W pada semua
kaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat
panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada
kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada
lelaki saya pernah punya keinginan untuk hidup
berumah tangga dengan kaum perempuan saja."
"Sampai seperti itu Mbak."
"Iya. Gila bukan? Tapi jangan takut. Saya katakan,
saya pernah punya keinginan. Hanya pada taraf
keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak
lagi."
"Sejak kapan Mbak bisa kembali normal memandang
dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan
kembali normal memandang dunia, termasuk kaum
lelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma
pada lelaki itu sikap tidak normal."
"Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemu
dengan seorang Ustadzah. Dia lulusan pesantren. Dia ikut
suaminya yang sedang mengambil program doktor.
Ustadzah itu begitu sabar menyempatkan waktu untuk
memberikan pencerahan kepada kami, para tenaga kerja
wanita. Dan ia begitu sabar mendengarkan semua
keluhan saya. Saya pernah diajak oleh Ustadzah itu tidur
di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumah
tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih
sayang suami Ustadzah itu kepada keempat anaknya
yang semuanya perempuan. Sejak itulah saya tahu
bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini."
"Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?"
"Ya tentu saja punya. Namun ayah saya sudah tidak
ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat
apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak
tertua saya lelaki. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya."
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah
rerimbunan kebun kelapa sawit yang tampak hijau tua.
"Bagaimana ceritanya Mbak bisa sampai ke
Malaysia. Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"
"Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat saja
ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia
sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah di
Solo Baru disita polisi karena ternyata suami punya
piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya.
Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak
ragil. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Mereka
juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan
mereka.
"Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari
kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah
sebelum menikah saya sudah selasai D.3
Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D.3, saya
diterima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. Saya hidup damai
kurang lebih dua tahun. Saya bahkan sempat nyambung
kuliah, dan menyelesaikan S.l di sebuah Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi di Jakarta.
Tapi tiba-tiba entah bagaimana, mantan suami saya
itu bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia
sudah keluar dari penjara dan meminta saya agar
kembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi
meninggalkan Jakarta hari itu juga. Saya bersembunyi
ke Bandung. Di Bandung ada agen pengiriman tenaga
kerja ke Malaysia. Saya ikut agen. Akhirnya saya
mengadu nasib dan terbang ke Malaysia. Sampai
sekarang saudara-saudara saya tidak saya beritahu kalau
saya di Malaysia. Terakhir saya nelpon mereka saat saya
masih di Bandung. Saya kuatir mantan suami saya itu
akan mengejar saya."
"Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah
perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi
oleh hukum?"
'Ah kamu ini Dik. Apa selama ini kamu hanya hidup
di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela
pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia
mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum. Lebih
baik saya di Malaysia dulu, baru kalau saya sudah
mendengar si W itu telah mampus, saya akan balik ke
Indonesia. Walau bagaimanapun saya punya saudara
dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidup
berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akan
menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan
sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya.
Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih percaya
bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu adil dan Dia juga Maha
Penyayang. Saya masih percaya itu Dik."
Zul hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak hanya
dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumit
dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya
bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumit
yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.
"Kalau adik, bagaimana? Bagaimana bisa sampai
harus ke negeri Jiran ini? Adakah cerita yang bisa dibagi
dan didengar?" Mari balik bertanya. la merasa selama
ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian mendengarkan
cerita dari Zul.
"Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini tak
kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya
saja saya merasa tidak harus sekarang saya menceritakannya.
Saya janji saya akan gantian membagi
cerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa
bertemu di negeri Jiran ini. Itu pun kalau Mbak benarbenar
masih sudi menemui saya."
"Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?"
"Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu."
"Ah, kamu ini. Ya saya akan merasa jijik sama kamu
jika kelakuan kamu ternyata tidak berbeda dengan si
W, mantan suami saya itu."
"Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya
berbeda dengan mantan suami Mbak. Kenapa Mbak
tidak waspada? Kenapa Mbak justru malah mengajak
saya jalan bersama?"
Mari tersenyum, lalu menjawab,
"Dengar ya Dik. Orang yang sudah pernah terluka
seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang
brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya.
Dari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah
tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu
mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya
bisa meraba watak seseorang dari gerak dan binar
matanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata
kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana
mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan
baik-baik dan perempuan tidak baik!"
"Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?" sahutnya
sambil melihat ke luar jendela.
"Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke
depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu berubah."
Jawab Mari tegas. Zul merasakan ketegasan itu. Kalimat
dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan
kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya.
Dari ketegasan itu, Zul mengerti bahwa
perempuan muda di sampingnya adalah perempuan
yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan.
Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di
sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak
dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya
perlahan dan memandang ke arah wajah Mari. Mari
ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya
bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam
hati Zul. Wajah Mari tampak kurus, tapi ada aura
ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang
mampu membuat hati Zul merasakan getaran halus
yang masuk begitu saja.
"Apakah ada kilatan binar serigala dalam mataku
Mbak?"
Mari tersenyum, dan menjawab,
"Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki ada
binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah
menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan
untuk menjaga pandangan."
Mendengar jawaban Mari, Zul diam dan tidak
berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar
jendela. Ia memandang rerimbunan pohon kelapa sawit
yang seperti berlomba-lomba lari ke belakang. Dalam
hati Zul membenarkan perkataan Mari. Sebab saat ia
memandang wajah dan mata Mari dengan seksama, ia
menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya
menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukan
kalimat untuk menjawab perkataan Mari,
"Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu
memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala.
Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga.
Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak
berubah menjadi manusia serigala."
Mari tersenyum mendengarnya.




Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki
kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja
di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar
dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang
masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh
lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang
menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,
mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.
"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak
kelihatan?" tanyanya pada Mari.

Dua
"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah
ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah
Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah
Menara Kembar.
"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."
"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu
yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan
di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah
menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya
taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis."
Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan
di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman
KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa
dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman
Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan
mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.
Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah
menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya,
tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya
jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya
ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman
KLCC itu.
Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah
memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera
menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta
ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi
jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung
pada ketidakpastian.
"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas.
Orang tua saya minta saya segera menikah. Tahun ini.
Jika Mas mau ya tahun ini. Jika tidak ya anggap saja
kita tidak berjodoh. Ini demi kebaikan saya dan Mas."
Itulah kata-kata Najibah yang masih ia ingat terus. Katakata
yang tidak mungkin ia lupakan, karena saat itu ia
tidak berdaya apa-apa sebagai seorang lelaki. Ia sama
sekali tidak bisa memenuhi harapan orang yang
dicintainya. Jangankan biaya untuk menikah, biaya
untuk makan sehari-hari saja ia sering tidak punya. Ia
benar-benar merasakan betapa susah jadi orang tidak
punya. Sampai untuk menikahi orang yang dicintai saja
tidak bisa. Ia benar-benar sedih dan menderita jika
mengingatnya.
Sesungguhnya Najibah itu bukanlah gadis yang
materialistis, ia tidak minta apa-apa, selain akad nikah.
Namun akad nikah itu ada biayanya. Dan itu yang ia
tidak punya saat itu. Ia benar-benar tidak punya. Ia
merasa dirinya adalah orang paling miskin papa sedunia.
Ah, ia berusaha melupakan peristiwa itu. Namun
belum juga bisa. Bahkan sampai ia sudah di Kuala
Lumpur pun peristiwa itu masih saja teringat olehnya. Ia
yang mengalami peristiwa yang tak setragis Mari saja
masih dibayangi oleh peristiwa itu, apalagi Mari. Wajar
jika perempuan muda itu sampai mengalami trauma.
"Heh, melamun apa! Kita sudah sampai di Purduraya!
Ayo siap-siap turun!"
Zul kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Kita sudah sampai Mbak?"
"Iya. Ayo turun. Itu orang-orang sudah pada turun."
Mereka berdua lalu turun dari bus. Lalu naik ke lantai
dua. Tempat dimana para penumpang berkumpul
menunggu bus. Tempat dimana penumpang datang dan
pergi. Di lantai dualah puluhan waning penjual oleh-oleh
dan makanan dibuka. Juga di lantai dualah puluhan agen
bus membuka konter.
"Mbak ini sudah Maghrib ya?" tanya Zul.
"Iya sudah. Gini saja. Kita shalat dulu gantian. Tempat
shalat dan tandas ada di lantai tiga. Kita naik ke sana."
"Tandas itu apa Mbak."
"Toilet. Kalau bahasa orang Demak kakus."
"Wah kok nadanya agak menghina orang Demak
thoMbak."
"Kamu ini lelaki kok sentimentil begitu. Ayo kita naik!"
Mereka berdua lalu naik ke lantai tiga. Mereka ke
tandas dahulu, baru ke surau. Mereka shalat bergantian.
Selesai shalat Zul bingung. la baru sadar kalau ia tidak
memiliki tujuan yang jelas. Mari hanyalah teman
bertemu di perjalanan.
"Inilah Kuala Lumpur Dik Zul. Ya selamat datang
di Kuala Lumpur. Semoga nasibmu berubah di sini.
Berubah jadi baik. Tidak sebaliknya. O ya, jadi kau mau
menginap di mana?"
"Wah jujur saja Mbak. Saya tidak tahu harus
menginap di mana."
"Katanya kau mengantongi sebuah nama dan nomor
telpon itu bagaimana?"
"Ya, saya coba telpon dulu Mbak."
"Pakai hp saya saja Dik, tak usah pakai telpon umum.
Tuh telpon umum antrenya kayak gitu," Mari mengulurkan
hand phone-nya..
Zul menerima hand phone itu dengan tangan
kanannya. Sementara tangan kirinya merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sobekan kertas. Lalu memanggil
nomor yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat ia
menunggu tidak ada jawaban. Lalu ia ulangi lagi. Empat
kali ia memanggil dan tidak ada yang mengangkat.
"Bagaimana Dik?"
"Tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mungkin sedang shalat. Kalau gitu ayo kita cari
makan dulu. Saya lapar. Setelah makan ditelpon lagi."
"Boleh."
Mari berjalan di depan. Ia sangat hafal seluk beluk
Terminal Purduraya. Dan bisa dipastikan bahwa
pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar Kuala
Lumpur sangat akrab dengan terminal bus paling
padat di Kuala Lumpur ini. Mari memilih makan di
Kak Long Cafe. Sebuah cafe milik seorang Muslimah
keturunan China.
"Bisa jadi kita nanti akan sulit bertemu. Bahkan
mungkin akan tidak bertemu. Namun siapa tahu adik
perlu bertemu dengan saya suatu hari nanti. Atau perlu
bantuan saya. Saya akan kasih nomor telpon saya. Bisa
ditulis?" kata Mari selesai makan.
"Bisa Mbak. Terima kasih ya atas segalanya. Berapa
Mbak nomornya?" jawab Zul.
"0176767676. Bacanya mudah 01 terus tujuh enam
empatkali."
"Wah mudah diingat Mbak."
"Coba orang yang kautuju itu dikontak lagi."
Zul langsung menelpon nomor yang ia telpon
sebelumnya. Beberapa kali ia telpon tapi tidak juga
berhasil.
"Tetap tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mmm...." gumam Mari sambil mengerutkan
keningnya.
"Saya coba lagi Mbak."
Zul kembali melakukan panggilan. Tidak juga
berhasil.
"Bagaimana, tidak berhasil juga?" tanyaMari.
"Iya."
"Kau di sini asing. Kalau tidak ada teman kasihan.
Kalau kau mau kau bisa ikut saya menginap di tempat
saya."
"Menginap di tempat Mbak?"
"Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Di tempat
saya ada tiga kamar. Kau bisa menginap di salah satu
kamarnya. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah.
Besok kau bisa mencari orang yang kautuju itu. Itu kalau
kau mau."
Zul terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapasiapa
di Kuala Lumpur ini. Nama yang ada dalam
sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama
itu adalah nama kenalan Pak Hasan. Katanya ia adik
kelas Pak Hasan sewaktu kuliah di Jogja yang sekarang
bekerja di Kuala Lumpur. Dan jujur ia memang perlu
istirahat. Perjalanan dari Batam sampai Kuala Lumpur
cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum
berangkat ia kerja lembur di sebuah bengkel.
"Bagaimana Dik? Kalau kau mau ayo kita berangkat.
Mumpung belum terlalu malam. Atau kau mau tidur di
bangku itu, ya tidak apa-apa. Tapi jangan kaget kalau
nanti ada operasi polisi dan kau dianggap gelandangan.
O ya bisa juga kau menginap di hotel Purduraya ini.
Tinggal kau jalan ke atas. Tapi ongkosnya ya lumayan."
Mari menjelaskan beberapa pilihan untuk Zul.
Zul masih belum mantap menentukan salah satu
pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang
yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin
harus menghemat.
"Sudahlah Dik ayo ikut saya saja. Besok kau bisa
pergi ke mana kau suka. Ayo!" Kata Mari dengan tegas
seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata
Mari membuat Zul seolah menemukan pilihan terbaik.
Ia pun mengikuti langkah Mari. Mereka keluar
menyeberangi jalan raya. Mari berjalan dengan cepat
meskipun ia harus menyeret tas kopornya. Zul berusaha
mengimbangi di sampingnya.
"Kita mampir di supermarket sebentar. Lalu kita ke
Terminal Pasar Seni cari bus Rapid KL yang ke Subang."
"Iya Mbak. O iya Mbak ini hand phone-nya nanti
lupa."
"Ayo cepat.dikit."
Mereka berjalan menyusuri trotoar. Mari masuk
sebuah supermarket dan belanja makanan, sikat gigi,
odol, dan sabun mandi cair. Zul menunggu di depan
supermarket. Tak lama kemudian mereka kembali
berjalan. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai
di Pasar Seni. Mari langsung naik Rapid KL jurusan
Subang. Zul ikut di belakangnya. Setelah membayar
karcis mereka duduk. Bus berjalan perlahan.
"Jangan kaget, nanti kau akan tinggal di tengahtengah
tenaga kerja wanita. Artinya penghuni rumah itu
semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. Rumah
saya dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar
berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang pulang
ke Indonesia. Jadi saat ini dihuni empat orang. Kau nanti
bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya
ada kamar mandinya. Jadi kau tidak akan mengganggu
teman-teman saya yang lain."
Mari menjelaskan kondisi rumahnya. Zul mendengarkan
dengan seksama. la merasa sudah terlalu
banyak berhutang budi pada perempuan muda yang
baru dikenalnya itu.
"Mbak baik sekali. Entah bagaimana saya harus
membalas budi Mbak. Saya malu pada Mbak."
"Jangan berpikir begitu. Kita ini sebagai manusia
sudah semestinya saling tolong menolong. Iya tho.
Manusia tidak bisa hidup sendirian. Iya tho Dik. Apalagi
kita sama-sama orang Jawa, dan sama-sama orang Indonesia
dan sama-sama orang Islam. Sudah jadi kewajibanku
membantu adik. Ya anggap saja aku ini kakakmu."
"Iya Mbak. Terima kasih Mbak."
Rapid KL membelah kota Kuala Lumpur. Karena
kelelahan Zul tertidur. Cukup pulas. Mari mengamati
dengan seksama, anak muda yang duduk di sampingnya
itu. Wajah polos khas Jawa. Wajah yang tampak begitu
muda. Ada guratan derita di sana. Namun ada juga gurat
keberanian dan kenekatan. Mari memperkirakan umur
pemuda ini lima tahun lebih muda darinya. la telah
masuk dua puluh tujuh. la perkirakan Zul tak lebih dari
dua puluh dua.
Setelah satu jam berjalan akhirnya mereka sampai
di Subang. Mari membangunkan Zul. Zul bangun
dengan tergagap,
"Sudah sampai tho Mbak?"
"Sudah Dik."
Mari turun diikuti Zul.
"Kita perlu jalan kira-kira dua ratus meter baru tiba
di rumah. Tak apa ya?"
"Tidak apa Mbak."
Mereka berjalan memasuki kawasan Taman Subang
Permai. Selama dalam perjalanan Mari bercerita tentang
teman-temannya.
"Rumah saya rumah teras. Rumah teras artinya ya
rumah biasa seperti rumah-rumah di Indonesia yang ada
terasnya. Bukan rumah apartemen. Saya menyewa
bersama teman-teman dari orang China. Rumah itu ada
tiga kamar. Kamar paling depan ditempati oleh Linda
dan Sumiyati. Linda asli Sukabumi, ia lahir di Amsterdam.
Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati
jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan
membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus
jaga iman kalau berhadapan dengannya! Terus teman
sekamarnya adalah Sumiyati, asli Blitar. Sumiyati juga
sudah bersuami. Kamar tengah saya yang menempati.
Saya sekamar dengan Iin. Kami memanggilnya Iin.
Nama aslinya Mutmainah. la asli Pati. Iin sudah bersuami
dan punya dua anak di Pati. Kamar yang paling belakang
saat ini kosong. Yang tinggal di situ adalah Reni dan
Watik. Keduanya sedang pulang kampung. Mereka
berasal dari satu kampung di Kendal Jawa Tengah.
Sebetulnya kau bisa tidur di kamar Reni dan Watik yang
kosong. Tapi di kamar itu tidak ada kamar mandinya.
Lebih baik nanti kau tidur di kamar saya saja. Biar saya
dan Iin yang tidur di kamar Reni."
"Iya Mbak."
"O ya jangan kaget ya. Jika nanti mereka itu banyak
bicara. Mereka itu perempuan-perempuan yang paling
suka ngobrol dan banyak cerita. Jika kau tidak ingin
ngobrol kau nanti langsung saja tidur."
"Iya Mbak."
Lima belas menit berjalan akhirnya mereka sampai
di sebuah rumah, yang tak jauh berbeda dengan
perumahan di Indonesia. Hanya pintunya dirangkapi
dengan pintu besi. Mari langsung membuka pintu. Dan
begitu ia masuk ia langsung disambut histeris temantemannya.
"Oi, Mbak Mar pulang!" teriak seorang perempuan
muda yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos
oblong.
"Hei kau bawa teman ya Mar?" tanya perempuan
berdaster panjang.
"Iya. Ini, anggap saja adik saya. Namanya Zul. Dia
mungkin numpang cuma semalam saja/' jelas Mari.
"Adik apa adik?" ledek perempuan bercelana pendek.
Mari hanya tersenyum kecut.
"Kenalkan saya Zul, dari Demak."
"Saya Sumiyati, dari Blitar." Sahut perempuan
bercelana pendek.
"Aku Iin. Soko Pati Mas."1 Perempuan berdaster
memperkenalkan diri denganbahasa Jawa. "Yo anggep
wae, iki ning ngomahe dewe. Anggep wae ning ngomahe
keluargane dewe."2
"Inggih matur nuwun Mbak."3 Jawab Zul.
"Si Linda mana?" tanya Mari.
"Seperti biasa Mbak ke KL. Seperempat jam yang
lalu ia dijemput sama si Chong Tong," jelas Sumiyati.
"Tak ada kapoknya anak itu!" sahut Mari dengan
nada tidak suka.
"Yo mugo-mugo4 Gusti Allah membukakan jalan
baginya untuk taubat," lirih Iin.
"Amin!"tukas Mari.
"E... Mas Zul kok berdiri di situ saja. Silakan duduk
Mas. Monggo5 Mas." Sumiyati mempersilakan Zul untuk
duduk di kursi.
'Aku lin. Dari Pati Mas.
2 Ya anggap saja ini di rumah sendiri. Anggap saja di rumah keluarga sendiri.
3 lya, terima kasih Mbak.
4Semoga
5 Mari, silakan
"Ya Mbak terima kasih." Jawab Zul seraya duduk.
Sumiyati lalu bergegas ke dapur membuat minuman.
Sementara Mari dan Iin masuk ke kamar mereka. Mari
meminta Iin membantu merapikan kamar dan tempat
tidur. Dan menjelaskan sebaiknya Zul tidur di kamar
yang ada kamar mandi di dalamnya. Iin sepakat. Dengan
cepat mereka merapikan dan menyimpan pakaian dan
perkakas milik kaum perempuan yang tidak sepatutnya
dilihat kaum lelaki. Setelah mereka lihat rapi dan mereka
teliti tidak ada yang tidak patut, mereka kembali ke
ruang tamu dan mempersilakan Zul membawa tasnya
ke kamar.
Zul menurut. Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk
dan menutup pintu. Zul mencium bau wangi di kamar
itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya
dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja di
Batam. Zul mencopot jaketnya. Beberapa menit
kemudian kamarnya diketuk.
Ternyata Mari. Membawa nampan berisi teh hangat
dan satu piring roti donat yang tadi dibeli di supermarket.
"Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi ada
sikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamu
pakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkan
di kamar mandi." Jelas Mari sambil meletakkan nampan
itu di atas meja rias.
"Terima kasih Mbak."
"Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang.
Saya ada di sana."
"Iya Mbak."
"Baik. Selamat istirahat." Kata Mari dengan tersenyum.
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar
dengan pelan.
Zul merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.
Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengket
dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu
beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang
mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakan
seluruh syaramya. Barulah setelah mandi iabisa istirahat
dengan nyaman. Sesaat sebelum tidur kilatan senyum
Mari yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tibatiba
ia teringat perkataan Mari tadi siang,
"Jujur saja Dik ya, hampir di semua mata lelaki ada
binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah
menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan
untuk menjaga pandangan."
Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.


Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena
bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos
jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung
bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la
belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah
kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah
kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,
Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi.
"Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak
dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul
Tiga
eBook by MR.

setengah menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata
itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada
kedua-duanya.
"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat
ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang
ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.
Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia
kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"
"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di
rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi
setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas
Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang
ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan
memasukkan ke dalam mulutnya.
"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau
kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju
dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau
masih betah dan mau menginap barang satu dua hari
lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang
ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya
menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba
mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas,
sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin
menyahut.
"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini.
Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak
Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi
saran.
"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat
lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya
hubungi itu sekali lagi," kata Zul.
"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya,"
tukas Iin
Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari
rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun di
situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya.
Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat
dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidak
juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang ada
di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedang
tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati dua
perempuan itu telah rapi dan siap pergi.
"Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah,
siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi
meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dan
kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh ya
sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan saja
yang banyak. Maaf seadanya." Dengan lembut Iin
menjelaskan.
"O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia.
Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak biru
itu," sahut Sumiyati. "Kami pergi dulu ya. Yah demi
mencari sesuap nasi Mas." Imbuhnya sambil membuka
pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan
rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendak
membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan Proton
Wira berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang
perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil
itu. la melambaikan tangan pada pengendara mobil yang
bermata sipit.
"Baru pulang Lin?" sapa Iin.
"Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel," jawab perempuan
itu santai.
Zul melihat dari pintu yang masih terbuka.
"Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikitsedikitlah
Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!" Iin
menasihati dengan suara lembut.
"Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja.
Saya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus
istirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa
dial?" ketus Linda.
"Itu adik saya dari Demak," jawab Iin.
"Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut
santai saja," timpal Sumiyati.
"Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki.
Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari
Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidak
pernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di
sini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru
tahu rasa!" sengit Linda.
"Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baikbaik
ya Lin."
"Ya," jawab Linda singkat sambil beranjak masuk
rumah.
Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri
di samping pintu Linda menyapa datar,
"Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?"
"Iya," jawab Zul singkat.
Linda langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Zul masih berdiri di samping pintu memandang
lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengar
dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa
meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda
bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan
siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Linda
di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan ia
kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya
tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajak
berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek saja
terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikap
baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan
perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perempuan
tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan dari
pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat
kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar.
Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memutuskan
akan bersikap bagaimana.
"Mas pintunya ditutup saja. Di sini tidak lazim
membuka pintu lama-lama." Seru Linda dari kamarnya
yang hanya berjarak beberapa meter dari
tempat Zul berdiri. Secara reflek Zul menengok ke arah
suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Linda
merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya,
dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di kedua
kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia
langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke
dalam kamarnya.
Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah
hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda
kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari
kedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang
pada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. la
ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di
pagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang
berwajah Indo itu memperkenalkan diri sebagai
karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di
Kuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di
bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda
sebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya
pusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh
majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI.
Dari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda
memiliki cita-cita yang tinggi. Linda bercerita tentang
keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri
tempat ia dilahirkan, yaitu Belanda.
"Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin
membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak mengenalnya
sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan
sudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di
Belanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang
sepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh
ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya,
atau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada
ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan pada
saya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu.
Pokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya
ayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan
sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat mengandung
saya.
"Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibu
saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta dan
langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerja
di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Saya
akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2
di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses,
kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemui
ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercitacita
harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaan
besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Van
Braskamp.
"Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorang
Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budaya
Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda.
Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidak
meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna
kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya.
Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah saya
itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah saya
di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. Kalau
Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja di
Malaysia ini?"
Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkan
kepala lalu menjawab,
"Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti Dik
Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayai
suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua
anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh
oleh adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka
warung di kampung. Itu saja Dik Linda."
Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua
tangannya seraya berdoa,
"Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh Allah.
Amin."
Dalam hati ia ikut mengamini.
Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar
nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberi
nomornya dulu.
"Mbak ini nomor hope saya. Siapa tahu Mbak atau
teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan
tiketkesaya."
Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda.
Beberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di
Menara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda
mentraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak
shalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu
agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai
bidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada
keelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa
sayangnya pada Linda terbit.
Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan
alangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang
di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi.
Kerjanya cuma mengangkat telpon. Lihat layar
komputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang
harus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang
6 Semacam warung kelontong.
kasar dan pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu.
Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik,
pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi.
Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah
Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs dengan
penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana
dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh
dikerjakan oleh orang desa—dengan wajah pas-pasan—
yang hanya lulusan MTs seperti dirinya.
Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang
hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya
merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai,
sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dan
setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan.
Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri dan
kesucian diri adalah harta paling berharga setelah iman
kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapa
kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan cara
yang paling halus maupun cara yang sangat terangterangan.
Baik dengan sindiran maupun ancaman siksa
neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidak
ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan.
Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda
itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yang
turun ke bumi itu telah hilang.
Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda,
hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanya
Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnya
ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhfr
zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu
dikenal karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak
lama dikenal karena kedurhakaannya.
"Na'udzubillahi min dzalik. Ya Rabbi, jauhkanlah
hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas
dari hati hamba sedetik pun." Doanya dalam hati sambil
mengusap airmatanya.
"Kenapa menangis Mbak Iin?" tanya Sumiyati.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda.
Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk
menjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau
bertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di
akhirat."
"Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup
bersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca
Yasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan."
"Hus. Jangan bilang begitu Sum!" bentak Iin,
"Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih
mengakui Allah sebagai Tuhannya," lanjutnya.
"Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita
ini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar
dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan
kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Saya
takut tergoda Mbak."
"Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kaupupuk.
Kita harus sating menguatkan dan mengingatkan.
Kita harus sating mengingatkan bahwa
perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang
berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa
itu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang
kedua, ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang dikehendaki
setan. Jangan kita biarkan diri kita terperangkap
oleh kesempatan melakukan dosa besar itu.
Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada.
Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik.
Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak
yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan
berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan
kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab,
jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuat
untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diri
adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentuk
keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS
yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu dan
begitu saatnya pulang aku langsung pulang. Tidak
berlama-lama ngobrol di tempat kerja."
"Gitu Mbak ya?"
"Iya."
"Wah, untung Mbak kasih tahu. Si Karan itu
inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkan
sering ngajak nonton film."
"Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun."
"Iya Mbak."
"Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini
bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya,
seorang pria muda asal Singapura."
"Cerita detilnya bagaimana Mbak?"
"Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernah
menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng
seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda
yang menawan. Itu saja."
"Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!" teriak
Sumiyati.
"Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata
berbinar.
Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus
Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu
menurunkan dan menaikkan penumpang. Kedua
perempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut
ketinggalan.



Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar
Mari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar
yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya
melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari
Batam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang
sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia
masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu.
Apakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang.
Sehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah
ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti
menunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat,
sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah
sebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat.
Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga,
lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur
dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan.
Seperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mari
di Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia
akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat,
berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa
sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh
ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus lima
puluh ringgit?
Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu
Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas.
Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnya
bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apa
salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidur
seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar
itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar.
Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpa
terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baik
padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itu
siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan ia
telah mendapatkan informasi dan petunjuk yang
mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi.
Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan kedua
matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinya
buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Ia
langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurus
kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalu
mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikit
keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua
matanya.
Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur.
Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatu
yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat
setumpuk majalah dan koran. Juga ada beberapa buku.
Ia lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa
Inggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary
and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman
paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu
tertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China.
Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia
ambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game
Theory with Applications to Economics. Ia menggelenggelengkan
kepala. Orang yang bisa memahami buku
seperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka
halaman depan. Nama pemilik buku dan tanda
tangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI,
Kuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu.
Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti
itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang
selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah?
Apakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku
berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia
bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya
tertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang
memiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan
bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang
China? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang
menikah dengan perempuan Melayu.
Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi
bukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak
begitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya
jadi satu dengan majalah dan koran di samping meja ,
rias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang
punya dan yang membaca buku-buku ekonomi
berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. Melihat
tampang dan penampilan mereka sangat meragukan,
dan sangat tidak meyakinkan.
la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang
terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan
Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. la
bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama
kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap
kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan
cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar
karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengar
pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadi
memejamkan mata.
"Mas! Mas! Halloo! Buka dong!"
Itu jelas suara Linda.
"Iya. Sebentar!" sahutnya sambil bangkit menuju
pintu.
Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yang
sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saat
Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapannya
tampak segar, dan menawan. Linda menyungging
senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinya
belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang
ada di hadapannya.
"Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belum
kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Linda
Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang di
Kuala Lumpur." Sapa Linda sambil mengacungkan
tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul
langsung menjabat tangan itu sambil memperkenalkan
dirinya,
"E... nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari
Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?"
"Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda-
Belanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia.
O ya kapan Mas Zul sampai?"
"Tadi malam."
"Berarti bareng Mbak Mar?"
"Ya."
"Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin,
benar?"
Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab,
"Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh."
"Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi
sebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?"
"Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?"
"Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia
kelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya
istirahat."
"Jadi siang ini mau di rumah saja?"
"Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali.
Mau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku
tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan
untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita
makan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan
kan?"
"Belum."
"Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makan
di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau
minum apa? Aku bikinkan."
"Teh panas boleh."
"Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambil
nonton televisi."
"Baik."
Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil
makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di
sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak
lama kemudian Linda muncul dengan membawa
nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh
manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah
Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian
yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda
memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamar
tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di
tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku.
Linda meletakkan nampan di meja dan langsung
duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda tercium
jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan,
ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau.
"Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinya
sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak."
"E... iya Mbak."
Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai
menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuang
menata kembali pikirannya yang mulai berpikir yang
192 193
"Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak
ada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film
Hollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah.
Kalau nonton film sendirian rasanya tidak seru."
"Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya
sebenarnya ingin jalan-jalan."
"Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi
kurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau
Mas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku
ada kunci dobel. Sebentar ya."
Linda menghentikan makannya dan beranjak ke
kamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci.
"Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan
yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang
aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa
saja kunci ini selama Mas di sini."
"Terima kasih."
"O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana?
Sudah ada agen yang mengatur?"
"Belum tahu. Masih mencari."
"O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas
mau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi
kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan
ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung
jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?"
"Nanti saya pikirkan."
"Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang
banyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat
serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba
nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena ia
juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauh
lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satu
tahun saja dariku."
"Benarkah?"
"Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir.
Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halal
tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapa
tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. "
"Agama baru?"
"Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segala
yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku
sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha membebaskan
manusia untuk berenak-enak."
"Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enak
itu dilarang agama."
"Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas
tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu,
aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu."
"Wah itu namanya agama hawa nafsu."
"Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasa
enak, merasa bebas, merasa merdeka."
"Kalau di KTP apa agamamu?"
"Ya Islam."
"Lho kok Islam?"
"Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih
banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yang
sangat fanatik dengan agama Islamnya."
195
"Itu berarti kamu munafik."
"Kalau munafik itu enak kenapa tidak?"
Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya.
la tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti
itu dengan cara berpikir seperti itu.
"Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang
pekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita
yang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung
mendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya
disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya
adalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti
ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang
menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya,
profesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain
bisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan
dosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri.
"Profesi saya adalah menyenangkan orang-orang
penting. Orang-orang yang memerlukan hiburan.
Pekerjaan saya adalah menghiburnya. Tapi orang-orang
awam menyebut orang seperti saya ini sebagai pelacur. Ada
juga yang menyebut sebagai perempuan sundal. Macammacamlah
sebutannya. Tapi saya, berpegang pada
keyakinan saya, maka saya menyebut diri saya adalah
seniwati. Saya menjual jasa. Dan jasa saya adalah seni dan
keindahan. Itulah saya Mas. Bagaimana menurut Mas?"
"Aku hanya merasa kasihan padamu?"
"Kasihan, kenapa kasihan?"
"Entahlah, hanya merasa kasihan saja. Aku ini orang
awam juga. Tidak tahu apa-apa. Agama juga tidak tahu.
Hanya mendengar apa yang kaukatakan nuraniku
mengatakan orang seperti kamu ini sebenarnya bukan
hidup enak dan hidup senang. Tapi hidup dalam keadaan
sangat memprihatinkan. Dan perlu dikasihani."
"O ya?"
"Terserah. Cuma aku yakin, yang tadi bicara bukan
nuranimu tapi nafsumu. Nanti suatu ketika saat engkau
menderita sakit, coba aku ingin dengar apa yang akan
kaukatakan dan kauucapkan?"
"Kau ini jahat. Masak berharap aku sakit dan
menderita."
"Kau salah sangka. Sama sekali aku tidak berharap.
Tapi manusia yang normal terkadang ada saatnya sakit
juga. Saat sakit itulah manusia lebih banyak berbicara
dengan nuraninya daripada dengan nafsunya. Lha saya
ingin tahu apa yang akan kaukatakan saat kau dalam
keadaan seperti itu. Apakah berarti saat kau sakit kau
sudah tidak beragama lagi. Karena rasa enak itu sudah
tidak ada lagi. Atau bagaimana?"
"Saya akan bertahan dengan agama saya. Saya
yakin dengan temuan saya."
"Yah kalau begitu, bagimu agamamu dan bagiku
agamaku."



Empat
Selesai makan Zul memutuskan untuk jalan-jalan ke
pusat kota. la merasa imannya tidak kuat jika di rumah
itu terus, dan berduaan dengan Linda. la menyadari
dirinya hanyalah pemuda biasa yang masih lemah
imannya. Yang masih sering kalah melawan hawa
nafsunya sendiri. Tingkat ketakwaannya belumlah
sampai pada tingkatan Nabi Yusuf yang mampu
menepis godaan Zulaikha. la merasa setan yang ada
dalam dirinya lebih kuat dari dirinya. Maka ia harus
mengambil tindakan penyelamatan dan waspada. Ia
tidak ingin membuat dirinya celaka. Ia baru sampai di
negeri orang. Mau tinggal di mana saja belum jelas.
Pekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke
mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam
situasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan
Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya,
"Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati
jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan
membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus
jaga iman kalau berhadapan dengannya!"
Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh
dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan
dipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari
api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan
menghancurkan.
"Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalanjalan.
Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah
terus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang
lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar," kata
Zul pada Linda.
"O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya?"
sahut Linda
"Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur
naik apa ya?"
"Tadi malam datang pakai apa?"
"Bus "
"Rapid KL ya?"
"Iya."
"Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam
turun dan naik bus yang sama."
"Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, Mbak
Iin, dan Mbak Sumiyati."
"Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudah
tahu nomor hp saya?"
"Belum."
"Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu?"
"Sudah."
"Ya sudah. Itu cukup."
"Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu."
"Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur
di bus ya," canda Linda.
Zul menjawab dengan senyum lalu beranjak
meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa
tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya,
sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasa
mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam,
maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan Kuala
Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat
suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu
tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutan
Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung
dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong preman
Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus
bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak
perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar berhadapan
dengan situasi apapun juga.
Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal
KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau ke
mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi
nama yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah
bertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan
telpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan
masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki
nomplok yang tiada terkira jumlahnya.
"Ini Pak Rusli ya?" tanyanya.
"Iya benar. Ini siape?"
"Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor
Bapak dari Pak Hasan Batam."
"O ya ya. Pak Hasan sehat ya?"
"Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisa
bertemu Bapak? Saya baru datang tadi malam dan tidak
banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya
perlu sedikit bantuan Bapak."
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu
Saudara. Adik sekarang di mana?"
"Di KL Sentral Pak."
"Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke
Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira
bicarakan segalanya dengan lebih leluasa."
"Apa tadi Pak, KTM ya?"
"Ya KTM, atau kereta listrik. Ingat ke Mad Valley! Turun
di Mad Valley. Saya memakai baju koko hijau lumut."
"Baik Pak. Terima kasih."
Tidak sulit baginya untuk naik KTM dan tidak sulit
untuk mencapai Mad Valley. Siang itu, ia merasa
bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak Rusli,
yang tak lain adalah seorang murid Pak Hasan saat belajar
di Padang. Pak Hasan pernah mengajar di sebuah
pesantren di Padang sebelum berdakwah di Batam. Pak
Rusli mengajaknya makan siang di restoran Saji Selera
yang letaknya tak jauh dari Mad Valley Plaza.
"Jadi yang mendorong adik ke Kuala Lumpur ini Pak
Hasan?"
"Iya Pak."
"Itu maknanya adik diminta untuk belajar. Menuntut
ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Hasan. Tapi adik tidak
akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan
bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau
tidak dicari dengan bekerja? Iya kan?"
"Iya Pak."
"Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yang
kuliah sambil bekerja. Nanti kau akan aku temukan
dengan mereka. Insya Allah mereka akan banyak
membantu. Terutama berkenaan dengan urusan
pendaftaran di kampus. O ya kaubawa ijazah kan?"
"Bawa Pak."
"Dulu kuliah di mana?"
"Di IKIP PGRI Semarang Pak."
"Jurusan apa?"
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pak."
"Ya ya ya. Gampang nanti bisa diatur untuk
dicarikan jurusan yang pas. Yang penting kau serius
lanjut kuliah kan?"
"Iya Pak."
"Bagus. Pak Hasan itu sebenarnya mendorongmu
untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya.
"Apa itu Pak?"
"Ilmu. Hanya orang-orang berilmulah yang akan
diangkat derajatnya oleh Allah. Banyak orang tidak
berilmu kaya, namun derajatnya tidak diangkat oleh
Allah. Tidak sedikit orang kaya yang jadi hina karena
kekayaannya. Sebab ia tidak memiliki ilmu bagaimana
menjadikan kekayaannya sebagai jalan beribadah dan
menggapai kemuliaan. Setelah ini kau akan aku bawa
ke rumah teman-teman mahasiswa. Agar kau kembali
hidup dalam barakah lingkungan para penuntut ilmu."
"Iya Pak."
Berulang kali Zul hanya menjawab: Iya Pak, iya Pak.
Agaknya Pak Rusli memperhatikan jawaban Zul.
"Kamu ini dari tadi kok cuma bilang; Iya Pak, Iya Pak.
Jawa betul kamu ini. Apa tidak ada kata-kata yang lain?"
"Mmm, aduh bagaimana Pak ya?"
"Sudah jangan dipikirkan. Ini hanya gurauan saja.
Ayo kita jalan."
"Iya Pak."
"Lha diulang lagi kan!" Seru Pak Rusli sambil
tersenyum lebar.
Zul langsung meringis. Ia jadi heran sendiri, kenapa
terus mengulang-ulang kata-kata itu pada Pak Rusli.
Namun suasana jadi sangat cair. Sikap Pak Rusli yang
low profile membuatnya seolah sudah lama mengenal
lelaki berumur empat puluhan itu. Padahal belum ada
tiga jam ia bertemu dengannya.
Keluar dari Saji Selera, Pak Rusli membawanya
masuk kampus Universiti Malaya. Zul terkagum-kagum
dengan keindahan dan kerapian kampus perguruan
tinggi tertua di Malaysia itu.
"Universiti ini masuk dalam jajaran 100 perguruan
tinggi terbaik dunia. Kau harus tahu itu. Semoga saja
kau nanti diterima lanjut S.2 di sini. Aku yakin orang
seperti kau akan meraih kecemerlangan di masa yang
akan datang." Ujar Pak Rusli menyemangati.
"Doanya Pak."
"Allah memberkati, insya Allah."
Setelah mengelilingi kampus Universiti Malaya, Pak
Rusli mengajak Zul shalat Ashar di masjid Akademi
Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnya
ke kawasan Pantai Dalam. Setelah keluar dari kawasan
kampus UM, di sepanjang perjalanan, tepatnya di
samping kiri, Zul melihat rel KTM. Sesekali ia berpapasan
dengan KTM yang melaju ke arah KL Sentral. Sepuluh
menit kemudian Pak Rusli memperlambat laju mobilnya.
Mobil itu memasuki daerah yang terkesan agak kumuh.
Setelah melewati jalan di bawah jembatan layang, mobil
itu belok kanan. Di hadapan Zul tampak apartemen putih
yang tinggi dan kusam.
"Inilah Pantai Dalam, banyak mahasiswa Indonesia
di sini. Kita akan berkunjung ke rumah salah seorang di
an tar a mereka."
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas ke arah
apartemen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan anak
muda yang gayanya khas Indonesia.
"Assalamu'alaikum. Geng, mau ke mana?" sapa Pak
Rusli
"Anu Pak mau beli minyak goreng," jawab anak
muda itu.
"Geng, kenalkan ini namanya Zul. Dari Demak. la
baru datang tadi malam," kata Pak Rusli memperkenalkan.
Anak muda itu langsung menyalami Zul sambil
memperkenalkan diri,
"Saya Sugeng, dari Purworejo Jawa Tengah. Selamat
datang di Kuala Lumpur Mas."
"Iya Mas. Terima kasih," jawab Zul.
"Namanya Zul ya? Zul siapa lengkapnya?" tanya
Sugeng lagi.
"Aslinya Ahmad Zul. Tapi teman-teman di SMA
sering memanggil Zul Einstein."
"Zul Einstein. Wah keren juga. Rencana mau masuk
UM?"
"Jika Allah mengijinkan."
"Nanti saya bantu, insya Allah."
"Terima kasih Mas Sugeng."
"Pak Rusli saya jalan dulu ya. Saya cuma sebentar
kok. Langsung ke rumah saja Pak. Di rumah ada si Arif
sama si Yahya," terang Sugeng.
"Baik Geng. Jangan lupa beli yang segar-segar ya,"
tukas Pak Rusli renyah.
"Beres Pak. O ya Pak jangan lupa lagi. Lantai sepuluh
Iho. Bukan lantai sembilan."
"O ya terima kasih. Namanya juga sudah tua sering
lupa. Ayo Zul kita jalan."
Pak Rusli dan Zul berjalan melewati samping
apartemen menuju apartemen berikutnya. Lalu masuk
lift yang mengantarkan mereka berdua sampai lantai
sepuluh. Keluar dari lift mereka berjalan ke arah kanan.
Di pintu flat tempat tinggal Sugeng dan teman-temannya
itu ada sriker bendera merah putih. Di bawahnya ada
tulisan: "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!"
Menandakan bahwa mayoritas penghuninya adalah
orang Indonesia dari Jawa.
Pak Rusli mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang
pemuda gempal berambut tipis. la hanya memakai sarung
dan kaos putih. Pemuda itu menyambut dengan senyum.
"O Pak Rusli. Silakan Pak."
Pak Rusli dan Zul masuk. Pemuda itu memperkenalkan
diri pada Zul. Namanya Yahya. Ia berasal dari Malang.
"Tesisnya bagaimana, Ya. Sudah selesai?" tanya Pak
Rusli.
"Alhamdulillah sudah Pak. Minggu depan submit,
insya Allah," jawab Yahya dengan wajah cerah.
"Langsung lanjut Ph.D., Ya?"
"Insya Allah Pak, tapi saya mesti laporan ke pihak
UIN Malang dulu. Semoga saja diijinkan untuk langsung
lanjut Ph.D. Doanya."
"Allah memudahkan insya Allah."
Akhirnya Zul tahu bahwa Yahya dulu kuliah di
Pakistan jurusan sejarah dan peradaban. Sepulang dari
Pakistan ia diterima jadi dosen di UIN Malang. Lalu
melanjutkan S.2 di UM, dan sebentar lagi selesai. Setelah
itu akan langsung melanjutkan S.3.
la juga tahu flat itu terdiri atas tiga kamar. Dua
kamar mandi. Dapur. Dan ruang tamu. Yang tinggal di
situ lima orang; Sugeng, Yahya, Arif, Rizal, dan Pak
Muslim. Yahya dan Pak Muslim sudah menikah.
Sedangkan yang lainnya masih bujang. Sewa flat itu
enam ratus ringgit per bulan, atau sekitar satu juta enam
ratus ribu per bulan. Baginya itu sangat mahal. Enam
ratus ringgit ditanggung oleh penghuni rumah itu yang
berjumlah lima. Sehingga masing-masing orang kena
beban 120 ringgit per bulan. Jika berjumlah enam, maka
masing-masing orang kena beban seratus ringgit.
Yahya juga bercerita, bahwa awal-awal di Kuala
Lumpur ia sempat bekerja mencuci piring di restoran
dengan gaji yang sangat mepet. Ia juga pernah kerja di
sebuah kedai foto copy. Bahkan ia pernah bekerja sebagai
tukang bersih-bersih WC di Gedung Putra World Trading
Centre atau biasa disingkat PWTC.
"Apa saja saya lakukan untuk bisa hidup dan
membayar uang kuliah. Meskipun diterima jadi dosen,
tapi saya belajar ini tanpa beasiswa. Saya dulu sempat
membawa isteri, tapi saya rasakan berat. Akhirnya
sementara ini isteri tinggal di Malang dulu. Semoga saja
nanti keadaan membaik. Dan saya bisa membawa isteri
lagi kemari untuk menemani membuat disertasi Ph.D."
jelas Yahya pada Zul.
"Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah.
Dan harus terus bergerak. Saya dulu awal-awal kuliah
di sini juga sama seperti Yahya. Hidup prihatin. Kerja
apa pun asal halal dan bisa membuat saya semakin kaya
saya lakukan. Alhamdulillah sekarang saya bisa
membuka usaha bekerjasama dengan orang Malaysia.
Cukup untuk menghidupi anak dan isteri. Begitu selesai
doktor saya langsung akan pulang ke Indonesia." Pak
Rusli menambahi.
Tak lama kemudian Sugeng datang. Dan Arif yang
tadi tidur, terbangun. Pertemuan itu jadi semakin hangat.
Semua memberi semangat pada Zul. Zul merasa
menemukan orang-orang yang baik dan tulus. Yahya
bahkan menawarkan agar Zul tinggal saja di flat itu dan
bisa tinggal satu kamar dengannya.
"Tapi kamar saya agak sempit. Bagi saya tidak
masalah dihuni dua orang. Jika hati dan jiwa kita lapang
maka semua akan jadi lapang." Ucap Yahya dengan
wajah cerah.
Tak ada keraguan bagi Zul untuk memutuskan
tinggal di flat itu bersama Yahya, Sugeng dan temantemannya.
Sore itu ia memutuskan untuk langsung
menginap di situ dan tidak kembali ke Subang Jaya.
Setelah mantap bahwa Zul tidak akan terlantar, Pak
Rusli mohon diri. Sebelum keluar pintu ia masih sempat
berkata pada Zul
"Saya akan coba mencari informasi. Jika ada
lowongan nanti saya beritahukan. Yang jelas optimislah,
bahwa Allah itu Mahakaya. Allah sudah mengatur jatah
rejeki hamba-Nya. Tergantung bagaimana hamba-Nya
itu memungutnya. Jika ada apa-apa. Perlu bantuan apaapa,
telpon saya saja. Tak usah sungkan ya Zul."
"Iya Pak. Terima kasih atas segala kebaikannya."



Malam itu Zul bertemu dengan seluruh penghuni flat
itu. la tidak merasa menjadi orang asing di rumah itu.
Malam itu juga ia mendapatkan saran-saran yang sangat
membantunya dalam menentukan langkah selanjutnya
di Malaysia. Semua yang ada di rumah itu ingin
memberikan bantuan semampunya.
Sugeng menawarkan diri untuk membantunya
mengurus pendaftaran di UM. Karena Zul masuk ke
Malaysia tanpa single entry maka urusan imigrasi pasti
akan sedikit ada masalah. Rizal yang sudah punya
pengalaman dalam masalah ini bersedia mendampingi
Zul jika nanti harus berurusan dengan masalah visa.
Yahya dan Arif akan membantu mencarikan informasi
kerja. Dan Pak Muslim, yang paling tua di rumah itu,
menawarkan sepeda motornya jika akan digunakan Zul.
Pak Muslim akan mengadakan penelitian di Sabah
selama tiga minggu. Berarti sepeda motornya bisa dipakai
selama itu.
"Ini masih bulan April. Awal semester bulan Juli.
Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Sebaiknya Zul daf tar
dulu saja. Selama tiga bulan bekerja sungguh-sungguh
agar bisa membayar awal semester. Yang pasti jumlahnya
agak lumayan. Besok kita lengkapi syarat-syaratnya. Dan
lusa kita masukkan berkas ke IPS.7 Untuk uang
pendaftaran yang 30 dollar itu biar saya talangi dulu.
Jadi, dua hari kita targetkan berkas sudah masuk. Setelah
itu baru konsentrasi cari kerja. Bagaimana?" Jelas Sugeng.
"Saya ikut saja." Lirih Zul.
"Coba lihat, mana ijazahmu? Kau bawa kan?"
7 IPS : Institute Postgraduate Studies.
Zul mengangguk dan mengambil tas hitamnya. la
keluarkan map berisi berkas-berkas pribadinya dari tas
itu. la berikan map itu pada Sugeng. Sugeng lalu
membuka dan meneliti dengan seksama. Ijazah SD
sampai S.l ada di situ. Sugeng lalu melihat ijazah S.l itu
dengan kening berkerut.
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ya?"
"Iya Mas." Jawab Zul pelan
"Pak Muslim, sini Pak!" Seru Sugeng pada Pak
Muslim yang sedang asyik menulis di depan layar
komputer di kamarnya. Pak Muslim langsung mendekat.
"Iya ada apa Geng?" tanya Pak Muslim sambil
membenarkan gagang kaca matanya.
"Zul ini, S.l-nya jurusan pendidikan bahasa Indonesia.
Sebaiknya kalau masuk S.2 UM di fakultas apa,
jurusan apa, Pak?"
Pak Muslim berpikir sejenak. Lalu berkata, "Lha Dik
Zul sendiri ingin masuk fakultas apa?"
"Fakultas pendidikan, Pak." Jawab Zul seraya
mendongakkan kepalanya ke arah Pak Muslim yang
berdiri di samping Sugeng.
"Kalau gitu ya masuk fakultas pendidikan saja.
Jurusannya, kalau saya boleh menyarankan sosiologi
pendidikan saja." Sahut Pak Muslim.
"Bagaimana dengan saran Pak Muslim, Zul?" tanya
Sugeng.
"Boleh. Saya sepakat."
Malam itu Zul merasa menemukan sctitik cahaya
yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa
depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang
baru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat
dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la
tetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja
membantu Pakdenya di Pasar Sayung sepulang sekolah.
la merasa bahagia saat itu, sebab banyak temantemannya
yang putus sekolah karena tidak ada biaya.
Mereka selesai SD langsung bekerja di sawah atau kerja
di pabrik-pabrik yang ada di Kawasan LIK Semarang.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam
keadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi
cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun
sebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa
takut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak
Pakdenya, orang yang merawatnya sejak kecil, meninggal
saat ia masih di bangku kelas 3 SMA. Sejak itu
ia seperti merasakan ketidakpastian hidup. Dengan
berusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan
SMA-nya bahkan bisa tetap kuliah. Dan selesai
juga kuliahnya. Namun selesai kuliah ia belum juga
mantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang membuatnya
merantau. Dari Semarang ke Jakarta. Lalu ke
Batam. Dan akhirnya ke Malaysia.
Dan malam itu, setelah ia bertemu dengan orangorang
yang berpendidikan dan tulus, ia banyak
mendapatkan pencerahan. Kisah hidup Yahya yang
begitu rendah hati mau bekerja apa saja saat menuntut
ilmu membuatnya kembali terlecut. Ia dulu, saat kuliah
di Semarang, juga pernah mengalami apa yang Yahya
alami. Saat kuliah ia pernah bekerja menjadi tukang
becak, kuli panggul di Pasar Genuk, satpam di LIK, dan
terakhir penjaga parkir di Pasar Johar.
Yang ia rasakan, bedanya Yahya dengan dirinya
adalah Yahya begitu mantap dan bahagia dengan apa
yang dilakukannya. Yahya menganggap hal itu bukan
beban, tapi suatu kenikmatan. Yahya memasukkannya
sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Tapi dia
selama ini bekerja, selalu saja menganggap sebagai
beban. Dalam hatinya selalu saja masih ada rasa kuatir
dan merasa tertekan. Dan malam itu ia mendapatkan
pencerahan yang membuatnya merasa lebih tenang.
Malam itu ia tidur dengan bibir menyungging
senyum optimis. Ia optimis telah menemukan jalan untuk
memperbaiki masa depan. Ia tidur dengan sama sekali
tidak mengingat Mari, Iin, Sumiyati dan Linda di Subang
Jaya.
Sementara di Subang Jaya sana, Mari berangkat
tidur dengan perasaan kehilangan. Entah kenapa ia
merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia telah mendapatkan
informasi pekerjaan untuk Zul. Dan ia pulang
dengan perasaan bahagia, sebab ia yakin Zul masih ada
di rumahnya. Dan ia akan memberikan informasi
pekerjaan itu pada pemuda itu. Ia akan melihat pemuda
itu bahagia lalu mengucapkan terima kasih padanya.
Namun ia kecewa saat ia dapati Zul tidak ada. Ia masih
berharap, malam itu Zul akan kembali ke rumah itu.
Namun ia kembali kecewa. Sampai pukul satu malam ia
menunggu Zul tidak juga muncul. Akhirnya ia tidur
dengan perasaan masygul.

0 comments: